alexametrics

Pendidikan di Zaman yang Tidak Menentu

Oleh SARAS DEWI, Dosen Filsafat UI
2 Mei 2021, 16:32:46 WIB

Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini masih berada di bawah bayang-bayang pandemi. Sekolah-sekolah masih kosong dari riuh peserta didik. Kampus-kampus pun masih menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh. Lebih dari satu tahun lamanya masyarakat menyesuaikan dengan sistem pendidikan nasional di hadapan deraan wabah.

TATANAN hidup saat ini memang berubah secara drastis, tidak terkecuali dengan pendidikan. Bukan semata-mata medium belajar-mengajar beralih wahana, lebih substansial lagi, makna pendidikan juga berubah karena wabah. Bagaimana tidak? Wabah ini merombak pilar-pilar kelaziman, bahkan masyarakat harus membiasakan diri dengan keterasingan ini. Hilangnya interaksi langsung, aktivitas pembelajaran yang begitu dinamis kini direduksi menjadi pertemuan daring yang kaku dan berjarak. Kelelahan tubuh dan mental karena harus terus memandang layar, tanpa kehadiran yang aktual. Sebagai seorang pengajar ilmu filsafat, saya menyadari bahwa nyawa dari pembelajaran filsafat adalah diskusi. Ada yang berbeda dari cara berdiskusi daring. Tidak ada ekspresi, cetusan, ataupun debat yang spontan. Segalanya tergantung kelancaran sambungan internet.

Melampaui keterbatasan ini, pembelajaran terus diselenggarakan. Saya kontemplasikan, apakah urgensi untuk melakukan rutinitas pembelajaran dalam kekelaman keadaan yang serba-tidak tentu ini? Terlintas di pikiran saya salah satu karya penting tentang pendidikan oleh seorang filsuf Spanyol bernama Jose Ortega y Gasset (1883–1955). Karya Ortega yang berjudul Mission of the University dipublikasikan pada 1930, memuat kritik tentang kondisi universitas di Spanyol kala itu. Meski demikian, saya mencermati relevansinya dengan kondisi krisis saat ini. Untuk Ortega, krisis mendorong terjadinya reformasi, begitu juga di ranah pendidikan. Ia mengusulkan terobosan penting tentang pendidikan tinggi. Ia berbicara mengenai keterhubungan antarilmu. Ia mempersoalkan keilmuan yang fragmentaris, yakni terpilahnya keilmuan menjadi bidang-bidang yang terpisah. Hal ini menurutnya menjadi problem besar dalam pendidikan tinggi.

Sebagai contoh, kegagapan ketika menghadapi wabah menunjukkan kelemahan dalam mencermati permasalahan secara utuh dan menyeluruh dari berbagai lini keilmuan. Pertentangan antara tujuan kesehatan dan ekonomi pada masa pandemi, misalnya, jelas adalah kesesatan dalam memahami persoalan. Wabah dalam skala global semacam ini mengharuskan kita untuk melihat persoalan dalam kerangka keilmuan yang transdisipliner. Artinya, harus ada kejelian untuk melihat irisan-irisan dalam lintas disiplin keilmuan seperti ilmu kesehatan, ilmu sosial dan ekonomi, hingga ilmu budaya. Metode transdisipliner mengintegrasikan berbagai ragam pendekatan keilmuan dengan tujuan untuk memecahkan permasalahan riil.

Kembali pada pemikiran Ortega, ia menolak segregasi antara sains teknologi dan ilmu sosial humaniora. Lebih utamanya ia mengkritik kemunculan spesialis-spesialis yang lalai melihat gambaran besar dari suatu problem. Ortega juga mengomentari posisi universitas yang menurutnya harus menjejakkan dirinya di tengah-tengah masyarakat. Ia menolak posisi universitas yang elitis dan jauh dari masyarakat. Apabila dikaitkan dengan peran universitas semasa pandemi, betapa fundamentalnya kampus-kampus beserta segenap ilmuwan dan periset untuk mengupayakan inovasi dan pelayanan kepada masyarakat.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads