
DISAPU PANDEMI: Para pejalan kaki melintasi Jembatan Westminster degnan Elizabeth Tower (Big Ben) sebagai latar kota London. Ibu kota Inggris itu menjadi tempat hidup berbagai manusia dari banyak penjuru dunia. (TOLGA AKMEN/AFP)
Novel-kamus ini diramu sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah jalinan cerita yang kuat, unik, sekaligus mengasyikkan.
---
ORANG bilang, cara terbaik belajar satu bahasa adalah dengan jatuh cinta kepada penutur asli bahasa itu. Melalui novelanya, Language, perempuan pengarang Tiongkok Xiaolu Guo mengungkapkan sebuah kisah menyentuh tentang pergulatan kultural yang dialami seorang perempuan asal Negeri Panda itu yang merantau ke Inggris bernama Zhuang Xiao Qiao.
Di tanah rantau, dia jatuh cinta kepada seorang pria Inggris dan menjalin hubungan intim dengannya sekaligus saling belajar memahami kata dan budaya. Terkadang terjadi salah paham yang mengundang kelucuan, bahkan pertengkaran. Namun, akhirnya berujung pada saling pengertian.
Jika mau diklasifikasi, novel yang menjadi bagian dari seri Vintage Mini ini bisa dibilang termasuk novel post-modern. Novel ini mengambil bentuk seakan-akan sebuah kamus. Dalam beberapa hal mengingatkan saya pada novel Kamus Khazar karya Milorad Pavic, pengarang legendaris Serbia.
Dalam Language, Guo meramu jurus novel-kamus itu sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah jalinan cerita yang kuat, unik, sekaligus mengasyikkan. Karakter Zhuang menjadi figur utama yang dominan sekaligus narator cerita atau karakter primer yang digambarkan tegar dalam menghadapi pertanyaan tentang identitas dan benturan kultural melalui salah paham bahasa yang terkadang terlihat lucu. Tapi, sebenarnya menguak banyak hal menarik dan mendasar, utamanya terkait persoalan lintas budaya.
Narasi Zhuang juga menyiratkan pergulatan kultural seseorang yang mempertanyakan identitasnya di dalam sebuah dunia yang asing, dingin, dan terkadang terasa kejam. Lebih jauh, kisah ini seakan-akan mendera kita dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang bahasa, identitas, dan benturan kultural.
Lewat novel ini, Guo yang juga seorang profesor linguistik di Universitas Tsinghua, Beijing, menampilkan dirinya sebagai salah satu pengarang Asia yang kritis mempertanyakan persoalan identitas dan layak diperhatikan. Novel yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa ini layak segera terbit dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia agar para pembaca sastra di dalam negeri bisa membacanya tanpa terhalang sekat bahasa. (*)
Photo

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
