alexametrics

Salam Nasional, Salam Pancasila?

8 Mei 2022, 05:54:57 WIB

Salam Pancasila berahim pada Salam Merdeka yang dipopulerkan Soekarno. Sayangnya, dimensi akar sejarah yang melatarinya cenderung terabaikan di buku ini.

MENGAPA mesti Salam Pancasila? Tidak Salam Indonesia, Salam Pergerakan, atau salam-salam yang lain?

Jawaban yang rasional-argumentatif dari pertanyaan ini, sebagaimana dikemukakan Yudian Wahyudi, kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), bahwa Salam Pancasila diadaptasi dari Salam Merdeka yang dipopulerkan Presiden Pertama Indonesia Ir Soekarno selang beberapa hari setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Kehadiran buku ini penting sebagai diskursus meski Khoirul Anam, penulisnya, lebih banyak mengeksplorasi (klarifikasi?) pernyataan-pernyataan kontroversial Yudian Wahyudi. Sementara dimensi akar sejarahnya, asal muasal munculnya Salam Pancasila yang lahir dari rahim pemikiran Soekarno, cenderung terabaikan.

Yang perlu dimengerti, Salam Merdeka sebagai salam nasional, kala itu, menjadi maklumat pemerintah tertanggal 31 Agustus 1945 dan resmi mulai diterapkan 1 September 1945. Pekik ini selalu digelorakan Soekarno dalam berbagai forum demi membangkitkan semangat rakyat Indonesia.

Artinya, Salam Pancasila sebenarnya bukan suatu hal baru. Tapi, argumen logisnya memang dinarasikan kepala BPIP, yang setahu saya sudah pernah ia lontarkan saat diwawancarai sebuah media online pada 12 Februari 2020.

Dan jika ditarik lagi ke belakang, Salam Pancasila pernah pula diperkenalkan oleh Megawati Soekarnoputri pada 12 Agustus 2017 dalam kapasitasnya sebagai ketua Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-KIP). Itu dia sampaikan saat memberikan sambutan di hadapan 500-an mahasiswa di halaman istana, yang juga dihadiri Presiden Joko Widodo beserta anggota-anggota BPIP.

Di buku ini, Salam Pancasila, menurut Yudian Wahyudi, dapat menjembatani pengucapan salam untuk agama-agama dalam sebuah forum yang dihadiri lintas agama. Sehingga selain memiliki unsur semangat persatuan dan nasionalisme, juga terdapat unsur fleksibilitas, tidak perlu dalam sebuah forum mengucapkan salam menurut agama masing-masing.

Yudian Wahyudi juga menegaskan bahwa Salam Pancasila tidak dimaksudkan untuk mengganti salam keagamaan, seperti assalamualaikum dalam Islam. Ini memang penting diklarifikasi agar tidak salah paham. Yudian Wahyudi, yang merupakan profesor bidang filsafat hukum Islam, menjelaskan bahwa Salam Pancasila disebutnya sebagai perbuatan adat.

Perbuatan adat, kata Yudian Wahyudi, dalam buku itu, dengan mengutip pendapat Imam Syatibi (Abu Ishaq al-Andalusi) menjadi ibadah jika diniati ibadah. Jadi, Salam Pancasila termasuk ibadah, tetapi bukan ibadah mahdoh. Salam Pancasila termasuk ibadah ghairu mahdoh, sehingga dengan demikian, redaksinya tidak harus seperti salam dalam ibadah mahdoh (halaman 96-97).

Muncul pertanyaan, jika memang Salam Pancasila itu diadaptasi dari Salam Merdeka, yang dipopulerkan Soekarno, apakah berarti ia (Soekarno) mengabaikan ungkapan salam yang lahir dari rahim agama? Tidak. Dalam dokumen tertanggal 24 September 1955 di Surabaya, Soekarno menyampaikan pidato kenegaraan di depan Kongres Rakyat Jawa Timur.

”Saudara-saudara sekalian! Saya adalah orang Islam dan saya keluarga negara republik Indonesia. Sebagai orang Islam, saya menyampaikan salam Islam kepada saudara-saudara sekalian, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sebagai warga negara republik Indonesia, saya menyampaikan kepada saudara-saudara sekalian, baik yang beragama Islam, baik yang beragama Hindu Bali, baik yang beragama lain, kepada saudara-saudara sekalian saya menyampaikan salam nasional, Merdeka!”

Apa yang diutarakan Soekarno di atas sungguh menjadi kritik dan masih relevan dengan situasi keindonesiaan kita hingga sekarang. Karena itu, penting menjadi evaluasi dan refleksi diri sebagai individu, masyarakat, dan bangsa.

Sampai di sini, dapatlah dimengerti bahwa ide Salam Pancasila sebagai salam nasional memiliki akar sejarah yang berkesinambungan, dari Soekarno, Megawati, hingga Yudian Wahyudi. Hanya, apakah penggunaan Salam Pancasila sebagai salam nasional ini hendak dipakai segenap masyarakat sebagai sesuatu yang natural, anjuran, atau imbauan biasa, atau mungkin perlu dimasifkan melalui keppres atau perpres atau inpres atau apa? (*)


  • Judul: Salam Pancasila sebagai Salam Kebangsaan: Memahami Pemikiran Kepala BPIP RI Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD
  • Penulis: Khoirul Anam
  • Penerbit: Suka Press
  • Cetakan: Desember 2021
  • Halaman: xix + 141 halaman

 

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads