
COVER BUKU
Oleh TOMI ANDRES ISMAEL, Penyair
---
Kemampuan Rae dalam mengolah pengaruh dalam puisinya bukan hanya melalui satu penyair, melainkan dari banyak gaya penulisan penyair. Bahkan dia mampu menggabungkan satu penyair dengan penyair lain.
EKSPERIMEN mungkin kembali merepresentasikan generasi muda dalam berkarya, tidak terkecuali dalam berpuisi. Ini saya temukan saat menghadiri diskusi puisi di Atelir Ceremai, Jakarta Timur, yang membahas dua kumpulan puisi dalam bentuk stensil dan diterbitkan Koburi Books pada Maret lalu: Kruid karya Rae Fadillah dan Memory Loss karya J. Martin.
Namun, dalam tulisan ini saya hanya akan membahas Kruid. Bagi saya, karya Rae Fadillah itu lebih menarik perhatian saya dalam pengolahan gaya penulis para penyair terdahulu.
Eksperimen dalam mengoplos gaya kepenyairan penyair terdahulu sangat kuat muncul di dalam Kruid. Misalnya pada puisi terakhir dalam Kruid yang berjudul Seperti Hantu Imigran dari Kartago (halaman 33) yang dengan jelas mencomot judul dan gaya puisi Seperti Kartago dari Mario F. Lawi.
Tapi, menjadi menarik ketika Rae mampu menggambarkan Kartago secara lebih efektif dan menyindir Mario sebagai penyair yang memengaruhinya melalui larik, ”seperti hantu imigran dari kartago kita tak lagi sama peta…” seolah Rae menganggap dirinya dan Mario adalah hantu yang berbeda. Sebab, arah ”pelayaran” dalam kepenyairan yang berbeda walaupun dari asal ”pelabuhan” yang sama: Kartago, sebagai intertekstualitas sejarah dan literatur Latin klasik yang membangun unsur naratif di kedua puisi.
Kemampuan Rae dalam mengolah pengaruh dalam puisinya bukan hanya melalui satu penyair, melainkan dari banyak gaya penulisan penyair. Bahkan dia mampu menggabungkan satu penyair dengan penyair lain.
Sebut saja dalam puisi Selamat Ulang Angkasa (halaman 30), ia memutarbalikkan teori penciptaan putar balik ala puisi Salju Subagio Sastrowardoyo dengan latar naratif Manusia Pertama di Angkasa Luar dan digabungkan dengan metafora yang cacat logika ala Afrizal Malna, seperti dalam larik berikut: ”Subagio selalu mengingatkanku tentang orang pertama di angkasa luar; seperti dunia tanpa sepi— semuanya ramai menjadi kata-kata meteor yang bertelor di sangkar seekor bajingan.”
Terdapat logika metafora yang sulit untuk dibayangkan seperti bagaimana caranya meteor memiliki kata-kata lalu bertelur di dalam sangkar seekor bajingan? Sebuah imaji yang sulit divisualisasikan, tapi tetap mempertahankan intelektualitas dalam kehalusan gaya bertutur yang menyimpan rasa geram nan depresif seperti Subagio.
Rae juga mampu memainkan ironi dalam referensi intertekstualitasnya dengan menggabungkan gaya Zeffry J. Alkatiri dan Toeti Heraty dalam judul Kruid (halaman 9). Ia menggunakan ingatan kolektif yang berupa sejarah penjajahan Indonesia oleh Belanda yang diketahui mayoritas masyarakat Indonesia selama 350 tahun. Kemudian dituturkan secara jelas dengan diksi sederhana, tetapi ada permainan ironi yang tersembunyi seperti Toeti Heraty –ia menggunakan sudut pandang orang ketiga dari kacamata orientalis, yakni para kolonial sebagai penjajah.
”Di sebelah sini kami menjual kehilangan yang kalian cari untuk disimpan selama lebih dari 350 tahun, Tetapi di sini, Kami tetap tak punya apa-apa selain tanah yang dijajah kelapa dan kepala tua.”
Puisi ini cerdas dan sinis dalam menyindir Belanda sebagai yang pernah menjajah dan memberikan manipulasi sudut pandang terhadap bangsa Indonesia untuk berpikir bahwa yang sebenarnya menjajah mereka selama 350 tahun ada pada diri mereka sendiri. Yakni, konservatisme tradisional yang dibuktikan melalui larik, ”Di sebelah sini kami menjual kehilangan yang kalian cari untuk disimpan selama lebih dari 350 tahun.”
Seolah apa yang Belanda renggut dari sejarah panjang Indonesia hanyalah rempah-rempah, ”selebihnya” Indonesia dijajah seperti seseorang di tengah pulau dengan tanah gersang bekas jajahan yang terdapat ”oase” sebagai kemerdekaan yang dicari setelah perjuangan panjang. Lalu menemukannya di bawah pohon kelapa yang ternyata semua hanya fatamorgana dari apa yang disajikan para kepala tua, yang saya tafsirkan sebagai para penguasa yang tetap menjajah rakyat Indonesia secara terselubung.
Peninggalan jajahan pun masih tersimpan, setidaknya dalam pemilihan judul Kruid yang berasal dari bahasa Belanda dan berarti rempah-rempah dalam bahasa Indonesia yang ternyata juga berperan sebagai ironi. Seolah lidah Rae sebagai penyair juga merasakan efek samping dari sejarah panjang penjajahan terhadap kesusastraan Indonesia.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
