
COVER BUKU
Mustafa Akyol, sembari meloloskan diri dari jebakan nostalgia, berupaya menghadirkan nuansa keberagaman corak berpikir yang menandai dan mendominasi setiap fase sejarah peradaban Islam.
FRASA ”kembali ke …” dengan pelbagai atribusi yang mengikutinya masih terus bergema di dalam masyarakat muslim. Mulai seruan ”kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah”, disusul ajakan ”kembali ke era keemasan Islam”, hingga undangan ”kembali ke nalar, kebebasan, dan toleransi” seperti tampak pada judul buku ini.
Setelah 14 abad meniti garis waktu dan kian menjauh dari masa lalu, mengapa para sarjana muslim terdorong mengajak muslim hari ini putar balik ke masa-masa yang dulu? Ada apa dengan keberislaman pada kurun itu?
Mustafa Akyol, sembari meloloskan diri dari jebakan nostalgia, berupaya menghadirkan nuansa keberagaman corak berpikir yang menandai dan mendominasi setiap fase sejarah peradaban Islam. Bertolak dari kemenangan telak teologi Asy’ariah serta implikasi terjauh yang ditimbulkannya, Akyol menggarisbawahi kerugian besar muslim yang menyorongkan mereka ke dasar jurang ketertinggalan dari negara-negara Barat.
Monopoli Teologi
Asy’ari di dunia muslim Sunni mengakibatkan akal, rasio, dan nalar dikemas ke dalam peti terlarang sehingga kemajuan Barat yang berasal dari penggunaan aktif ketiganya tidak mendapatkan saingan sama sekali dari dunia Islam.
Akyol menyajikan dinamika historis peran akal (ra’y) yang dari waktu ke waktu kian melemah untuk menunjukkan besarnya pengaruh teologi Asy’ariah terhadap pembentukan hukum Islam secara struktural. Sebagai contoh, kelompok Ahl Al-Ra’y yang berkembang di Basrah dan Kufah pada abad ke-2 H semakin terdesak dan akhirnya kalah pengaruh dari Ahl Al-Hadîts yang cenderung tekstualis melalui tokohnya yang paling menonjol, Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali (halaman 127–129).
Kaum rasionalis yang dimaksudkan Akyol di atas bukanlah Mu’tazilah meski beberapa bab buku ini mencurahkan perhatian besar terhadap aliran yang biasanya dikontraskan dengan Sunni tersebut. Kaum rasionalis di sini merujuk kepada ulama fikih yang dalam melakukan ijtihad banyak bergantung pada pendayagunaan rasio dalam memahami teks-teks Alquran maupun hadis. Tokohnya yang paling terkemuka tentu saja Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi.
Mazhab Hanafi, yang secara teologis berinduk kepada Maturidi dan dalam masa yang panjang menjadi anutan resmi kekhalifahan Utsmani, pada akhirnya tetap kalah dari dominasi Asya’ari di dunia muslim. Hingga akhirnya, istilah ra’y hampir secara otomatis diasosiasikan secara kuat dengan bentuk penalaran yang sewenang-wenang, liberal, dan tanpa rambu-rambu sehingga harus ditinggalkan.
Di beberapa bagian, bagi pengikut setia Asy’ari, undangan Akyol untuk kembali ke nalar ini sangat mungkin terkesan insinuatif dan dapat memancing amarah karena kadang-kadang menyasar langsung sendi pokok teologi Asy’ariah tanpa kompromi. Namun, jika dibandingkan dengan buku sebelumnya, Islam without Extremes: A Muslim Case for Liberty (2011), kali ini Akyol lebih positif dalam memandang kekuatan Islam, terutama melalui lensa kelompok rasionalis yang sebenarnya memiliki akar panjang di dalam sejarah Islam itu sendiri.
Beberapa bagian lainnya, jika dicermati dengan kepala dingin, Akyol tampak berusaha menumbuhkan kesadaran internal muslim bahwa kadang jarak antara ideal ajaran Islam dan praktiknya di dunia muslim tetap merenggang justru dipicu ketidaksiapan mental kolektif pemeluknya.
Contoh yang sangat benderang adalah perbudakan. Tak terhitung jumlah ayat atau hadis yang menyeru pembebasan budak. Namun, kata Akyol, yang sangat disayangkan, gerakan untuk menghapus perbudakan sebagai kejahatan sosial tidak dimulai di Istanbul atau Kairo, melainkan di London pada 1830-an (halaman 108).
Kenyataan tersebut tidak bisa kita tolak. Betapa pun keras kritiknya terhadap Asy’ariah, yang saya kira lebih banyak menimbulkan resistansi daripada refleksi, suara Akyol layak didengar—bahwa seberapa pun progresif Islam mempromosikan suatu nilai moral, ia tidak akan berkontribusi apa pun pada kemajuan jika tidak diikuti keterbukaan pikiran para pemeluknya untuk mewujudkannya ke dalam gerak sejarah. (*)
---
---

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
