Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 April 2023 | 23.00 WIB

Jama’ Taksir

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Kau ingat, gara-gara muntah saat membersihkan toilet itulah Sanot jera dan menjadi anak paling rajin bangun sebelum pukul 3 dan menjadi alarm kita berdua. Sanot juga yang sering membantu kita saat kesulitan memahami pelajaran dan menjadi penasihat ketika kita melanggar aturan kepesantrenan.

Tinggalkan ke-nyai-an dan ke-lora-an kalian di rumah. Jangan bawa ke sini! Dawuh kiai sepuh yang dijadikan pengumuman di atas pintu gerbang pondok dan menjadi pegangan para santri membuat kami terlambat menyadari status ke-nyai-anmu.

Meskipun berbeda status sosial, persahabatan kita terjalin begitu saja dan mulai terbiasa memanggil nama masing-masing dengan sekenanya.

Akan tetapi, sekarang kita sudah bukan santri yang sering antre di depan toilet setiap pagi dan terbiasa mendengar teriakan dan gedoran pintu; ”Woi, bawa toilet dari rumah kalau mau lama-lama!”. Kita sudah sama-sama membangun keluarga dan meniti jalan nasib yang berbeda-beda dengan ragam persoalan di dalamnya.

Waktu dan jarak sering jadi dinding yang kian pekat. Terbukti, sejak menikah, hanya dua kali kita bertemu dengan Sanot, pas acara pertemuan alumni. Kau masih ingat saat dia bilang bahwa suaminya tidak mengizinkan bepergian jauh jika dirinya sedang tidak di rumah? Itu sebabnya Sanot jarang menghadiri pertemuan alumni yang biasa diadakan pada bulan Syawal, merangkap halalbihalal. Padahal jarak tempuh dari rumahnya ke pondok tidak lebih dari 10 kilometer.

Kadang kupikir, pernikahan memang menjadi penjara suci kedua bagi perempuan setelah pondok pesantren.

Sedangkan kini kau sudah menjadi Nyai Lathifah, istri seorang kiai penceramah sekaligus pewaris tunggal pondok pesantren asuhan orang tuanya. Bukan Ipeh yang dulu sering kesulitan mengenali jama’ taksir karena bentuknya yang tak beraturan dan tidak ada tanda khusus, hingga suara Sanot sering meninggi dengan sendirinya setiap kali memberi penjelasan yang sama. Kau sudah menjadi Nyai Lathifah yang sibuk mendidik santri, menerima tamu, dan menghadiri undangan. Sudah menjadi seorang ibu dari 10 putri yang kesemuanya tumbuh besar dalam asuhan santri abdi. Bukan Ipeh yang dulu sering berdiri selama hampir tiga jam gara-gara gagal menyetor hafalan.

Dengan posisimu saat ini, tentu aku harus menjaga sikap. Harus belajar menahan kesal.

”Sudah berapa bulan?” kulirik perutmu sekilas. Dengan lingkar dada mencapai 130 cm, lingkar pinggang 124 cm, dan panjang gamis kurang dari 125 cm, hamil atau tidak hampir tidak ada bedanya.

”Baru empat bulan,” setangkup senyum menggaris tipis di bibirmu, seolah ingin menjelaskan bahwa semua akan baik-baik saja. Sebagaimana saat akan menghadapi ujian menjelang haflatul imtihan padahal malam sebelumnya telah dikalahkan oleh kantuk hingga tidak semua materi ujian berhasil kaukuasai.

Kutarik napas dalam, lalu mengembuskannya diam-diam.

Bayi terakhir yang kaulahirkan mungkin baru menginjak 12 bulan. Seingatku, waktu itu baju Lebaran-mu yang kujahit belum sempat diambil ketika keburu melahirkan, menjelang malam 27 Ramadan, saat wali santri berbondong-bondong menghaturkan nasi ketan dan kolak pisang.

Kukira bayi itu akan menjadi putri bungsu. Ternyata....

***

Dengan saksama kuperhatikan gulungan kain yang berjajar di rak displai dan yang tersampir pada boneka, lalu memeriksa kualitas seratnya dengan sentuhan. Ada cotton combed, cotton silk, chambray, jersey, viscos, wol merino, chasmere, dengan aneka warna, baik yang polos maupun bermotif.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore