
COVER BUKU
Saya pernah seperjalanan dengan Handry ke Ubud atau muhibah sastra ke Sabah, Malaysia, sebelum ia dinyatakan sakit. Sejak itu ia tak lagi ”pelesir” ke mana-mana. Namun, kami tetap berkomunikasi melalui jaringan pribadi.
Ternyata semasa di ”ruang tunggu” justru penyair ini makin produktif. Bahkan memenangi lomba cipta puisi esai se-Asia Tenggara, menerbitkan buku prosa dan puisi, dan terlibat di sejumlah antologi bersama.
Buku puisi Ruang Tunggu terbitan Kosa Kata Kita bekerja sama dengan Rumah Kertas 2023 ini bukti bahwa ”sakit” tak membunuh kreativitas. Handry ingin melawan ruang tunggu kematian dengan cara menyalakan daya hidup. Ya, ”daya hidup/adalah keberanian/mulia!” (”Quotes”, 179).
Puisi ”Quotes” yang ditulis tangan ini seakan sebagai keriangan penyair Handry yang sedang berada di ruang tunggu, dari penantian tak pasti/sekarang atau entah nanti/kita harus kembali// (”Selekas Ini”, 4).
Banyak puisi Handry TM bicara maut atau setidaknya tengah menanti antara maut dan sehat di tempat bernama ruang tunggu. Di ruang tunggu itu pula sang penyair menyaksikan serekan di situ yang lebih dahulu berpulang/pergi. Dan, diam-diam Handry merasakan ”... entah nanti/kita harus kembali”.
Betapa pedih nasib orang-orang yang berada di ruang tunggu. Saya merasakan sangat dekat, bahkan seperti mengalami, dan berada di ruang tunggu itu pula.
Intuisi dan imajinasi penyair ini begitu tajam. Ia mengendus daya hidup sekaligus ”betapa sendiri/di alam yang terus berganti” (halaman 5) untuk ”entah nanti kita harus kembali” (halaman 4).
Kembali kepada Ilahi itu pasti. Seperti dijanjikan Tuhan bahwa setiap yang bernyawa pasti mati. Tetapi, dalam perjalanan menuju kematian, seseorang bisa mengisinya dengan kebajikan dan kreativitas. Kedua ini yang akan tercatat dan dikenang.
Buku Ruang Tunggu: Puisi-Puisi 2018–2022 karya Handry TM ini menjadi catatan sekaligus kenangan ihwal perjalanan penyair dalam empat tahun menanggung sakit karena gagal ginjal.
Handry TM wafat pada 24 Februari 2023 pada usia 60 tahun. Ternyata ia mempunyai puisi bertajuk ”Februari” (halaman 24). Membaca puisi ini, saya merinding. Seakan ajal sudah tak lagi ada jarak!
Simaklah puisi ”Februari” Handry ini.
februari masih membasah, lihatlah dari jendela
aspal menghitam lembab, hujan berserat-serat
jatuh di ujung daun, di jalan khatib sulaiman
taksi merambat dari bandara kota

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
