Logo JawaPos
Author avatar - Image
02 April 2023, 17.17 WIB

Monolog Ken Dedes

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Aku dituduh bersekongkol dalam kasus pembunuhan Tunggul Ametung, suamiku. Aku dituduh berkomplot dengan para pengacau untuk mengudeta, menggulingkan pemerintahan Sang Akuwu Tumapel yang adalah ayah dari anak yang sedang kukandung. Malah ada yang mencurigai akulah dalang pembunuhan itu.

AKU tak menggubrisnya. Membiarkan semua berprasangka, meliarkan pikiran masing-masing. Asistenku, maksudku abdiku, jengkel karenanya. Ia tak terima dengan tuduhan itu, lalu mendesakku agar membuat sanggahan. Aku tak mau. Untuk apa? Mereka semua hanya berani bicara di belakangku dan menuduhku secara diam-diam, mengapa aku harus membuat sanggahan terang-terangan?

Kukatakan padanya bahwa aku adalah cermin. Yang memantulkan gambaran siapa pun yang berhadapan dengan aku. Aku adalah cermin yang menangkap dan memantulkan bayangan laki-laki Tunggul Ametung orang paling berkuasa di Tumapel. Seperti yang aku duga dulu, ketika aku baru sebatas mendengar namanya sebelum bertemu langsung, aku sudah membayangkan seperti apa orangnya.

Memang benar dugaanku. Tunggul Ametung, suamiku itu, tidak cakap memimpin negeri. Sudra yang kelewat beruntung karena disatriakan oleh Kertajaya penguasa Kediri supaya Kediri bisa mendikte dan memeras Tumapel. Ah.. pendek kata, Tunggul Ametung adalah boneka, sapi perah yang harus terus-menerus mendatangkan kekayaan Kediri tanpa mereka bersusah payah.

Lalu dari mana suamiku mendapatkan emas, perak, ternak, hasil tani untuk mengirim upeti ke Kediri kalau bukan memeras rakyat Tumapel? Itulah satu-satunya alasan Kertajaya menyerahkan Tumapel kepada Tunggul Ametung. Dia mau memeras rakyat dengan meminjam tangan lain. Bagi Kediri, Tumapel tidak butuh pemimpin cerdas supaya Kediri mudah membuat Tumapel tetap tunduk. Bukankah dengan begitu Kediri bisa menguasai Tumapel semau-maunya? Tetapi mana bisa rakyat terus-terusan diperbudak begitu?

Karena memang bisanya merampas, begitu pula cara Tunggul Ametung mendapatkan aku. Ia menculik aku ketiku ayahku, Mpu Parwa, sedang tak ada di rumah. Ayahku adalah Brahmana yang telah lama menyesalkan cara dan gaya memimpin Akuwu Tumapel itu. Ayahku sedang ada pertemuan para Brahmana di suatu tempat rahasia. Aku sendirian di rumah. Saat itulah direnggutnya aku, dilarikannya aku menuju Pakuwuan dan begitu saja aku dijadikan prameswari. Aksi sepihak yang menunjukkan kualitasnya hanya segitu sebagai pemimpin.

Rupanya laki-laki penguasa Tumapel itu bukan seorang yang berpengetahuan. Padahal seorang pemimpin harus berpengetahuan, berwawasan, paham hukum tata negara, membaca babad serta kitab tuntunan, syukur-syukur menulis. Tetapi jangankan menulis, membaca Sanskerta saja ia tak bisa. Tak paham dia tentang kitab-kitab pengetahuan yang ditulis dalam Sanskerta.

Aku masih ingat waktu itu. Saat dia gelisah, terganggu tidur karena hampir setiap waktu mendapat laporan tentang kerusuhan yang berkobar di beberapa desa. Yang paling berat adalah saat kiriman upeti untuk Kediri dibegal perusuh. Seperti biasa, Tunggul Ametung menyalahkan keadaan, menyalahkan prajuritnya, menyalahkan para penggawa Tumapel. Sudah aku katakan bahwa ia perlu belajar, perlu membaca kitab-kitab pengetahuan. Perlu berlatih bijaksana agar cakap mengurus negeri. Kalau dia bijaksana, dekat dengan rakyat, dan cakap mengurus, pasti rakyat tidak memberontak atau mengacaukan negara karena rakyat merasa diayomi dan justru merasa harus turut melindungi negeri.

Tetapi dia malah mengatakan bahwa baca-baca rontal itu pekerjaan kaum lemah. Tidak mahir kanuragan. Tidak hebat di medan pertempuran. Masak mau bertempur harus baca rontal dulu. Kusanggah dia: kalau hanya mengandalkan keberanian bertempur ya menjadi prajurit saja, jangan jadi pemimpin. Dia tersinggung, lalu mengataiku: ”Seperti itulah kalau kamu terlalu banyak membaca, berani menentang suami!”

Nah kan.. mentok lagi. Ujung-ujungnya pasti berkata begitu. Akhirnya aku mengalah, aku membiarkan berlalu begitu saja karena aku adalah cermin.

Ada kejadian lagi. Saat itu pancaroba datang terlalu cepat. Artinya, Tumapel harus segera mengirim upeti ke Kediri. Utusan berangkat. Wajah suamiku tampak lega. Setidaknya, satu kewajiban yang ditetapkan Kertajaya sudah ia lakukan.

Dia menyusulku di taman Pakuwuan saat aku sedang membaca rontal. Dia tampak tenang dari sebelumnya. Matahari baru saja terbenam dan pendar sinarnya memancar di kolam penuh kecipak ikan-ikan. Dia duduk menyebelahiku, lalu kami terlibat obrolan. Ia berkata-kata tentang kejayaan Tumapel, tentang masa yang akan datang, dan tentang si pewaris takhta Tumapel yang sedang kukandung.

Kami bertukar pikiran. Bermacam-macam aku dan dia bicarakan, lalu berdebat hingga meruncing. Tatapannya sedingin tombak ketika aku menasihati dia, jangan khianati rakyat, sebagai penguasa harusnya bisa menguasai diri untuk tidak berbuat semau-maunya dan membuat rakyat sengsara. Setajam keris dia mengatakan tugas rakyat jelata memang harus berbakti dan menuruti penguasa. Kok dia lupa kalau sebenarnya dia itu sudra! Saat kutanya, mana silsilahmu? Dia menjawab persetan dengan silsilah. Aku memang peduli dengan silsilah karena aku menyukai riwayat dan sejarah. Lebih lagi, aku menanyakan itu karena ingin mengingatkan siapa dirinya supaya jangan lupa ia pada kaumnya, rakyat kecil.

Ketika aku mau sedikit lagi mendebatnya, tiba-tiba prajurit penjaga gerbang datang mengabarkan bahwa ada yang ingin menghadap. Rupanya yang menghadap adalah salah satu utusan pengirim upeti. Dia mengabarkan kalau sekali lagi upeti dibegal di perbatasan, semua lenyap. Tunggul Ametung murka.

Rapat digelar mendadak. Lalu ia memutuskan barang siapa sanggup menangkap perusuh, barang siapa mampu memadamkan kerusuhan yang terjadi di Tumapel, dia akan diangkat menjadi tangan kanannya, orang kepercayaannya. Kepadanya akan diberi kedudukan dan harta kekayaan. Kuhela napas. Cara dia memecahkan persoalan selalu saja dangkal. Sekali lagi dia tidak menggeledah sumber persoalan. Wong mengatasi persoalan kok dengan menggelar sayembara. Kuelus perut dan kudaras doa agar anak yang kukandung kelak menjadi orang berhikmat dan bijaksana.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore