Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Juli 2023 | 15.51 WIB

Tak Ada Dewa di Puncak Gunung

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

---

Muda berkelana, tua bercerita, tulis sebuah akun Instagram. Takarir itu dibubuhkan pada foto pendakian gunung. Akun lainnya menyertakan kata-kata bijak—entah karangan si pengguna atau cuma saduran.

BEBERAPA tahun belakangan, naik gunung kian digemari anak muda sebagai ajang eksistensi diri, bahkan jalan hidup. Tetapi jalan hidup tersebut tak selalu lempang. Ia bisa membawa seseorang ke rahang maut.

Sebagaimana yang baru-baru ini terjadi pada seorang mahasiswa pendaki. Dia meninggal di Gunung Lawu akhir bulan lalu. Gadis malang itu diduga mengalami hipotermia dan tak bisa diselamatkan. Kabar tersebut viral di media sosial. Di antara unggahan lain yang meromantisasi pendakian, berita tersebut menjadi pengingat kepada siapa pun tentang betapa liar dan mengerikannya gunung. Namun, kematian pendaki bukan persoalan baru yang lantas membuat tren naik gunung surut. Jadi, apa yang sebenarnya orang-orang cari di atas sana?

Mulanya, pendakian gunung hanya dilakukan untuk kepentingan-kepentingan seperti ritual, pemetaan, pengamatan keanekaragaman hayati, dan penelitian. Namun, kegiatan ini berkembang menjadi sejenis olahraga ekstrem, aktivitas rekreasi, hingga wahana ekspresi.

Naik gunung kini menjelma budaya pop. Sejak film 5 Cm tayang satu dekade lalu, gunung-gunung di Indonesia menjadi objek wisata favorit—kawan saya bahkan langsung berangkat ke Semeru setelah tergoda film tersebut. Aktivitas yang semula eksklusif bagi golongan leisure class itu sekarang menjadi tren muda-mudi kelas menengah. Gunung-gunung pun kehilangan kesakralannya. Ia bukan lagi terra incognita. Tak ada lagi dewa-dewa di puncaknya. Aras nan tinggi itu kini riuh manusia.

Tentu saja para pendaki itu bukan Henry David Thoreau yang ingin menjauh dari ingar kota, tinggal di hutan untuk memahami hal-hal paling esensial dalam hidup. Mereka juga bukan nabi yang menghindari keramaian supaya dijatuhi wahyu. Bukan pula filsuf yang siap dikejutkan momen eureka. Tak sedikit yang melakukannya demi kepentingan konten media sosial semata. Tampaknya, menyemat predikat anak gunung terdengar keren dan mencitrakan diri sebagai pribadi tangguh. Bukan alam yang memanggil seperti ungkapan naturalis John Muir, the mountains are calling.

Spirit penaklukan melatari aktivitas pendakian gunung kiwari. Dalam film 5 Cm, misalnya, Mahameru dianalogikan sebagai impian yang harus digapai—dan tentunya, ditaklukkan. Soe Hok Gie bahkan secara terang-terangan memberi judul “Menaklukkan Gunung Slamet” pada artikelnya. Ada kecenderungan obsesif untuk menjejakkan kaki di pucuk-pucuk tertinggi bumi. Para pendaki berlomba-lomba menancapkan bendera di sana. Walhasil, tempat-tempat yang dulu hanya milik entitas adikodrati dan orang-orang suci itu kini penuh jejak kaki.

Nuansa antroposentrik dalam pendakian menodai kesucian sang giri. Banyak gunung menjadi kotor. Sampah berserakan seiring ramainya para pendaki. Sisa makanan mencemari sumber air. Tangan jahil mengusik keindahan edelweis. Puntung rokok yang dibuang sembarangan membakar belukar. Alih-alih pencinta alam, orang-orang ini lebih menyerupai penikmat belaka yang melihat lingkungan fisik sebagai objek taklukan. Tak ada koneksi, apalagi afeksi.

Antroposentisme telah lama bersemayam dalam alam pikir manusia. Kesadaran itu barangkali sudah terpatri sejak spesies kita eksis. “Baiklah, Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan atas ternak, dan atas seluruh bumi, dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi,” begitu sabda Tuhan dalam kitab Kejadian. Tampaknya, menguasai alam sudah menjadi takdir anak Adam.

Masa depan lingkungan akan tetap suram selama manusia masih melihat alam demi kepentingan sesaat belaka. Tak banyak yang berubah meski Aldo Leopold sudah menggugat perkara tersebut dalam “Etika Tanah”, bahwa lingkungan mestinya juga dikenai moral sebagaimana manusia. Para pendaki yang berbuat seenak jidat jelas tak mengerti apa-apa soal risalah Leopold.

Arne Næss bakal menangis melihat fenomena ini. Jika pemikir lingkungan asal Norwegia itu bersusah payah merenungkan refleksi filosofis baru tentang relasi manusia dengan alam, para pendaki kekinian justru melahirkan kata-kata bijak yang sebenarnya enggak penting-penting amat. Daripada menguras pikiran untuk melontarkan kalimat sok puitis demi media sosial, ada baiknya orang-orang yang merasa kontemplatif ini mempertanyakan apa yang mereka lakukan. Mengapa mendaki? Siapa yang memanggil mereka? Apakah panggilan itu berasal dari alam atau suara ego belaka?

Sejumlah aturan harus dibuat demi menyadarkan para pendaki tentang perkara sepele seperti sampah. Padahal, dengan kesadaran yang cukup, aturan itu tak dibutuhkan. Baru-baru ini, Gubernur Bali malah berencana melarang pendakian gunung di Bali. Baginya, sudah saatnya mengembalikan kekudusan gunung demi kelestarian alam. Kebijakan itu memicu protes dari orang-orang yang menjadikan aktivitas pendakian sebagai sumber nafkah. Akan tetapi, barangkali larangan itu ada benarnya. Mungkin, tidak menjejaki alam merupakan cara terbaik merawatnya.

Hidup harmonis dengan alam layaknya penduduk Utopia dalam fiksi Thomas More sepertinya memang mustahil. Namun, menjaga ekuilibrium barangkali tak perlu seutopis itu. Gunung yang tinggi menjulang mestinya menyadarkan betapa kecil manusia di tengah jagat raya. Alih-alih semangat menaklukkan, seharusnya yang muncul adalah sikap rendah hati. Mencintai gunung tidak harus dilakukan dengan cara mendakinya. (*)

---

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore