
SATMOKO BUDI SANTOSO
Saya, Butet Kartaredjasa, dan banyak spiritualis lainnya sedang sibuk memikirkan cara mengundang roh pakar metafisika Arkand Bodhana Zeshaprajna yang dikenal telah memberi nama Nusantara untuk ibu kota baru Indonesia di Pulau Kalimantan.
SUATU malam kami berkumpul di sebuah rumah yang katanya wingit. Rumah peninggalan zaman kolonial Belanda yang pada waktu tertentu akan sangat menakutkan bagi warga di sekitarnya.
Menurut penduduk di sekitar rumah itu, suara aneh yang keluar jika malam dari arah rumah itu macam-macam. Bisa lolongan anjing, suara tawa perempuan, suara laki-laki menyanyi, dan lainnya.
Tentu kami percaya dunia gaib memang ada dan oleh sebab itu kami berniat mengundang roh kawan kami Arkand Bodhana Zeshaprajna di rumah itu.
Kami pun berkumpul duduk di lantai yang sudah dibersihkan. Kami duduk melingkar. Lalu di antara kami menyepakati cara paling baik untuk mengundang roh Arkand Bodhana Zeshaprajna.
”Cara paling bagus seperti bermain jailangkung. Persis seperti ketika aku bermain di film Jailangkung juga,” celetuk Butet Kartaredjasa.
”Asu. Kita semua orang hebat di sini, para spiritualis lagi, ternyata hanya punya satu cara itu. Wah, memalukan,” respons salah satu spiritualis.
”Kalau tidak ada cara lain ya tidak usah protes. Gitu saja kok repot,” tukas Butet Kartaredjasa sembari memonyongkan bibirnya yang khas. Sebagai pengecer jasa hiburan melalui mulut branding bibir Butet Kartaredjasa memang bernilai jual mahal.
Seperti biasanya Butet Kartaredjasa dan spiritualis lainnya tetap suka bercanda dalam situasi apa pun.
Sayalah orang yang memulai ritual mengundang roh itu. Dibantu spiritualis lainnya. Memang hanya satu orang yang bukan spiritualis dalam lingkaran itu, yaitu Butet Kartaredjasa sendiri.
Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam roh Arkand Bodhana Zeshaprajna memang datang. Tangan saya sebagai media perpanjangan roh yang datang itu spontan menuliskan sesuatu di kertas tebal, panjang, dan besar. Kami siapkan kertas banyak.
Ketika saya tanya siapa yang datang dan masuk tubuh saya, dijawab oleh tulisan dalam tangan saya yang bergerak refleks secepat kedipan mata: Arkand Bodhana Zeshaprajna.
Saya jelaskan pula bahwa maksud kedatangan kami adalah untuk reuni. Kami merindukan dia. Kami ingin kembali bercanda dengannya. Sebagai sesama orang Jogjakarta kami ingin kembali bisa saling meledek.
Tapi tiba-tiba saja di tengah situasi yang khusyuk itu Butet Kartaredjasa kesurupan.
”Waduh Butet Kartaredjasa kelenger!” pekik saya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
