
JPO Pasar Minggu yang ambruk kondisinya sangat memprihatinkan
JawaPos.com - Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Pasar Minggu yang ambruk kini kondisinya semakin memprihatinkan. Pasalnya, sehabis ambruk pada 2016 lalu, JPO ini tak kunjung direnovasi.
Dari pantauan JawaPos.com, karat sudah menjalar ke besi JPO ini. Fondasi dan besi penahan di bawah anak tangga JPO ini juga sudah berwarna kecokelatan. Tak hanya itu, bagian bawah jembatan yang menjadi pijakan para pejalan kaki untuk berjalan, juga sudah berkarat.
JPO ini menghubungkan antara Ramayana Pasar Minggu dengan Stasiun Pasar Minggu. Di depan tangga JPO yang berada di Pasar Minggu, dipasang penutup agar tidak ada yang menaiki jembatan ini. Namun di seberangnya, tidak diberi penutup.
Ada banyak sampah di anak tangga JPO yang berada di depan stasiun Pasar Minggu. Tempat ini kemungkinan menjadi area 'nongkrong' pengamen dan tukang ojek. Hal ini terlihat karena adanya bekas gelas kopi plastik dan sampah plastik.
"Jadi yang jatuh itu bagian atapnya. Bagian bawahnya, yaitu jembatannya tidak ambruk. Tapi sudah berkarat juga," kata tukang ojek yang mangkal di sekitaran JPO, Danu, Rabu (23/5).
Danu menjelaskan, JPO ini ambruk karena angin yang kencang. Meski hujan yang tidak terlalu deras, angin yang datang sangat kencang. Tapi, pada saat itu, ada banyak spanduk dan baliho yang terpasang di JPO ini.
"Saya melihat langsung saat JPO ini roboh. Mungkin ambruknya karena ada beban di JPO ini, yaitu banyak spanduk yang menumpuk di JPO. Mungkin salah satu penyebabnya itu," jelasnya.
Danu pun menjelaskan, ia tidak pernah mendengar wacana bahwa JPO akan diperbaiki. Di saat ambruk, petugas hanya datang beberapa kali untuk mengecek kondisi JPO dan setelah itu, jembatan penyeberangan dibiarkan seperti ini saja.
"Setelah beberapa lama setelah jatuh, ada wacana untuk merenovasi halte dan taman ini. Mungkin dibarengi dengan JPO. Tapi hanya kabar burung saja, sampai sekarang tidak kan," bebernya.
Tukang ojek lainnya, Putra mengungkapkan, pemerintah seperti tidak peduli akan nasib JPO ini. Hal ini ia utarakan karena besi-besi jembatan ini sudah sangat karatan.
"Sebelumnya kan hanya bagian atapnya saja yang ambruk. Apa perlu jembatannya jatuh dulu juga dan memakan korban baru pemerintah mau membenarkan JPO ini?" tutur Putra.
Terlihat, pejalan kaki yang ingin menyebrang ke arah Ramayana Pasar Minggu atau stasiun, harus melalui perempatan lampu merah yang tak jauh dari JPO. Hal ini membuat kemacetan yang tak berarti. Pasalnya, di perempatan ini, banyak angkutan umum yang 'ngetem' dan memarkir mobilnya di pinggir jalan, pengendara yang memutar atau belok seenaknya, dan ditambah pejalan kaki yang menyebrang.
Secara terpisah, Kepala Seksi Perencanaan Sudin Bina Marga Jakarta Selatan, Rifky mengaku, pembangunan JPO sudah dalam proses perencanaan. Namun untuk detailnya, dia tidak mengetahuinya karena berada di bawah Dinas Bina Marga DKI.
"Saat ini proses perencanaan di Dinas Bina Marga. Akan Dibangun kembali rencananya," singkat Rifky kepada JawaPos.com.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
