
Tri Puspita, pengemudi ojek online yang sehari-hari sangat dibutuhkan masyarakat dalam bepergian dan melakukan perjalanan..
Hari Kartini hanya ada setiap setahun sekali, yakni jatuh pada 21 April. Namun, tak perlu menunggu waktu tersebut untuk menemukan perempuan yang menginspirasi dan selalu berjuang untuk bertahan hidup. Sosok seperti Raden Ajeng Kartini sejatinya selalu menghiasi pusat hingga sudut-sudut kota.
Oleh: Yesika Dinta
Terik matahari, basahnya hujan, hingga dinginnya angin malam tak menyulutkan semangat seorang ibu lima anak di Jakarta. Dia adalah Tri Puspita, pengemudi ojek online yang sehari-hari sangat dibutuhkan masyarakat dalam bepergian dan melakukan perjalanan.
Usianya 37 tahun, usia yang masih cukup produktif untuk membantu suaminya bekerja. Alasan itu masuk akal karena dirinya masih harus membesarkan lima anak yang salah satunya masih balita.
Seakan tak peduli dengan kondisi kesehatan, perempuan berhijab itu bekerja keras sejak matahari terbit sampai bulan bersinar. Jaket hitam dengan logo Grab pun selalu menemani perjalanannya yang tak hanya mengantar penumpang, malainkan juga barang dan makanan.
“Dari subuh sampai malam (bekerja). Sampai kadang saya tidur di masjid, tidur siang,” kata Tri saat ditemui JawaPos.com usai mengantar pesanan makanan di gedung Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (20/4) sore.
Dirinya tak bisa menyembunyikan wajah lelah di matanya. Entah sudah berapa kilometer ia tempuh dengan sepeda motor bebek warna hitam putih milik suaminya.
Banting tulang seharian, penghasilan Tri hanya cukup untuk makan dan jajan anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Namun begitu, dia bersyukur karena kehidupannya kini lebih baik dibanding masa lalunya yang hidup berbekal uang hasil berjualan nasi uduk di rumah.
“Alhamdulillah, Rp 150-200 ribu pasti dapat. Buat ekonomi mendingan (jadi pengemudi) Grab (daripada berjualan nasi uduk). Kita buat jajan anak di rumah nggak terlantar deh,” tutur istri dari seorang petugas keamanan gedung Perpustakaan Nasional itu.
Tentu pekerjaannya itu sulit, Tri tidak dapat mengurus anak-anaknya dengan maksimal. Tidak bisa menjaga dan menemani mereka, bahkan si kecil yang masih berusia 1,5 tahun hanya bisa ditimangnya saat larut malam.
“Yang penting saya di rumah sudah sediain makanan, uang, buat anak-anak. Jadi saya juga ngojek tenang,” kata perempuan yang tinggal bertujuh dalam satu kontrakan di Kramat Sentiong, Jakarta Pusat itu.
Perjuangan Tri lantas mengingatkan kepada sosok pahlawan perempuan yang semasa hidupnya berjuang untuk kesetaraan gender. Dirinya tak lain seperti Ibu Kartini, yang telah menjadi inspirasi perempuan Indonesia untuk mendapatkan hak dan kesempatan yang sama seperti laki-laki.
“Kita waspada, hati-hati di jalan. Alhamdulillah selama ini nggak dapat penumpang yang macam-macam,” ungkapnya lagi-lagi dengan mengucapkan syukur.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
