Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 April 2017 | 20.36 WIB

Flyover di Perlintasan Kereta Bukan Sekadar Mengurai Kemacetan

Nekat: sejumlah pengendara yang melawan arus menunggu kereta melintas di Pintu Perlintasan kereta api Kebayoran Lama, Jakarta. - Image

Nekat: sejumlah pengendara yang melawan arus menunggu kereta melintas di Pintu Perlintasan kereta api Kebayoran Lama, Jakarta.

JawaPos.com - Jalur perlintasan kereta api menjadi salah satu sumber titik kemacetan di Jakarta. Menekan kemacetan ini, Pemprov DKI Jakarta pun berupaya mengurangi keberdaan persimpangan sebidang di perlintasan kereta api. Mulai dari menutup pintu perlintasan hingga membangun jalan layang (flyover).


Menurut Pangamat Transportasi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Danang Parikesit, bentuk pemisahan melalui jalan tak sebidang merupakan solusi yang cukup baik. Terutama di persimpangan jalur kereta api dan jalan raya. "Pasti akan terbantu (mengurai kemacetan)," ujarnya ketika dihubungi JawaPos.com, Sabtu (8/4).


Kendati demikian, kata Danang, bahwa pembangunan flyover tidak akan mengurai kemacetan secara permanen. "Karena kemacetan sendiri kan banyak hal yang menyebabkan," imbuhnya.


Khusus kemacetan di perlintasan kereta api, Danang menilai sudah cukup dengan flyover. "Itu salah satu yang paling cepat dirasakan hasilnya," pungkasnya.


Kehadiran flyover di perlintasan kereta api tidak hanya sekadar mengurangi titik kemacetan tapi juga menekan angka kecelakaan di jalur kereta. Sebab, tidak sedikit terjadi kecelakaan kereta dengan kendaraan bermotor. Hal itu dipicu ketidaksabaran dari pengendara bermotor.

Sementara di UU nomor 22/2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ) menyebutkan, jika ada persimpangan sebidang, maka moda transportasi yang diprioritaskan untuk melintas yakni kereta. Sehingga memicu ketidaksabaran bagi pengemudi kendaraan bermotor. Bagi yang tidak sabar tentu saja nyawa mereka jadi taruhannya, karena terlindas kereta.

Untuk diketahui, Pemprov DKI saat ini tengah menggenjot proyek pembangunan jalan layang terutama di perlintasan kereta api. Pasalnya, kemacetan yang ditimbulkan lantaran menunggu kereta melintas sangat parah.

Misalnya di kawasan Cipinang Lontar, Jakarta Timur. Saat ini pemerintah daerah tengah menggenjot proyek fly over di kawasan tersebut. Tentu, dibuatnya jalan layang disebabkan luar biasanya kemacetan di Cipinang Lontar.


Ari Komang (42), seorang warga setempat mengaku, jika pada hari kerja, macetnya sangat luar biasa. Terutama di pagi hari.


Dikatakannya, pada jam tersebut sepanjang Jalan Bekasi Timur sampai I Gusti Ngurah Rai bisa macet total. Sebab ada penyempitan jalan. Jalan yang semula terdiri tiga lajur, kini hanya ada dua lajur. Satu lajur untuk busway. Tak ayal kendaraan non bus Transjakarta terpaksa mengantre di satu lajur.

"Pokoknya macetnya parah," kata Ari di persimpangan jalur kereta dan jalan raya kawasan Cipinang Lontar, Jakarta Timur, Jumat (7/4), kemarin.


Pun demikian ketika sore hari, dia mengaku kemacetan juga masih sangat mengular. Tapi hanya di sepanjang jalan Bekasi Timur. Sementara, untuk hari-hari weekend dan libur, kemacetan memang tetap terjadi. Tapi tidak separah hari kerja.


Pantauan di lapangan, ketika kereta lewat di persimpangan jalan, ada sekira 200 meter antrian kendaraan yang berjejeran menunggu hingga lampu lalu lintas berwarna hijau. Tapi, itu hanya saat weekend saja dan pada tengah hari. Sedangkan untuk kendaraan yang menuju ke Kampung Melayu, aktivitasnya tampak lenggang dan lancar. (uya/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore