
SUKSES: Pasien saat diajak berkomunikasi dengan salah satu dokter pada tindakan operasi tumor otak dengan metode Awake Surgery tim RSUD dr Soetomo Surabaya, Selasa (1/8).
JawaPos.com- Awake craniotomy alias awake brain surgery alias operasi bedah otak dengan kondisi pasien sadar kembali dilaksanakan di Surabaya. Selasa (1/8) operasi tersebut dilakukan di lantai 6 Gedung Bedah Pusat Terpadu RSUD dr Soetomo. Pasien yang dibedah menderita tumor di otak sebelah kiri.
’’Itu daerah motorik,’’ kata dr Irwan Barlian Immadoel Haq SpBS, operator dalam operasi itu. Sejumlah dokter pun berkumpul di sekitar ruang operasi pukul 09.00. Beberapa di antaranya menyaksikan proses operasi untuk studi dan referensi.
Operasi dalam keadaan pasien sadar tersebut memang harus dilakukan. Sebab, itu bisa memastikan bahwa tumor yang diambil tidak memengaruhi fungsi saraf pasien. Baik fungsi motorik, saraf wajah, maupun kemampuan berbicara dan berpikir.
Pasiennya adalah Basuki. Lelaki 44 tahun tersebut adalah wakil rektor I IAIN Ponorogo. ’’Awalnya saya mengalami kejang di wajah saat di rumah. Itu Oktober tahun lalu,’’ kata Basuki sebelum operasi. Dia tak banyak berbicara. Katanya, tenggorokannya sedang sakit. Raut wajahnya juga tegang.
Karena itu, Siti Namidatin, istrinya, meneruskan kisah. Setelah kejang dan periksa ke dokter, Basuki dinyatakan baik-baik saja. Aktivitasnya pun kembali normal.
Namun, pada Maret, lelaki asal Ponorogo tersebut kembali kejang. Keluarganya langsung membawanya ke dokter spesialis saraf. Mereka menyangka Basuki terkena serangan stroke. ’’Disuruh CT scan. Tetapi, hasilnya kurang memuaskan. Jadi, disuruh MRI. Baru ketahuan kalau ada tumor di otak bapak,” imbuhnya.
Tumor tersebut mengiritasi otak sehingga menghambat sistem kelistrikan saraf. Itu mengakibatkan penderita kejang.
Kembali, Basuki merasa sehat. Dia mengabaikan tumor tersebut. Baru ketika kejangnya kerap berulang, bahkan sesak napas, Basuki mempertimbangkan untuk menjalani operasi.
Beberapa rekannya pun menyarankan Basuki untuk menjalani operasi di luar negeri. Tidak sedikit pula yang menyuruhnya untuk berobat alternatif. Namun, Basuki bukan orang yang percaya begitu saja. Dia pun melakukan pencarian di internet tentang apa yang orang katakan kepadanya.
’’Tadinya memang sudah ingin ke Singapura atau Malaysia. Tetapi, terus saya bujuk. Nanti kalau ada apa-apa, saya bingung sendirian. Nggak ada sanak saudara di sana,” cerita Siti. Kalimat istrinya itulah yang membuat Basuki akhirnya mau menjalani operasi di Surabaya.
Sekitar pukul 10.00, Basuki masuk ruang operasi. Para dokter anestesi lantas menyiapkan peralatan pembiusan. Obat bius itu dimasukkan lewat infus agar pasien cepat bangun. Anestesi lokal juga diterapkan di daerah kepala yang akan dibedah. Dokter pun memasang alat bantu napas di mulut Basuki.
Setelah tak sadar, kepala Basuki dimiringkan ke kanan. Sebab, bagian yang akan dibuka berada di atas telinga kiri. Rambut di bagian tersebut juga dicukur untuk memudahkan pembedahan.
Saat area yang akan dibuka sudah bersih, dokter membubuhkan disinfektan. Tujuannya, bagian yang dibuka tetap steril.
Kepala Basuki juga dipasangi sejumlah kabel yang memonitor saraf pasien oleh dr Neimy Novitasari SpS. Kabel-kabel itu lalu disambungkan ke suatu alat monitor yang disebut dengan intraoperatif monitor (IOM).
Bukan hanya Neimy, dr Fadil SpS, dr Djohan Ardiansyah SpS, serta dr Pedro Perez Lorensu dari Hospital of Canary Islands Tenerife Spain juga turut memonitor IOM. Pedro hadir dalam operasi itu untuk berbagi ilmu tentang IOM yang sering digunakan di negaranya, Spanyol.
Dibutuhkan waktu satu jam untuk membuka tengkorak pasien. Setelah kepala terbuka, kadar bius pasien mulai diturunkan. Itu dilakukan agar Basuki bisa segera bangun. Tapi, pasien itu, rupanya, tak langsung sadar dan membuka mata. Pengaruh obat bius, tampaknya, masih begitu kuat.
Berkali-kali dokter berusaha membangunkan, tetapi respons Basuki tak banyak berubah. Berbagai cara pun dilakukan tim dokter untuk membuat mata lelaki yang berulang tahun setiap Oktober itu terbuka. ’’Pak, ayo bangun. Kita foto-foto dulu,’’ ujar dr Dhania A. Santosa SpAn mengiming-imingi.
Rupanya, Basuki sangat suka berfoto. Matanya pun sempat terbuka cukup lama sebelum akhirnya menutup lagi. Tampaknya, obat bius masih bercokol kuat di dalam aliran darahnya. Baru satu jam kemudian, matanya bisa terbuka dan mampu diajak berkomunikasi.
’’Ya, ini kan juga pasiennya sudah berumur lebih dari 40 tahun. Jadi, respons tubuhnya tentu berbeda dengan yang muda,’’ kata dr Bambang Harijono SpAn KNA, dokter anestesi yang bertanggung jawab dalam operasi tersebut. Dia ditemani dr Prihatma Kriswidyatomo SpAn dan Dhania.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
