Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Juli 2017 | 00.09 WIB

Kebut Kembangkan Makam Baru, Siapkan Lahan 4 Hektare

OVERLOAD: Aktivitas warga di makam Keputih sehari menjelang Lebaran lalu. Ketersediaan lahan makam mulai menjadi masalah di Surabaya. - Image

OVERLOAD: Aktivitas warga di makam Keputih sehari menjelang Lebaran lalu. Ketersediaan lahan makam mulai menjadi masalah di Surabaya.


JawaPos.com – Lahan makam di Surabaya memang terus dikembangkan oleh pemerintah kota. Salah satunya rencana taman pemakaman umum (TPU) di Waru Gunung yang diperuntukkan warga kawasan selatan Surabaya. Namun, hal itu tak berarti kekhawatiran hilang dari publik Kota Pahlawan.



Menurut informasi, memang pemerintah kota sudah mempunyai lahan seluas 1 hektare di wilayah Waru Gunung sebagai lahan makam. Lahan tersebut diberikan oleh operator tol Surabaya Mojokerto sebagai kewajiban pengembang menyerahkan 2 persen lahan untuk wilayah pemakaman. Nanti lahan tersebut dikembangkan lagi seluas 4 hektare dengan uang kompensasi dikumpulkan dari para pengembang di Surabaya.



Proyek tersebut bakal menjadi lahan baru bagi warga Surabaya Selatan yang ingin memakamkan kerabatnya. Dengan begitu, makam kawasan nanti berada di wilayah Surabaya Selatan, Timur, dan Barat. Sementara itu, rencana makam kawasan baru di utara hingga saat ini belum terdengar karena wilayahnya sudah padat penduduk dan bangunan.



Lalu, apakah benar 11 makam lama yang ada sejak zaman Belanda itu sudah penuh? Jawa Pos berupaya menyelidiki dengan berpura-pura menanyakan kemungkinan memakamkan keluarga di makam lama. Salah satunya di makam Islam Tembok Gede. Di sana, petugas Munadji mengatakan bahwa masih ada beberapa liang lahad yang kosong di wilayah sana. Hanya, keluarga tidak bisa memilih di mana mereka ditempatkan.



”Di sini belum penuh. Yang ditumpang itu biasanya permintaan keluarga kok. Siapkan saja KK dan surat kematian pasti kami siapkan,” ujarnya.



Saat itu, dia mengungkapkan, tidak ada kemungkinan untuk memesan lahan terlebih dahulu. Dia pun hanya mengenakan tarif Rp 200 ribu untuk setiap pemakaman. Hal tersebut tak berbeda dengan petugas di TPU Babat Jerawat. Dia pun menolak tawaran untuk memilih lahan atau booking terlebih dahulu.



Di TPU Keputih juga ditemukan hal yang sama. Petugas di sana mengatakan tidak mungkin booking lahan di Keputih. Meskipun TPU tersebut terus-menerus mengalami perluasan. ”Kalau ada yang sudah meninggal mau dimakamkan di sini bisa. Kalau pesan, tidak bisa,” ujar petugas jaga TPU Keputih.



Salah satu TPU di wilayah Ngagel Rejo juga demikian. Saat ini TPU tersebut telah membebaskan lahan di sekitar makam. Sebuah lahan bekas rumah di sisi barat TPU Ngangel Rejo telah diakuisisi pemkot. Petugas jaga di sana menyatakan, bagi yang memiliki ahli waris, makam akan ditumpuk. Namun, yang baru meninggal dan tidak memiliki ahli waris akan diprioritaskan menempati lahan yang tersedia.



Selain itu, di TPU Ngagel Rejo tidak diperbolehkan pasang kijing. ”Aturannya sekarang makam pakai rumput dan batu nisan marmer seperti di Keputih,” ujarnya.



Sementara itu, anggota DPRD Surabaya Komisi C Vinsensius menilai, memang saat ini pemerintah tidak kekurangan lahan untuk pemakaman. Sebab, masih ada beberapa lahan yang bisa dikembangkan di TPU kawasan baru. Baik TPU Keputih, Babat Jerawat, maupun Waru Gunung yang masih dibangun.



Dia sebenarnya setuju dengan anggapan bahwa ruang terbuka hijau bisa dijadikan makam. Namun, hal tersebut bisa berbahaya jika pemerintah kota tidak segera memetakan ruang terbuka hijau yang seharusnya 30 persen dari total luasan kota. Apalagi, pembangunan di Kota Pahlawan saat ini tak pernah lesu.



Pria yang akrab disapa Awey itu meminta pemerintah segera memikirkan solusi untuk menciptakan makam kawasan baru. Terutama di wilayah Surabaya Utara. Pasalnya, dia mendapatkan banyak keluhan dari warga Surabaya Utara yang sulit mencari makam dekat rumah karena tidak ada TPU yang kosong.



”Katanya kalau ke Keputih, masih kejauhan. Sedangkan makam dekat mereka kebanyakan makam kampung. Kadang warga RW sebelah pun tidak boleh dimakamkan di sana,” jelasnya.



Dia menambahkan, pemerintah juga tidak boleh lengah dalam pengawasan makam. Memang, hingga saat ini belum ada penemuan makam-makam fiktif seperti yang ditemukan di Jakarta. Namun, bukan berarti kasus tersebut tidak mungkin terjadi di Surabaya. ”Tolong dijaga supaya tidak ada jalan bagi oknum untuk melakukan inden atau membeli makam fiktif,” tegasnya. (bil/gal/c6/ano)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore