
SURVIVE 35 TAHUN: Fatimatuz Zuhro (kiri) bersama anaknya, Siti Mardiyah, saat mengiris kerupuk bandeng di rumahnya di RT 4, RW 2, Desa Pepe, Kecamatan Sedati.
JawaPos.com – Fatimatuz Zuhro bersama putrinya, Siti Mardiyah, menata satu per satu irisan kerupuk bandeng buatannya. Kerupuk tersebut akan dijemur di atas gedek. Setelah gedek penuh dengan kerupuk basah, Zuhro mengangkatnya ke lokasi penjemuran di belakang dan depan rumahnya di RT 4, RW 2, Desa Pepe, Kecamatan Sedati.
Selang dua sampai empat hari, kerupuk itu kering sempurna. ’’Setelah kerupuk kering, baru dikemas untuk dijual. Per kilonya dijual Rp 35 ribu,’’ ujar Zuhro. Pembeli biasanya datang langsung ke rumahnya. Para pembeli itu merupakan pelanggan Zuhro. Mereka sudah berulang-ulang beli di sana. Jadi, Zuhro tidak perlu lagi menawarkan produknya ke pasar-pasar. Banyak yang sudah tahu. Apalagi, Zuhro sudah 35 tahun melakoni usaha tersebut. ’’Dari dulu banget, resepnya tetap, makanya pelanggannya awet,’’ ucap perempuan 55 tahun itu.
Resepnya sederhana. Bahan utamanya tepung tapioka dan daging bandeng. Tanpa duri, kepala, dan kulitnya. Takarannya, untuk 3 kilogram tepung, Zuhro mencampurnya dengan 1,5 kilogram daging bandeng. Perasanya sederhana. Hanya bawang putih, gula, dan garam. ’’Ikan bandengnya juga kami ambil dari tambak yang kami kelola. Bahannya memang sangat melimpah di sini,’’ katanya.
Ternyata, produknya tidak hanya dikonsumsi warga Sidoarjo. Banyak yang pesan ke Zuhro untuk dibawa ke berbagai daerah di Jawa Timur hingga luar Jawa. ’’Di daerah Sedati kan banyak pekerja dari luar daerah. Saat mereka mau pulang biasanya pesan di sini. Apalagi saat akan Lebaran, laris,’’ ungkap istri Jama’ali tersebut.
Dalam sekali produksi, Zuhro biasanya membuat 8–10 kilogram kerupuk bandeng. Adonan kerupuk yang kenyal itu tidak diiris langsung dengan menggunakan pisau. Melainkan menggunakan alat pengiris buatan suaminya. Mengiris menggunakan alat tersebut lebih cepat. Ukuran tebal tipisnya pun bisa disesuaikan.
’’Memang tidak dibawa ke pasar-pasar atau tidak dijual online,’’ ucap Siti Mardiyah. Namun, Mardiyah biasanya menawarkan kerupuk itu kepada rekan-rekannya di kampusnya di Institut Agama Islam Al-Khoziny. Banyak juga rekannya yang tertarik untuk membeli. (uzi/c15/ai)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
