Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Mei 2017 | 23.25 WIB

Waliyah Zaenab Juga Wariskan Keramik Tiongkok

KUNO: Temuan piring yang masih utuh dari dinasty Ming tahun 1617 SM di Dusun Balong, Desa Diponggo, kepulauan Bawean, Gresik. - Image

KUNO: Temuan piring yang masih utuh dari dinasty Ming tahun 1617 SM di Dusun Balong, Desa Diponggo, kepulauan Bawean, Gresik.



Secara fungsi, keramik-keramik tersebut adalah peralatan makan. Namun, pemiliknya jelas bukan orang sembarangan. Lalu, mengapa masyarakat Bawean punya banyak keramik itu? Apakah orang-orang Bawean di masa lalu tergolong kaum berada. Mungkin saja begitu.



Mungkin juga keramik-keramik tersebut digunakan sebagai alat barter. Para pelaut membutuhkan perbekalan untuk melanjutkan perjalanan. Karena uang belum begitu populer, para pelaut membayar perbekalan itu dengan keramik nan cantik. Masyarakat Bawean saat itu bisa menjualnya ke daratan Jawa.



Setelah puas melihat keramik milik Azizah, tim menanyakan koleksi lainnya? Ternyata ada.



Azizah lantas meminta seluruh rombongan mengikutinya. Dia hendak menuju gudang penyimpanan di belakang rumahnya. Katanya, dia masih punya banyak tempayan atau guci kuno.



Namun, para peneliti menghentikan langkah kakinya. Perhatian mereka beralih ke Rukyah, tetangga Azizah. Dia punya tempayan cokelat tua yang masih digunakan. Tempayan itu dipakai sebagai tempat menampung air untuk mencuci piring.



”Ana apa, Pak? Apik ya wadhahe? (Ada apa, Pak? Bagus ya tempatnya? Red),” ucap dia sembari menggosok piring penuh busa.



Tim semakin terkejut saat ada tempayan yang difungsikan sebagai pot bunga. Mereka hanya bisa geleng-geleng. Dari tadi susah-susah mencari pecahan keramik, di rumah Rukyah malah digunakan untuk cuci piring dan pot bunga.



Fungsi utama tempayan tersebut adalah menampung benda cair. Namun, zaman dahulu warga juga sering memanfaatkan wadah itu untuk menyimpan beras. Dijamin, beras akan bertahan lama dan tidak apek. Namun, karena sudah banyak lemari penyimpan beras yang lebih canggih, tempayan tak lagi digunakan dan dibiarkan begitu saja.



Gentong milik Rukyah setinggi setengah meter. Diameter tengahnya mencapai 43 sentimeter. Sedangkan diameter mulutnya 32 sentimeter. Banyak tempayan jenis itu yang diproduksi di Thailand pada abad ke-13 hingga ke-15.



Tempayan tersebut memiliki motif hias geometris. Wujudnya berupa garis yang menggores sekeliling bahu tempayan. Azizah juga punya tempayan seperti itu. Malah lebih besar. Dia menyimpannya di gudang belakang. Dekat dengan kandang ayam.



Tempayan itu tidak difungsikan. Bila disentil, tempayan tersebut mengeluarkan bunyi ting yang sama dengan bunyi lempengan logam. Itu menjadi tanda bahwa kekeringan tempayan masih sangat terjaga.



Karena waktu semakin mepet, tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Sebelum kami berangkat, Azizah masih menyimpan satu kejutan lagi.



Terdapat koleksi lain yang dia simpan di gudang depan rumahnya. Sebenarnya dia tidak berniat menunjukkan benda itu. Melihat para peneliti yang antusias, dia akhirnya mengeluarkan guci kesayangannya.



Warna guci berwarna cokelat muda tersebut lebih mengilap ketimbang tempayan buatan Thailand. Lubangnya mengerucut ke atas. ”Ini dipakai untuk menyimpan arak,” ucap Azizah.



Terdapat tulisan Tiongkok pada guci itu. Tak ada satu pun anggota tim yang bisa membacanya. Lalu, tulisan tersebut difoto dan dikirimkan ke arkeolog yang paham huruf Mandarin. Tim menyebut guci itu adalah guci ’’Dewa Mabuk”. Seperti guci arak yang ada di film Drunken Master yang dibintangi Jackie Chan.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore