Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Mei 2017 | 02.29 WIB

Kampung Kue Memproduksi Jajanan Warga Kota, Subuh-Subuh Sudah Riuh

TETENGER: Kalau sudah melihat gapura bertulisan Kampung Kue, berarti Anda tidak salah tempat. Tinggal masuk gang tersebut, kita bisa menemukan banyak warga yang berjualan jajanan pada dini hari. - Image

TETENGER: Kalau sudah melihat gapura bertulisan Kampung Kue, berarti Anda tidak salah tempat. Tinggal masuk gang tersebut, kita bisa menemukan banyak warga yang berjualan jajanan pada dini hari.


Gapura biru putih yang di atasnya terdapat tulisan Kampung Kue menjadi tetenger. Keramaian subuh di kampung itu jadi daya tarik masyarakat. Warga kampung mulai menjajakan penganan di sepanjang jalan.





DARI Jalan Kali Rungkut, tidak tampak kesibukan di dalam gang tersebut. Sepi. Sama seperti gang-gang lain ketika menjelang subuh. Namun, dua ratus meter masuk ke dalam, kesibukan baru terasa.



Pukul 03.00 ibu-ibu mulai mengusung meja dan kursi. Setelahnya, penganan diambil dari dalam rumah di gang yang lebih sempit. Ada lapis, kue tok, risoles, hingga macam-macam penganan lainnya yang bikin ngiler. Beberapa warga pun terlihat masih menggoreng gorengan. Baunya sudah pasti membuat mata yang semula mengantuk jadi melek. Sedap nian.



Berjualan dini hari sudah jadi rutinitas warga Kampung Kue. Kue yang dijajakan di kampung di Kecamatan Rungkut tersebut biasanya dijual lagi ke pasar atau kantin-kantin di seluruh penjuru Surabaya. Ada juga tengkulak yang mengambil kue untuk dijual di Sidoarjo dan Gresik. Mungkin, makanan yang kerap Anda beli di pasar merupakan buatan warga Kampung Kue.



Salawat mulai terdengar dari pengeras suara masjid yang tidak jauh dari pasar dadakan itu. Langit Surabaya masih gelap. Jam di layar handphone masih menunjukkan pukul 04.10. Kegaduhan mulai terasa. Ragam percakapan mulai terjadi. Ramai.



Tengkulak hilir mudik berdatangan. Ada yang membawa keranjang makanan. Ada pula yang cukup membawa tas kresek. ’’Kalau mau beli sedikit untuk sarapan juga bisa,’’ ucap Ketua Kampung Kue Choirul Mahpuduah sambil memasukkan beberapa puding ke tas kresek untuk pelanggannya.



Jika pagi atau siang, kampung tersebut terlihat sama dengan perkampungan padat penduduk lainnya. Ada anak yang bermain di jalanan. Ada ibu-ibu yang merumpi.



Geliat Kampung kue dimulai sejak sore. Sekitar pukul 16.00 sebagian besar warga mulai meracik bahan-bahan yang digunakan untuk membuat jajanan. Hampir seluruh warga di sana mendapat nafkah dari penganan. Ada yang membuat kue. Ada pula yang bertugas menjual kue. ’’Kalau tidak memiliki banyak modal, bisa membantu tetangganya,’’ papar Choirul.



Warga di sana membuat penganan rumahan alias dibuat di rumah masing-masing. Mereka rata-rata mengerjakan penganan tersebut di rumah petak yang disewa. Hampir tiap rumah di Gang II Rungkut Lor dijadikan tempat produksi kue.



Irul, sapaan Choirul, sempat mengajak Jawa Pos untuk berkeliling di sekitar Gang II Rungkut Lor. Dia mengajak masuk ke sebuah gang yang lebih kecil. Ada dua rumah yang masing-masing sudah dibagi beberapa kamar.



Di gang kecil tersebut, Jawa Pos bertemu dengan Yayuk dan Bayu Indrawanto. Pasutri tersebut sedang membuat lemper. Ketika itu Yayuk sudah selesai membungkus ketan. Tinggal memotong kedua ujung bungkus lemper agar rapi.



Rumah Yayuk tidak besar. Hanya satu kamar berukuran 3 x 4 meter. Ruangan itu dibagi untuk meletakkan tempat tidur dan lemari. Sisanya digunakan untuk membungkus lemper. Untuk memasak, kompor diletakkan di luar kamar. Sama seperti yang lainnya. ’’Tahun 2010 saya di-PHK pabrik tempat saya bekerja,’’ kata Yayuk.



Perempuan 42 tahun tersebut sangat ingat bagaimana kondisi keuangannya yang goyah waktu itu. Terinspirasi dari tetangganya, Yayuk pun berusaha membuat tahu fantasi. Sayangnya, membuat tahu fantasi membutuhkan proses yang terlalu banyak. Apalagi, waktu itu Yayuk habis melahirkan. ’’Saya coba buat lemper saja dan laris,’’ tuturnya.



Yayuk dikenal sebagai spesialis lemper. Selain dikukus, dia bisa membuat lemper bakar. Jika tidak ada pesanan, Yayuk dalam sehari bisa membuat sekitar 200 lemper. ’’Hasilnya tidak banyak. Yang penting bisa bantu suami,’’ ucapnya ketika ditanya omzet per hari.



Di samping kamar Yayuk, tinggal Sariyatun. Nenek 60 tahun itu merupakan pembuat ketan salak atau wajik. Ada tujuh nampan wajik yang sudah jadi. Di luar kamar, Sariyatun masih memasak wajik.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore