Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 Mei 2017 | 12.55 WIB

Sumber Ekonomi Pantai Timur Surabaya, Sirup Dari Buah Mangrove

INCOME: Soni Mohson salah seorang penggiat mangrove yang hasil budidayanya dapat dijadikan sirup Bogem khas mangrove. - Image

INCOME: Soni Mohson salah seorang penggiat mangrove yang hasil budidayanya dapat dijadikan sirup Bogem khas mangrove.


JawaPos.com – Kawasan hutan mangrove di Wonorejo tidak hanya menjadi habitat untuk beragam jenis burung, tapi juga sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar. Mereka membudidayakan produk olahan dari tanaman mangrove. Semakin tahun, semakin beragam jenis produk kreativitas yang dihasilkan. Salah satunya adalah sirup bogem.



Soni Mohson adalah penggagas produk sirup bogem. Dia mengolah buah tanaman mangrove, yakni bogem (Sonneratia caseolaris atau dikenal dengan nama pidada merah), menjadi sirup sejak 1998. ”Dulu memang banyak buah yang terbuang. Coba-coba sampai akhirnya bisa jadi sirup ini,” ungkap pria 55 tahun tersebut.



Sampai menjadi produk sirup bogem, Soni melalui banyak tahapan. Beberapa kali gagal. Lalu, dia harus melakukan uji coba sirup hingga layak konsumsi. Akhirnya, sirup bogem rutin diproduksi sejak 2004.



Bogem yang digunakan adalah buah masak yang jatuh dari pohon. ”Bukan yang dipetik dari pohon. Yang masih di pohon itu belum masak benar,” jelas pria kelahiran Bojonegoro, 7 Mei 1962, itu. Buah-buah tersebut lantas diseleksi lagi mana yang layak dan tidak layak.



Ketua Kelompok Tani Mangrove Wonorejo tersebut mengajak masyarakat sekitar dalam proses pembuatan sirupnya. Mulai pengumpulan buah bogem hingga tahap akhir, yakni pengemasan dalam botol kaca. ”Yang mengupas buah-buah itu ibu-ibu sekitar sini (masyarakat Wonorejo, Red),” ungkap bapak tiga anak itu. Mereka yang tergabung dalam proses produksi akan mendapatkan upah sesuai hasil kerja masing- masing.



Sejak terjun ke dunia pengolahan buah bogem, Soni belajar karakteristik hutan mangrove. Termasuk sifat setiap jenis tanaman di dalamnya. ”Bagaimana cara mereka tumbuh dan jadi hasil yang baik,” katanya. Soni mencontohkan saat pembibitan. Saat batang setinggi 15 cm, usahakan daun tidak sampai rontok. Kalau tidak, daun akan tumbuh lagi dalam waktu lama. ”Berbuahnya juga jadi lama lagi,” ungkap Soni.



Setiap 2,5 liter sirup dihasilkan dari kombinasi 2 kilogram gula pasir, 1 kilogram buah bogem, dan 2 liter air. Dalam sehari, Soni dapat memproduksi 60–100 liter sirup. Sirup tersebut dikemas dalam botol dengan ukuran 360 ml. ”Jumlah produksi memang enggak menentu. Bergantung panen buah bogem sendiri,” terangnya. Puncaknya, buah bogem dapat dipanen maksimal pada Agustus, September, dan Oktober.



Agar dapat berproduksi setiap hari, Soni menyiasati dengan stok saat bulan panen. Kini sirup bogem menjadi ikon produk lokal warga Wonorejo. Mereka sering kali mendapatkan pesanan dari beberapa daerah di Indonesia. Beberapa di antaranya dari Jakarta, Semarang, dan Lampung. Satu botol sirup bogem dijual Rp 25 ribu.



Tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan, Soni memproduksi sirup bogem juga untuk memberikan edukasi. Dia punya misi memperkenalkan lebih luas pengembangan produk dan konservasi hutan mangrove. ”Bagaimana cara menanam yang baik, tanaman apa lalu cocok buat produk apa, dan lainnya,” ujarnya.



Karena itulah, produk sirup bogem tidak dijual bebas di toko. Konsumen dapat membelinya langsung di rumah produksi di Wonorejo Timur maupun pameran tertentu.



Selain sirup, Soni mengembangkan buah bogem menjadi produk makanan lainnya. Yaitu, selai dan dodol. ”Tapi, memang produksinya tidak setiap hari. Sesuai pesanan,” tambah kakek empat cucu itu. (bri/c6/jan)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore