Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Maret 2017 | 04.57 WIB

Kekuatan Seni Arsitektur Gedung Setan Surabaya

RUANG SERBAGUNA: Aula besar di lantai dua yang difungsikan sebagai gereja. Selain itu, ruang tersebut menjadi tempat berkumpul warga dalam beberapa acara. Kalau tak ada acara, ruangan itu menjadi tempat menjemur. - Image

RUANG SERBAGUNA: Aula besar di lantai dua yang difungsikan sebagai gereja. Selain itu, ruang tersebut menjadi tempat berkumpul warga dalam beberapa acara. Kalau tak ada acara, ruangan itu menjadi tempat menjemur.

Gedung Setan, nama bekennya, memang gampang menarik perhatian. Gedungnya kukuh dan lebih tinggi jika dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya. Meskipun, kini ia tertatih-tatih melawan tingginya flyover Pasar Kembang dan ’’gangguan’’ tenda-tenda pasar yang menempel di sekitarnya. 


—————


GEDUNG Setan masuk dalam daftar cagar budaya di Surabaya sejak 2013. Bangunannya memang khas kolonial yang sudah beradaptasi dengan iklim tropis. Artistik. Tapi tetap kukuh dan sederhana. 


Sebagaimana kebanyakan bangunan kolonial, warnanya putih. ’’Warnanya ya dari dulu putih seperti saat ini. Hanya, ya sekarang sudah banyak cat yang terkelupas,’’ ujar Freddy Handoko Istanto, direktur Surabaya Heritage Society (Sjarikat Poesaka Soerabaia). 


Jendela-jendela lebar tampak menyeruak pada bagian kolom utama bangunan yang berbahan bata dengan gaya Yunani klasik. Khas tropis. Banyak jendela, banyak pula angin yang masuk ke dalam ruangan. Dengan plafon yang tinggi, hawa di dalam gedung tetap sejuk. 


Ciri khas bangunan kolonial itu juga tampak pada bentuk gambrel roof. Yakni, atap yang melengkung dan curam. Bentuk itu juga penyesuaian iklim tropis. Saat hujan datang, air cepat mengalir ke bawah. Atap jadi tak gampang rusak. 


Bangunan Belanda juga punya halaman luas. Areanya mengelilingi seluruh bagian bangunan. Jadi, bangunan tampak seperti titik pusat di antara area lapang. ’’Pada zaman dulu, area luas itu digunakan sebagai pertahanan. Ada pagar besar menjulang sebagai pembatas,’’ terang dekan Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) tersebut. 


Tentu, areal luas itu sudah tak ada. Gedung Setan dikelilingi rumah penduduk. Saat pagi, bagian depannya berubah menjadi pasar. Suasana ramai dan sesak. Gedung seolah tenggelam dan menyisakan potongan lantai bagian depan yang berbahan batu alam. 


Dulu, luas lahannya sekitar 7 ribu meter persegi. Bangunannya sendiri pun 500 meter persegi. 


Tampilan eksterior bangunan mencerminkan desain dalamnya. Tidak banyak sekat pada gedung. Ada sisi lapang sebagai center di lantai 1. Ruangan itu sering digunakan sebagai tempat pertemuan keluarga besar penghuni. Lokasi itu terlihat dari berbagai sisi ruangan mana pun. 


Lantai maupun dinding didesain kuat. Begitu juga tangga penghubung antara lantai 1 dan lantai 2. Bentuknya melingkar dengan tiga anak tangga. 


’Tapi, kalau sekarang, keadaan berbeda. Sudah banyak sekat untuk rumah penghuni di dalam,’ jelas dosen Departemen Arsitektur-Interior UC tersebut. 


Lantai 1 terdiri atas 36 rumah, kamar mandi umum, dapur, dan tempat parkir. Lantai 2 merupakan gabungan 17 rumah dan gereja. Material yang khas masih dapat terlihat hingga saat ini. Yakni, batu bata, kayu jati, dan batuan. Komposisi itulah yang membuat bangunan kolonial Belanda tersebut awet.



Gedung Setan dari waktu ke waktu


1809

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore