Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Februari 2017 | 07.14 WIB

Anggap Tak Kompak saat Berolahraga, Guru Pukul Siswa hingga Berdarah

SOLUSI TERBAIK: Maria Goretti Yeti Rusdiana berdialog dengan Kasi Sarana dan Prasarana Pendidikan Dasar Dispendik Kota Surabaya Achmad Zamroni. - Image

SOLUSI TERBAIK: Maria Goretti Yeti Rusdiana berdialog dengan Kasi Sarana dan Prasarana Pendidikan Dasar Dispendik Kota Surabaya Achmad Zamroni.

JawaPos.com – Berita kurang elok muncul dari SDN dr Soetomo I, Rabu (8/2). Guru olahraga di sekolah tersebut dikabarkan memukul kepala salah seorang siswi kelas IV. Akibatnya, GPR, gadis itu, terluka.


Maria Goretti Yeti Rusdiana, sang ibu, menuturkan, putrinya tersebut mengeluh pusing saat pulang sekolah. Putrinya juga bercerita bahwa dirinya telah dipukul gurunya. Yeti pun mengamati kepala putrinya yang terluka. Dia lalu memberikan obat merah. ”Ada luka darah kering,” katanya.


Sorenya, Yeti membawa anaknya ke klinik yang bisa menerima BPJS. Di klinik tersebut, dokter memberikan obat antinyeri.


GPR lalu bercerita tentang insiden saat dirinya berolahraga pada Selasa (7/2). Para siswa diminta melompat berulang-ulang. Lantaran capek, GPR berhenti. Namun, gurunya yang bernama Singgih Priyo Hardianto memukul GPR dengan menggunakan gagang sapu. Saat beristirahat dan kembali masuk kelas, GPR mengeluh kepada wali kelasnya bahwa dirinya pusing.


Curhatan GPR karena telah dipukul kepalanya itu membuat Yeti tidak terima. Esoknya pada Rabu (8/2) dia melapor kepada pihak sekolah bahwa putrinya telah dipukul hingga terluka. Dia tidak terima, apalagi putri pertamanya itu dilahirkan secara kasar. ”Itu totohan nyawa (bertaruh nyawa, Red) waktu melahirkan. Terus sekarang dia dipukuli,” sesalnya.


Karena itu, Yeti datang ke sekolah dan meminta pihak sekolah tidak main fisik kepada anak didik. ”Namanya guru, digugu dan ditiru. Mendidik,” tegasnya. Perempuan single parent itu mengakui, anaknya memang cukup bandel. Namun, dia tetap tidak terima jika anaknya dipukul dengan menggunakan gagang sapu.


Hal senada disampaikan rekan-rekan GPR. RJR, salah seorang kawannya, juga mengalami perlakuan serupa. Namun, peristiwa itu terjadi pekan sebelumnya. RJR dipukul di bagian pinggul kanan saat jam olahraga. Dia dan rekan-rekannya diminta lompat-lompat sebanyak 50 kali. ”Terus karena capek, berhenti, lalu dipukul,” ujarnya. RJR mengaku dipukul dengan menggunakan pipa.


RJR juga dijewer. Termasuk rekannya yang lain. ”Katanya saya ngelamun. Padahal, saya gak ngelamun,” imbuh rekannya yang lain. Pada kejadian yang menimpa GPR, kata RJR, saat dipukul Singgih, GPR mengucapkan kata kotor. Mendengar itu, Singgih pun kembali memukul GPR.


Rabu itu banyak pihak yang menaruh perhatian pada kejadian itu. Mulai lembaga perlindungan anak, Dewan Pendidikan Surabaya, kepolisian, dinas kesehatan, hingga psikolog. Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Ikhsan juga datang untuk mengetahui kronologi yang sebenarnya.


Ikhsan mengakui, dirinya terkejut dengan peristiwa tersebut. Karena itu, dia hadir untuk melihat kondisi GPR. Kebetulan, GPR hari itu masuk sekolah seperti biasa. Dalam mediasi yang berlangsung tertutup di ruang kepala sekolah, kata Ikhsan, komunikasi antara pihak sekolah dan keluarga berjalan dengan baik. ”Kelanjutannya, GPR masih bersekolah di sini (SDN dr Soetomo I, Red),” katanya.


Pihaknya juga berharap kejadian itu tidak terulang atau dialami siswa-siswa lain. Dalam beberapa hari ke depan, GPR didampingi psikolog. Yang jelas, Ikhsan menyayangkan tindakan guru yang memukul itu. Dia ingin Undang-Undang Perlindungan Anak disosialisasikan lebih gencar. ”Dengan begitu, guru dan pihak sekolah bisa paham betul,” jelasnya.


Ikhsan menambahkan, ada tim yang memastikan untuk pemberian sanksi. Dalam pertemuan tertutup itu, sang guru juga mengakui telah memukul siswanya. Hal tersebut telah disampaikan kepada wali murid. Ikhsan memastikan, pihaknya bersama para guru di sekolah akan memperlakukan anak dengan baik. Sekolah ramah anak harus diwujudkan dengan sebaik-baiknya.


Kepala SDN dr Soetomo I Rusjati Kusuma mengatakan, kasus itu sudah tuntas. Wali murid tidak menuntut secara hukum. Wali murid juga sudah membuat surat kesepakatan yang ditandatangani berbagai pihak sebagai saksi.


Rusjati mengakui, tindakan Singgih yang memukul tersebut merupakan perbuatan keliru. ”Sebagai pendidik, mestinya tidak boleh memukul seperti itu,” tuturnya. Saat ini sanksi yang diberikan masih berupa teguran. Namun, jika Singgih kembali berulah, sanksinya bisa dikeluarkan dari sekolah.


Menurut dia, perbuatan Singgih dilakukan secara spontan. Saat itu, kata Rusjati, ada siswa laki-laki yang membawa gagang sapu. Oleh Singgih, gagang sapu tersebut diambil. Kemudian, lantaran ada siswanya yang tidak kompak saat berolahraga, gagang sapu itu secara spontan digunakan untuk memukulnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore