Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Februari 2017 | 22.01 WIB

Trembesi 9 Meter Timpa Warung, Hujan Tak Turun Banjir Mulai Surut

TAK MAMPU BERTAHAN: Pohon tumbang Selasa (7/2) di Jalan Raya Candi karena hujan angin. - Image

TAK MAMPU BERTAHAN: Pohon tumbang Selasa (7/2) di Jalan Raya Candi karena hujan angin.

JawaPos – Banjir yang menerjang lima desa di Jabon mulai surut. Mayoritas rumah di Dusun Penumpakan, Desa Semambung, sudah tidak lagi terendam air. Namun, masih banyak warga yang memilih bertahan di balai dusun.


Berdasar pengamatan Selasa (7/2), air yang menggenangi jalan perkampungan Dusun Penumpakan telah menyusut. Sepeda motor bisa melintas di akses tersebut. Memang masih ada genangan di dekat balai dusun. Namun, ketinggiannya hanya berkisar 20 sentimeter.


Masuk ke perkampungan, tepatnya di RT 1, genangan air tidak lagi masuk ke rumah warga. Lima hari lalu RT 1–RT 4 merupakan titik banjir paling parah di Penumpakan. Ketinggian air mencapai selutut.


Suyadi, warga Dusun Penumpakan, menuturkan bahwa dua hari terakhir air mulai surut. Menyusutnya ketinggian air tersebut turut dibantu cuaca. Dua hari terakhir ini wilayah Jabon tidak diguyur hujan. ’’Sehingga air cepat surut,’’ katanya.


Pria berusia 38 tahun itu menambahkan, menurunnya genangan air dimanfaatkan warga untuk beraktivitas. Mulai membersihkan rumah, mengepel lantai, hingga menjemur kursi. ’’Saya barusan mengepel rumah. Karena direndam air berhari-hari, baunya jadi tidak enak,’’ ucap Suyadi.


Meski sudah surut, kondisi Balai Dusun Penumpakan masih tetap ramai. Siang itu sekitar 20 orang tampak berkumpul. Ada yang beristirahat, ada pula yang berbincang. Mereka, tampaknya, sedang menunggu jatah makan siang yang disiapkan relawan.


Salah satunya Komsiah. Perempuan 49 tahun itu terlihat asyik mengisi waktunya dengan ngobrol bersama warga lain. Dia sesekali melihat video ludruk yang diputar sebagai hiburan. ’’Habis masak langsung ke balai dusun,’’ jelasnya. Setiap siang sampai sore dia datang ke balai dusun. Meski air mulai surut, dia tetap datang ke lokasi pengungsian. ’’Jaga-jaga kalau banjir datang lagi,’’ ungkap Komsiah.


Kepala Dusun Penumpakan Samian menyatakan, jumlah pengungsi yang terdata di balai dusun masih sama. Yaitu, 185 orang. Warga ditempatkan di pendapa dusun. Fasilitas bagi pengungsi dicukupi. Yakni, terpal untuk tidur, makan tiga hari sekali, dan obat-obatan.


Samian menjelaskan, menurunnya ketinggian air dimanfaatkan warga untuk kembali bekerja. Terutama warga yang bekerja di wilayah Pasuruan sebagai pekerja pabrik. ’’Kini mereka bisa kembali kerja. Dulu gak bisa karena jalan tidak bisak dilewati sepeda motor,’’ paparnya.


Namun, para petani belum bisa bekerja. Sebab, lahan pertanian seluas 130 hektare di wilayah tersebut masih terendam air. Pria 64 tahun itu mengatakan, saat ini pemkab memang sudah memasang tujuh pompa air di wilayah Tambak Kalisogo. Dia berharap pompa tersebut segera diaktifkan sehingga areal persawahan bisa cepat kering.


Samian menambahkan, jika banjir sudah benar-benar surut, tempat pengungsian di balai dusun tersebut tidak akan dilanjutkan. Warga akan kembali menjalani kehidupan normal di rumah masing-masing. ’’Kalau hujan turun lagi ya kami perpanjang,’’ tuturnya.


Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sidoarjo terus berupaya menurunkan ketinggian genangan air. Mereka telah menempatkan tujuh pompa di Tambak Kalisogo. Namun, hingga kini pompa itu belum difungsikan. Petugas masih membangun saluran air dari dam Golondoro ke tempat penampungan air.


Kepala Dinas PUPR Sidoarjo Sigit Setyawan menuturkan, pihaknya berencana membangun saluran air dan tempat penampungan air yang sifatnya permanen. Langkah tersebut menjadi bentuk antisipasi lantaran kondisi Jabon setiap tahun selalu dilanda banjir. ’’Rencananya kami permanenkan,’’ ucapnya.


PUPR juga menormalisasi Kalimati di wilayah Kedungpandan. Dua alat berat diturunkan untuk membangun dam buatan. Tanah dan sedimentasi Kalimati dimanfaatkan untuk membuat tanggul air. Memanjang dari Kedungpandan ke Kedungrejo.


Sigit menjelaskan, pembangunan dam itu berguna untuk mengatasi bocoran air dari arah Pasuruan. Menurut dia, salah satu penyebab banjir yang melanda Jabon adalah air kiriman dari Pasuruan. ’’Harapannya, dam sementara ini bisa mencegah air luberan dari Kalimati,’’ paparnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore