Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Januari 2017 | 03.03 WIB

Meneropong Program Desa Melangkah 2017, Genjot Ekonomi Warga dengan Pemberdayaan UKM

INGKATKAN PENG HASILAN: Luluk Ulhaimah bersama rekan-rekannya menjahit bagian sepatu di tempat perakitan sepatu di Desa Modong, Tulangan. - Image

INGKATKAN PENG HASILAN: Luluk Ulhaimah bersama rekan-rekannya menjahit bagian sepatu di tempat perakitan sepatu di Desa Modong, Tulangan.

Jawa Pos.com – Program Desa Melangkah butuh lebih bervariasi. Sejumlah saran muncul dari berbagai pihak yang menanggapi kegiatan yang kali pertama berlangsung 2016 tersebut. Misalnya, pemerintah Desa Pabean, Sedati.


Mereka ingin program itu fokus ke pengembangan administrasi pemerintahan. ”Misalnya, penataan arsip dan aset. Kami butuh pemberdayaan tentang hal tersebut,” ujar salah seorang perangkat Desa Pabean, Nurul Hidayat.


Pelatihan untuk permasalahan teknis perlu ditingkatkan. Misalnya, teknis penanganan sampah. Desa-desa butuh pelatihan pengelolaan sekaligus kegiatan yang benar-benar memengaruhi pola pikir masyarakat tentang bahaya dan manfaat sampah.


Nurul menjelaskan, bantuan pelatihan masalah teknis semacam itu harus disesuaikan dengan kebutuhan desa.


”Setiap desa pasti memiliki kebutuhan masing-masing yang mendesak, yang kadang jadi masalah. Kalau bisa, program tersebut dapat menangani masalah-masalah tadi,” harapnya.


Lantaran mayoritas masyarakat Desa Pabean adalah pengusaha, Nurul berharap ada program yang benar-benar mengembangkan usaha warga tersebut. Pegiat UKM (usaha kecil menengah) ingin dicarikan partner untuk kerja sama.


Selain itu, mereka dibantu soal pengembangan modal usaha. ”Pelatihan atau event harus berkesinambungan dan terus berjalan. Tidak hanya bersemangat pada awal,” ujarnya.


Kepala Desa Kramat Jegu, Kecamatan Taman, Sukimin menambahkan, yang paling penting pada program 2017 adalah pemberdayaan UKM.


Alasannya, hal itu jadi upaya yang konkret agar penghasilan masyarakat bisa bertambah. ”Kelas ekonomi bisa naik,” ucapnya.


Menurut dia, UKM di desanya mulai tumbuh. Tahun lalu muncul jenis usaha baru. Yakni, olahan jamu, aksesori, dan kerajinan tangan lain yang potensial.


”Di RT 7, RW 1, ada kerajinan ukiran dari gabus yang dibentuk beragam karya seperti arca dan dekorasi. Semoga bisa semakin banyak jika dipelopori dengan baik,” ungkapnya.


Menjadi satu-satunya desa dari Kecamatan Taman yang ikut Desa Melangkah, perangkat Desa Kramat Jegu kerap ditanyai desa lain tentang manfaat program tersebut. ”Semoga semua bisa merasakan manfaat dan mengikutinya,” tuturnya.


Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo Sri Ruqiyati menyebutkan bahwa intensitas pelatihan untuk desa ditingkatkan.


Karena itu, sumber daya lebih mumpuni untuk memajukan desa. Sri kerap menjadi narasumber pelatihan pembentukan badan usaha milik desa (BUMDes) ”Misalnya, pelatihan pengelolaan pasar. Itu penting,” ujar perempuan yang akrab disapa Uqi tersebut.


Dia mencontohkan pengelolaan pasar wisata di Desa Pabean, Sedati. Pasar itu menjadi aset desa yang sangat potensial. Sayang, pengelolaan mesti melibatkan pihak ketiga.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore