Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Januari 2017 | 23.22 WIB

Ayo Sapu Hoax!

TAK MAU BERITA BOHONG: Ade Triwijaya dan Maria Josephine berfoto dengan properti banner anti-hoax di Taman Bungkul kemarin pagi (8/1). Mereka ikut mendukung budaya literasi bersosial media dengan cara tidak menyebarkan berita-berita bohong. - Image

TAK MAU BERITA BOHONG: Ade Triwijaya dan Maria Josephine berfoto dengan properti banner anti-hoax di Taman Bungkul kemarin pagi (8/1). Mereka ikut mendukung budaya literasi bersosial media dengan cara tidak menyebarkan berita-berita bohong.

JawaPos.com – Resah dengan membanjirnya berita hoax? Atau malah pernah dirugikan dengan adanya pemberitaan palsu itu?


Berangkat dari pengalaman-pengalaman pahit tersebut, Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) melakukan kampanye di car free day Darmo, Minggu (8/1).


Tujuannya cuma satu: membumihanguskan peredaran berita berbau fitnah, hasutan, maupun hoax.Dukungan terhadap gerakan itu pun terasa.


Ratusan pengunjung car free day di depan Taman Bungkul sibuk membubuhkan tanda tangannya di kain putih. Beberapa pengunjung lain sibuk berfoto menggunakan palet bertulisan Turn Back Hoax.


Aktivitas tersebut memang bagian dari kampanye gerakan bersama anti-hoax. ’’Kami ingin membuat masyarakat melek dengan fenomena yang cukup meresahkan akhir-akhir ini,” ujar Koordinator Mafindo Surabaya Rovien Ayunia.


Selain di Surabaya, deklarasi tersebut diadakan di beberapa kota lain. Mulai Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Wonosobo, hingga Jogjakarta. Menurut dia, peredaran berita hoax di media sosial sudah masuk dalam taraf yang meresahkan. Menyesatkan.


’’Sebelumnya kami juga membentuk grup anti-hoax di Facebook,” lanjut ibu satu anak tersebut. Perempuan asal Candi, Sidoarjo, itu khawatir jika fenomena tersebut dibiarkan berlarut-larut.


Masyarakat akan semakin sulit membedakan antara berita valid dan invalid. Menurut dia, potensi yang ditimbulkan tidak main-main. ’’Bisa memecah belah bangsa ini kalau terus begini,’’ ujarnya.


Dia mencontohkan, banyak sekali informasi hoax dan akhirnya menjadi viral di media sosial. Fenomena itu kemudian memicu kegaduhan dan keributan. Tak sedikit pula yang merembet ke dunia nyata menjadi kerusuhan fisik.


’’Yang begini ini kan tidak saja menghabiskan energi, tetapi juga berpotensi mengganggu keamanan nasional,’’ ulasnya. Kampanye anti-hoax di Surabaya akan lebih menggunakan pendekatan akademis.


Untuk itu, pihaknya akan menggandeng institusi pendidikan dan perguruan tinggi. Semua akan bekerja secara independen. Masyarakat Indonesia Anti-Hoax hanya akan berperan sebagai koordinator.


’’Kami ini urunan, tidak punya sponsor, jadi tidak berafiliasi dengan kepentingan mana pun,” jelasnya. Hal senada diungkapkan salah seorang anggota gerakan anti-hoax, Satri Dharma.


Penggagas gerakan literasi sekolah itu mengatakan bahwa masyarakat memerlukan gerakan semacam itu. Ke depan, pihaknya tidak hanya melakukan kampanye di tempat umum.


Tidak menutup kemungkinan, pihaknya akan masuk ke institusi pendidikan. ’’Mungkin belum masuk kurikulum. Kami akan masuk melalui acara-acara seminar atau workshop,’’ ucapnya.


Menurut dia, sekolah adalah salah satu tempat pembentuk karakter anak. Untuk itu, pihaknya akan menggandeng institusi pemerintah yang berkepentingan.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore