Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Desember 2016 | 23.16 WIB

"Ayam Kampus" Masuk Ruang Privat, Penuh Kode-Kode Jual Lewat Chatting

PELACURAN DUNIA MAYA: Kabid Humas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera (dua dari kanan) menunjukkan barang bukti dan para tersangka di Mapolda Jatim, Selasa (20/12). - Image

PELACURAN DUNIA MAYA: Kabid Humas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera (dua dari kanan) menunjukkan barang bukti dan para tersangka di Mapolda Jatim, Selasa (20/12).

JawaPos.com – Prostitusi memang tidak lagi memakai wajah lawasnya dalam wujud lokalisasi-lokalisasi terpusat. Melalui media online, pelacuran itu dengan mudah menelusup ke ruang-ruang privat warga.



Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim menggulung pelacuran jagat maya itu. Lewat chatting, mucikari dan orang yang dipekerjakan adalah mahasiswa. ’’Ayam kampus’’. Selasa (20/12) temuan itu dirilis.



Tim cyberpatrol mengungkap jaringan prostitusi online tersebut pada 18 Desember. Dua tersangka yang diamankan adalah AP dan UY. Cukup sulit mendeteksi mereka. Sebab, modus yang dijalankan menggunakan aplikasi chatting.



Lewat percakapan pribadi. ’’Sebelumnya kami banyak ungkap yang melalui media sosial. Itu lebih gampang,’’ ujar Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera.



Untuk masuk ke jaringan itu, terdapat kode-kode khusus. Para mucikari tidak akan dengan mudah percaya terhadap pelanggan baru. ’’Mereka memang cukup protektif. Harus benar-benar tahu kode yang mereka gunakan,’’ tutur Barung.



Hal senada diungkapkan Yuyung Abdi. Dia adalah fotografer sekaligus pengamat prostitusi. Disertasinya tentang pelacuran mengantar fotografer Jawa Pos tersebut meraih gelar doktor di Universitas Airlangga Senin (19/12).



Yuyung menyatakan, praktik prostitusi di aplikasi chatting seperti Line lebih protektif dan selektif. Jadi, siapa saja yang ingin masuk ke lingkungan tersebut harus benar-benar diakui kredibilitasnya.



Apalagi, aktivitas orang lain bisa dideteksi di menu timeline. ’’Kalau orangnya jarang upload foto dan status, mereka curiga. Belum tentu bisa menerima,’’ katanya.



Menurut Yuyung, mereka menciptakan Dolly di dunia maya. Namun, seleksi publik yang dilakukan ketat. Harus benar-benar orang yang menginginkan layanan seksual. Tidak terbuka seperti model di media sosial.



Setelah berhasil masuk, mereka bisa lebih mudah bertransaksi. UY yang merupakan warga Ngaglik bertugas menawarkan ’’ayam kampus’’ kepada klien. Mereka memanfaatkan aplikasi chatting Line dan WhatsApp sehingga lebih privat.



Berdasar penelusuran Jawa Pos, Line memang menjadi salah satu tempat menjajakan ’’ayam kampus’’. Beberapa akun menawarkan jasa pemuas hasrat seksual. Ada yang hanya chat sex, phone sex, sampai video call sex.



Ada juga yang menawarkan masuk ke grup VVIP yang berisi gambar dan video ’’nakal’’. Gambar dan video itu didapat dari internet. Ada juga yang diproduksi sendiri. Anggota laki-laki harus membayar jika ingin masuk grup tersebut.



Tarifnya bermacam-macam, Rp 10 ribu–Rp 100 ribu. Sementara itu, anggota perempuan bisa gratis. Namun, si perempuan harus berpenampilan menarik. Ukuran tubuhnya harus ’’luar biasa’’.



Bahkan, ada beberapa grup yang berani membayar perempuan-perempuan yang mau melakukan aksi ’’berani’’. Tidak sampai di situ saja, ada juga akun yang menawarkan jasa seksual.



Mereka bisa dipesan dengan harga yang lebih mahal. Mereka memasang status di timeline yang berisi tarif dan daerah mana saja yang bisa dilayani. Agar mudah dikenali, mereka menggunakan taggar (#) khas.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore