
Erinda Nabila Wulansari
PADA 2014 Erinda Nabila Wulansari terpilih sebagai wakil 1 Yuk Sidoarjo. Sejak itu, rutinitasnya berubah. Image tomboi perlahan mulai menghilang. Dia sudah mengenal perawatan, gincu, dan shading alis.
Dia pun mulai memakai heels. ’’Dulu dikenal tomboi saat masih ikut paskibra di SMAN 1 Krian. Karena ikut ini (pemilihan Duta Pariwisata Guk & Yuk, Red), saya harus bisa grooming dan anggun,’’ ujarnya.
Gaya bicaranya juga mulai tertata. Anak pertama dari dua bersaudara itu telah berkali-kali mengikuti kelas public speaking. Peningkatan dua kemampuan tersebut lantas ditularkan di lingkungan sekitarnya.
Apalagi, dia juga melatih paskibra di SMAN 1 Krian. Dia ingin menerapkan pasukan pengibar bendera yang bisa dandan. Tidak hanya penampilan, prestasi Erninda juga melesat.
Pada Juli 2015 dia mengikuti Duta Museum Jawa Timur dan berhasil terpilih menjadi wakil 2. Jabatan itu disandangnya selama dua tahun dan berakhir pada 2017.
Anak pasangan Edy Rianto dan Nurul Lisak’ Adah tersebut pada Maret 2016 kembali mengikuti seleksi Duta Humas Polda Jatim. Akhirnya, dia terpilih menjadi runner-up.
”Jadi, sekarang menjabat dua duta. Senang sih malah karena jadi lebih banyak kontribusi untuk kebaikan,” ungkap gadis kelahiran Sidoarjo, 16 September 1997 itu.
Banyak ilmu yang dia dapat saat menjadi Yuk. Ilmu tersebut pun bisa dimanfaatkan kala dia menjadi Duta Museum Jatim dan Duta Humas Polda Jatim. Antara lain, ilmu bersosialisasi, koordinasi yang baik, serta manajerial.
Baik manajemen waktu maupun kegiatan. Pengetahuan tentang cara mengenal Sidoarjo dan beragam karakter masyarakat juga jadi nilai tambah tersendiri saat dia menjabat dua duta kini.
”Untuk menyelesaikan masalah di daerah atau masyarakat tertentu, kita kan harus mengenalnya dulu dengan baik,” kata gadis asal Desa Kramatjegu, Taman, itu.
Dia mencontohkan saat melakukan kunjungan ke museum-museum di Jogjakarta. Menurut dia, kegiatan tersebut tidak akan berimbas maksimal jika dia hanya melihat-lihat.
Karena itu, sebelum melakukan kunjungan, dia memetakan masalah di museum Jatim. Antara lain, penataan ruangan yang berbeda, pelayanannya, dan pendataan koleksinya.
Sehingga museum di sana bisa banyak dikunjungi. Setelah melakukan survei lengkap di museum sendiri, saat kunjungan, dia bisa membuat perbandingan lebih terperinci.
”Salah satu poin yang saya dapat, penataan museum itu harus menarik agar banyak dikunjungi,” ujarnya. Dengan konsep ruangan yang menarik, anak muda terpancing datang.
Walaupun hanya tertarik menjadikannya objek foto maupun selfie, mereka bakal melihat koleksinya. Biasanya, hasil jepretan akan diunggah di media sosial.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
