
ULET: Muhammad Dattul Kafi dari Sanggar Ibnu Sina Kertajaya mengasah otak kanan siswa untuk berfikir dengan menggambar bersama yang dipajang dalam acara pameran lukisan anak Suroboyo di gedung Kebudayaan Unair.
Minat dan bakat bisa tumbuh otodidak. Tapi, kalau tidak diasah terus-menerus, bakat tersebut akan percuma. Bagaimanapun, anak membutuhkan pengarahan orang tua. Muhammad Dattul Kafi, pelukis belia, salah satunya.
SEPULANG sekolah, Muhammad Dattul Kafi tampak terburu-buru. Tasnya diletakkan begitu saja di lantai, lalu dia menuju ke kamar mandi. Karena ritsletingnya terbuka, otomatis sebagian buku di dalam tas itu berserakan di lantai.
Sang ibu, Maria Ulfa, bermaksud membereskan barang anak sulungnya tersebut. Betapa terkejut dia saat tak sengaja melihat buku-buku pelajaran itu penuh coretan.
Kafi dipanggilnya. Maria tetap menegur sang anak. Buku pelajaran tidak seharusnya dicoret-coret. Meski demikian, Maria mengutarakan maksudnya untuk mengikutkan Kafi les melukis.
Peristiwa tersebut terjadi satu tahun lalu. Saat itu, Kafi yang sehari-hari belajar mengaji di Yayasan Ibnu Sina Kertajaya mendapatkan tugas baru. Dia diminta orang tuanya belajar melukis kepada Eyang Rahman dari Sanggar Airlangga.
”Awalnya ya menolak, tapi lama-lama jadi suka,” ujar Kafi. Setiap Sabtu dia berguru kepada Eyang Rahman. Menggambarnya masih menggunakan kertas gambar. Dia juga masih memakai pensil atau pulpen untuk membuat sketsa.
Pewarnaan lebih sering memakai krayon. Satu tahun berlalu, kemampuannya berkembang pesat. Dengan arahan yang tepat, kini Kafi bisa menggoreskan tinta secara terarah.
Mulai cara menggambar, membuat motif, hingga gradasi warna. Hasil karyanya menuai pujian. ”Karena itu juga, jadi tambah semangat melukis,” ungkap siswa kelas VII SMPN 48 Surabaya itu malu-malu.
Gambar orang, lingkungan, dan hewan merupakan andalan Kafi. Dia sering mendapatkan ide secara spontan. Dia mengimajinasikan benda, lalu menuangkannya di atas kertas.
Kalau buntu, dia tidak segan meminta saran kepada gurunya. Tak jarang, Kafi mendapatkan inspirasi dari hal-hal yang dilihatnya. Misalnya, saat melewati sawah, dia mendapatkan ide untuk menggambar pemandangan tersebut.
Karena itu, dia selalu membawa buku gambar ke mana pun pergi. Meski demikian, ada satu objek yang paling tidak disenanginya. Yakni, bunga.
”Kan cowok, masak gambar bunga. Kalau disuruh gambar bunga, pasti bilang ke gurunya minta gambar yang lain saja, hehehe,” katanya.
Saat ini Kafi sedang menyempurnakan keahliannya melukis dengan teknik arsiran. Teknik tersebut, menurut dia, tersulit yang pernah dipelajarinya.
Karena itu, bocah kelahiran Surabaya, 22 September 2003, tersebut merasa tertantang untuk bisa menaklukkannya. Tak terasa, sudah lebih dari 20 karya dihasilkan Kafi.
Namun, jumlah itu berkurang banyak karena dibeli donatur Yayasan Ibnu Sina. Beberapa lainnya masih tersimpan di yayasan di Jalan Gubeng Kertajaya IV tersebut.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
