
CAGAR BUDAYA: Siswa SDN Pucang 2 menyusun bangku di ruang kelas. Beberapa sentuhan gaya lawas bangunan masih dipertahankan, seperti kawat ram di sisi atas dinding.
Foto Mr PM Claassen bersama murid-muridnya pada zaman penjajahan Belanda di depan ruang kelas HIS Sidoarjo yang kini menjadi SDN Pucang 2 Sidoarjo masih terpampang rapi di dinding kantor kepala sekolah.
Foto tersebut menjadi saksi bisu bahwa SDN Pucang 2 pernah menjadi sekolah pribumi dari anak kalangan bangsawan pada zaman penjajahan Belanda.
’’Dua tahun kemudian, Mr MJM dan Mr Pim Claassen mengirimkan foto repro yang dibawa ketika datang ke SDN Pucang 2. Sekarang foto itu kami simpan rapi,’’ ungkapnya.
Yunis mengatakan, sekolah menerima foto repro Mr PH Claassen bersama dengan murid-muridnya di HIS Sidoarjo pada 1998. Foto tersebut diambil pada 1925. Itu tertulis pada papan yang dibawa salah seorang murid.
Sekolah itu didirikan pada 1901. ’’Sudah 115 tahun sekolah ini berdiri,’’ ujarnya. Gedung bangunan HIS tersebut berbentuk letter T. Ada enam ruang kelas. Hingga kini, sekolah tersebut masih difungsikan sebagai SDN Pucang 2.
Jumlah siswanya pun kian banyak. Kondisi gedung yang mulai lapuk karena dimakan usia membuat sekolah harus melakukan renovasi. Sejak 2009 saja dilakukan renovasi lima kali.
Kini bangunan lawas yang tersisa hanya dua ruang. Satu ruang digunakan untuk kantor guru dan satu lagi untuk ruang kelas VI. Secara tatanan bangunan, dua ruang kelas tersebut memang tampak berbeda jika dibandingkan dengan gedung baru di barat.
Padahal, sudah pernah dilakukan renovasi juga. Mulai lantai yang diganti ubin hingga dinding yang dulu terbuat dari gedek (dinding bambu) sudah diganti tembok. Plafon dari gedek tentu juga sudah diganti.
Namun, jendela terbuka dengan kawat ram yang menjadi ciri khas zaman kolonial Belanda tetap dipertahankan.
’’Gedek di plafon juga masih ada di bagian atasnya. Cuma dilapisi asbes biar tidak roboh. Jendelanya juga tidak dirombak. Saya hanya tutup karena dipasang AC. Kawat ramnya masih ada,’’ ujar Yunis.
Yunis menyampaikan, bangunan lawas tersebut adalah tempat pengambilan foto Mr PH Claassen saat menjadi kepala HIS bersama murid-muridnya pada 1925. Persisnya di teras ruang guru saat ini.
Menurut dia, banyak jejak sejarah yang belum tergali dari SDN Pucang 2. Misalnya, kisah anak-anak para bangsawan pada zaman penjajahan Belanda yang bersekolah di sana.
Terlebih, ada informasi yang menyebutkan bahwa Bapak Proklamator Ir Soekarno pernah belajar dua tahun di HIS Sidoarjo.
Tahun depan SDN Pucang 2 akan mendapat bantuan rehabilitasi gedung sekolah. Yunis berharap gedung lawas tersebut tidak dihancurkan, tetapi justru dipertahankan.
’’Kami ingin gedungnya tetap seperti ini. Hanya, yang perlu dikukuhkan ya diganti. Apakah bisa? Karena ini salah satu cagar budaya yang tersisa,’’ tandas Yunis. (septinda ayu pramitasari/c19/pri/sep/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
