
MENARIK MINAT: Sejumlah pelajar SDN Pucang 2.membaca buku yang digantung di pohon-pohon.
JawaPos.com – Buku-buku bacaan terlihat bergelantungan di pohon ruang kantor SDN Pucang 2 Sidoarjo Jumat (4/11). Ada buku tentang cerita binatang mamalia, sejarah, hingga dinosaurus.
Para siswa pun langsung mengambil satu per satu buku tersebut. Lalu, mereka membacanya sambil duduk di kursi. Di antara siswa itu, ada Sabrina Nazwa, Devinta Aprilianto, dan Rifaty Karimah.
Anak-anak kelas V tersebut begitu asyik membaca buku yang bergelantungan. Mereka menyebutnya dengan pohon baca. Hampir setiap istirahat dan pulang sekolah, mereka memanfaatkan waktu luang untuk menikmati buku-buku di pohon baca.
Kepala SDN Pucang 2 Yunis Rasmiyanti mengatakan, ide membuat pohon buku tersebut muncul sejak enam bulan lalu. Dia bersama guru-guru kelas mengumpulkan buku cerita anak-anak dan menggantungnya di setiap batang pohon.
Buku-buku tersebut menjulur ke bawah seperti akar pohon sehingga anak-anak mudah meraihnya.
’’Kami ingin menggerakkan budaya literasi di sekolah. Selama ini anak-anak cenderung malas datang ke perpustakaan,” ungkapnya.
Kali pertama ide itu direalisasikan, respons siswa sangat bagus. Anak-anak lebih tertarik membaca dalam suasana terbuka. Selain itu, ada sensasi lain ketika memilih jenis buku bacaan yang digantung.
’’Setiap istirahat dan pulang sekolah, pohon baca pasti ramai anak-anak,” ujarnya. Koleksi buku di pohon baca selalu di-update. Biasanya update dilakukan tiga hari sekali.
Namun, banyak siswa yang protes karena pergantian buku baru terlalu cepat. Padahal, masih banyak siswa yang belum selesai membaca buku lama. ’’Jadi, sekarang kami mengganti koleksi bukunya seminggu sekali,” ucap Yunis.
Pohon baca tersebut sejatinya dibuat untuk mengikis kebiasaan siswa menggunakan gadget. Sebab, selama ini banyak anak yang gemar bermain gadget. Padahal, dampak radiasi gadget terhadap anak-anak sangat buruk.
Salah satunya, mengakibatkan gangguan pada saraf mata dan perkembangan otak anak. ’’Kami alihkan perhatian anak dengan kegiatan yang positif,” jelasnya.
Selain pohon baca, lanjut dia, sekolah menyediakan alat-alat tradisional untuk bermain. Di antaranya, permainan dakon dan catur. Bahkan, pihaknya juga membatasi penggunaan gadget di sekolah.
’’Saya melarang anak menggunakan gadget di dalam sekolah. Kecuali ketika memang untuk berkomunikasi dengan orang tua. Kami benar-benar mengawasinya,” tandasnya. (ayu/c7/hud/sep/JPG)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
