
PRIHATIN MAMA: Dari kiri, James, Lawrence, dan Janice mendatangi Kantor LPA Jatim.
JawaPos.com- ”Kenapa Papa tega penjarakan Mama?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Janice. Bocah 14 tahun itu adalah anak pertama pasangan Gunawan Angka Widjaja dan Trisulowati alias Chinchin. Sambil terus terisak, dia memberondong ayahnya yang mengunjunginya di salah satu ruko kawasan Kedungsari.
Isak tangis membuat kata-kata yang dilontarkannya terpatah-patah. Air matanya tidak kuasa dibendung. Dua adiknya, James dan Lawrence, tak kalah sedih. Tangis mereka hampir tak pernah berhenti pada pertemuan selama hampir 1,5 jam itu.
”Kami cuma minta satu, Pa. Keluarkan Mama dari penjara,” pinta Lawrence sambil mengusap dua matanya yang sudah sembap.
Ayahnya yang saat itu di depan mereka berupaya menjelaskan. Bahwa ibu mereka dipenjara bukan lantaran Gunawan. ”Papa ndak tahu. Ndak ikut-ikut,” ungkap Gunawan. Tapi, dia tetap diberondong puluhan pertanyaan oleh tiga darah dagingnya itu.
Disaksikan Ketua Divisi Data dan Riset Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur Isa Anshori, tiga anak itu malah kecewa. Ayahnya dianggap tidak pernah memberikan jawaban yang jujur dan sesuai fakta. Mendapat jawaban yang tidak memuaskan, tiga anak tersebut memilih pergi. ”Papa ngajari kami jujur. Tapi, Papa sendiri tidak pernah jujur,” keluh James yang selalu memegangi mukanya ketika ayahnya menjawab pertanyaannya.
Karena pertemuan itu, Janice mengaku kapok bertemu dengan ayahnya. Padahal, awalnya dia mengaku senang bisa ketemu ayahnya setelah dua bulan tidak bertemu. Dia berpikir bahwa ayahnya punya iktikad baik untuk menyelesaikan masalah. ’’Malah hasilnya memperkeruh suasana,” sesalnya.
Gadis kelahiran Surabaya itu mengaku meninggalkan ayahnya karena merasa tidak aman. Sekitar dua bulan lalu, salah seorang kerabat ayahnya masuk ke kamarnya tanpa izin sekitar pukul 02.00 dini hari. Hal tersebut membuat dia takut. ’’Aku ndak lari. Justru menyelamatkan diri. Kalau di Empire terus, ngerasa ndak aman,” ujarnya.
Untuk itu, dia mengaku kapok. Dia berharap pertemuan kemarin adalah yang terakhir. Gadis yang masih duduk di kelas IX itu kecewa dengan pertemuan yang tidak sesuai harapannya tersebut. ’’Aku cuma berharap masalah ini cepat selesai. Mamaku keluar dari penjara,” harapnya.
Sementara itu, Gunawan mengaku rindu kepada tiga anaknya. Untuk itu, dia rela menunggu 3,5 jam. ”Sudah sangat lama ndak ketemu. Saya kangen mereka,” bebernya.
Selain itu, pria asli Surabaya tersebut mengaku khawatir dengan keadaan anaknya. Karena itu, dia membawakan makanan favorit dan obat untuk anaknya. Usahanya selama ini menitipkan kepada salah seorang pegawai selalu ditolak. Untuk itu, dia berinisiatif mengantar sendiri.
Gunawan membawakan Janice pastel, kroket, dan daging asap. James dibawakan sosis brood. Untuk Lawrence, dibungkuskan puding. Khusus untuk James, ada obat pertumbuhan yang dibawakan langsung dari Hongkong. ”James butuh tambahan asupan vitamin agar lebih cepat besar,” terangnya.
Gunawan juga mengaku tidak rela anaknya dieksploitasi. Melakukan hal-hal yang tidak jelas tujuannya untuk apa. Padahal, saat ini mereka masih sekolah dan sedang ujian. ”Anak saya kan besok ujian. Kenapa sekarang dibawa keluar-keluar?” tanyanya.
Pria 48 tahun itu berpesan kepada karyawan Chinchin yang selama ini menjaga ketiga anaknya agar mereka tidak diajak ke acara yang tidak jelas. Kecuali untuk sekolah, ekstrakurikuler, dan belanja. ”Itu kan cuma untuk ngamen. Jangan gitu,” sesalnya.
Dia menganggap bahwa anaknya sudah diajari oleh seseorang untuk membenci dirinya. Bahkan, mengarang cerita-cerita palsu yang memojokkan dirinya. Padahal, selama ini dia merasa menjadi korban. ”Seakan-akan ayahnya ini sadis. Diajari yang enggak-enggak,” keluhnya.
Kuasa hukum Chinchin dan anak-anaknya, Nizar Fikkri, tidak mau banyak berkomentar. Menurut dia, apa yang dikatakan anak-anak sudah menjadi fakta yang lebih kuat. ”Sesuai permintaan anak-anak saja lah, Mas. Itu sudah cukup,” tuturnya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
