Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 April 2018 | 18.15 WIB

Tari Tradisional Jawa Timur Lebih Sulit dari Tarian Eropa

Shaun Wallace dan 9 mahasiswa QUT lainnya belajar tari Jaranan Turonggo Yekso di halaman depan Fakultas Hukum Universutas Surabaya - Image

Shaun Wallace dan 9 mahasiswa QUT lainnya belajar tari Jaranan Turonggo Yekso di halaman depan Fakultas Hukum Universutas Surabaya

JawaPos.com - Masyarakat internasional sudah mengakui keindahan tari tradisional Indonesia. Mereka juga mengakui bahwa tarian khas Indonesia lebih susah dibanding tarian dari Eropa. Misalnya, tari Jaranan Turonggo Yekso.


Hal itu diungkapkan salah seorang mahasiswa Queensland University of Technology (QUT) Shaun Wallace. Dia mengaku sangat kesulitan saat mengikuti ritme dan gerakan tariannya.


Apalagi, saat melakukan gerakan setengah berjongkok. Lalu, kesulitan lainnya dia rasakan saat melakukan gerakan mengibaskan cemeti. Padahal, dia juga belajar beberapa tarian khas Eropa. Salah satunya, tarian Irish Tap.


"Saya punya darah (keturunan) Eropa. Saya sering belajar tarian Irish Tap dan Gipsy Tap. Tapi tarian Jaranan Turonggo ini yang paling sulit," kata Shaun ditemui wartawan di Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya), Senin (9/4).


Meski sulit, Shaun mengaku senang dapat belajar tarian tersebut. Yang paling disuka adalah gerakan menunggang anyaman kuda alias kuda lumping. "Bobotnya tidak terlalu berat. Tapi cukup menyenangkan," kata Shaun.


Hal tersebut dibenarkan Pelatih Tari Tradisional Dian Nova Saputra alias Dian Bokir. Menurut Dian, mayoritas jenis tarian Jawa, khususnya Jawa Timuran banyak gerakan yang cukup rumit.


"Butuh kedisiplinan tinggi untuk dapat mempelajari jenis tarian khas Jawa Timur. Termasuk tari Jaranan Turonggo Yekso itu," kata Dian.


Kesulitannya akan sangat terasa bagi seseorang yang tidak memiliki dasar ketrampilan menari. Apalagi, lantunan gamelan yang menjadi musik pengiring, cukup asing ditelinga parq mahasiswa asal negeri kanguru tersebut.


"Akhirnya, setelah diulang beberapa kali, mereka (mahasiswa QUT) mulai dapat menikmati gerakan dan ritmenya," katanya.


Shaun Wallace adalah satu dari 9 mahasiswa QUT yang bertandang ke Surabaya. Tak hanya belajar tari tradisional Jawa Timur. Kuliah pasar ekonomi properti juga menjadi salah satu agenda kunjungan mereka.


Menurut mereka, orang asing di Indonesia, khususnya di Surabaya sangat dimanjakan dengan aturan beli rumah yang lebih longgar. Sedangkan di Australia, selain dikenai pajak bumi dan bangunan yang tinggi, warga negara asing akan dihadapkan dengan birokrasi yang sulit saat akan membeli rumah.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore