
Shaun Wallace dan 9 mahasiswa QUT lainnya belajar tari Jaranan Turonggo Yekso di halaman depan Fakultas Hukum Universutas Surabaya
JawaPos.com - Masyarakat internasional sudah mengakui keindahan tari tradisional Indonesia. Mereka juga mengakui bahwa tarian khas Indonesia lebih susah dibanding tarian dari Eropa. Misalnya, tari Jaranan Turonggo Yekso.
Hal itu diungkapkan salah seorang mahasiswa Queensland University of Technology (QUT) Shaun Wallace. Dia mengaku sangat kesulitan saat mengikuti ritme dan gerakan tariannya.
Apalagi, saat melakukan gerakan setengah berjongkok. Lalu, kesulitan lainnya dia rasakan saat melakukan gerakan mengibaskan cemeti. Padahal, dia juga belajar beberapa tarian khas Eropa. Salah satunya, tarian Irish Tap.
"Saya punya darah (keturunan) Eropa. Saya sering belajar tarian Irish Tap dan Gipsy Tap. Tapi tarian Jaranan Turonggo ini yang paling sulit," kata Shaun ditemui wartawan di Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya), Senin (9/4).
Meski sulit, Shaun mengaku senang dapat belajar tarian tersebut. Yang paling disuka adalah gerakan menunggang anyaman kuda alias kuda lumping. "Bobotnya tidak terlalu berat. Tapi cukup menyenangkan," kata Shaun.
Hal tersebut dibenarkan Pelatih Tari Tradisional Dian Nova Saputra alias Dian Bokir. Menurut Dian, mayoritas jenis tarian Jawa, khususnya Jawa Timuran banyak gerakan yang cukup rumit.
"Butuh kedisiplinan tinggi untuk dapat mempelajari jenis tarian khas Jawa Timur. Termasuk tari Jaranan Turonggo Yekso itu," kata Dian.
Kesulitannya akan sangat terasa bagi seseorang yang tidak memiliki dasar ketrampilan menari. Apalagi, lantunan gamelan yang menjadi musik pengiring, cukup asing ditelinga parq mahasiswa asal negeri kanguru tersebut.
"Akhirnya, setelah diulang beberapa kali, mereka (mahasiswa QUT) mulai dapat menikmati gerakan dan ritmenya," katanya.
Shaun Wallace adalah satu dari 9 mahasiswa QUT yang bertandang ke Surabaya. Tak hanya belajar tari tradisional Jawa Timur. Kuliah pasar ekonomi properti juga menjadi salah satu agenda kunjungan mereka.
Menurut mereka, orang asing di Indonesia, khususnya di Surabaya sangat dimanjakan dengan aturan beli rumah yang lebih longgar. Sedangkan di Australia, selain dikenai pajak bumi dan bangunan yang tinggi, warga negara asing akan dihadapkan dengan birokrasi yang sulit saat akan membeli rumah.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
