
DONGKRAK EKONOMI: Antrean kapal menjadi pemandangan setiap hari di APBS.
JawaPos.com – Normalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) mulai menunjukkan hasil signifikan. Indikasinya, arus masuk kapal ke Pelabuhan Tanjung Perak meningkat.
Surabaya menjadi tren transit kapal yang sebelumnya dikuasai Pelabuhan Singapura. Sebelum APBS dikeruk, kapal besar dari luar negeri enggan masuk ke Surabaya.
Mereka memilih berhenti di Singapura dan bongkar muat di negara tersebut. Wajar jika Singapura sempat menjadi pusat dagang dari 123 negara di dunia. Pascanormalisasi yang dilakukan PT Pelindo III pada 2014, alur pelayaran berubah.
Kapal besar kini tidak lagi transit di Singapura. Mereka memilih Surabaya karena lebih strategis. Mereka berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke negara lain seperti Australia.
Selain itu, tiga negara Asia mulai membuka rute baru ke Surabaya. Yakni, Korea, Jepang, dan Thailand. Wajar jika banyak kapal berbendera asing yang terlihat di Pelabuhan Tanjung Perak.
Mereka merupakan kapal besar yang selama ini hanya berhenti di Singapura. Humas PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak Oscar Yogi Yustiano memastikan jumlah kapal yang masuk ke Surabaya meningkat.
Pada triwulan III tahun lalu, yang masuk hanya 9.588 kapal. Triwulan yang sama pada 2016 mencapai 10.606 kapal. ’’Jumlah itu diperkirakan masih bisa meningkat,’’ katanya.
Yogi mengakui, APBS memberikan kenyamanan pada pelaku usaha kapal di dalam maupun luar negeri. Dulu, kedalaman laut di sekitar selat Madura hanya 9–10 meter. Lebarnya tidak lebih dari 100 meter.
Normalisasi membuat kedalaman bertambah hingga 13 meter dan lebar lebih dari 150 meter. Selain kapal barang, Pelabuhan Tanjung Perak menjadi tujuan wisata kapal pesiar.
Tahun ini ada empat kapal pesiar yang akan mampir ke Surabaya. Tiga di antaranya dipastikan mampir. Dua kapal sudah singgah dan satu kapal tiba Desember mendatang.
’’Tahun depan sudah banyak kapal pesiar yang mulai menyampaikan pemberitahuan,’’ ucap Yogi. Sebagian besar kapal pesiar berasal dari Eropa. Mereka transit sebelum atau sesudah dari Bali.
Jumlah penumpang yang mereka angkut cukup banyak. Yakni, 200–400 orang dalam sekali pelayaran. Penyempurnaan APBS juga menguntungkan importer. Selama ini mereka mengambil barang di Singapura.
Kini mereka cukup menunggu di Pelabuhan Tanjung Perak. ’’Ada penghematan,’’ ujar Ketua Gabungan Importer Nasional Indonesia (Ginsi) Jatim Bambang Sukadi.
Eksporter pun memiliki kesempatan lebih luas. Sebab, ada rute baru yang langsung dari negara pengirim ke Surabaya. Peluang pasar internasional semakin terbuka.
Meski begitu, ada sisi negatif sebagai dampak dari banyaknya kapal yang masuk pelabuhan. Pengawasan di lapangan kurang maksimal. Potensi barang ilegal masuk ke Surabaya juga meningkat. (riq/c15/oni/sep/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
