Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 November 2016 | 00.01 WIB

Surabaya Jadi Pusat Transit Kapal, Imbas Normalisasi APBS oleh Pelindo

DONGKRAK EKONOMI: Antrean kapal menjadi pemandangan setiap hari di APBS. - Image

DONGKRAK EKONOMI: Antrean kapal menjadi pemandangan setiap hari di APBS.

JawaPos.com – Normalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) mulai menunjukkan hasil signifikan. Indikasinya, arus masuk kapal ke Pelabuhan Tanjung Perak meningkat.



Surabaya menjadi tren transit kapal yang sebelumnya dikuasai Pelabuhan Singapura. Sebelum APBS dikeruk, kapal besar dari luar negeri enggan masuk ke Surabaya.



Mereka memilih berhenti di Singapura dan bongkar muat di negara tersebut. Wajar jika Singapura sempat menjadi pusat dagang dari 123 negara di dunia. Pascanormalisasi yang dilakukan PT Pelindo III pada 2014, alur pelayaran berubah.



Kapal besar kini tidak lagi transit di Singapura. Mereka memilih Surabaya karena lebih strategis. Mereka berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke negara lain seperti Australia.



Selain itu, tiga negara Asia mulai membuka rute baru ke Surabaya. Yakni, Korea, Jepang, dan Thailand. Wajar jika banyak kapal berbendera asing yang terlihat di Pelabuhan Tanjung Perak.



Mereka merupakan kapal besar yang selama ini hanya berhenti di Singapura. Humas PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak Oscar Yogi Yustiano memastikan jumlah kapal yang masuk ke Surabaya meningkat.



Pada triwulan III tahun lalu, yang masuk hanya 9.588 kapal. Triwulan yang sama pada 2016 mencapai 10.606 kapal. ’’Jumlah itu diperkirakan masih bisa meningkat,’’ katanya.



Yogi mengakui, APBS memberikan kenyamanan pada pelaku usaha kapal di dalam maupun luar negeri. Dulu, kedalaman laut di sekitar selat Madura hanya 9–10 meter. Lebarnya tidak lebih dari 100 meter.



Normalisasi membuat kedalaman bertambah hingga 13 meter dan lebar lebih dari 150 meter. Selain kapal barang, Pelabuhan Tanjung Perak menjadi tujuan wisata kapal pesiar.



Tahun ini ada empat kapal pesiar yang akan mampir ke Surabaya. Tiga di antaranya dipastikan mampir. Dua kapal sudah singgah dan satu kapal tiba Desember mendatang.



’’Tahun depan sudah banyak kapal pesiar yang mulai menyampaikan pemberitahuan,’’ ucap Yogi. Sebagian besar kapal pesiar berasal dari Eropa. Mereka transit sebelum atau sesudah dari Bali.



Jumlah penumpang yang mereka angkut cukup banyak. Yakni, 200–400 orang dalam sekali pelayaran. Penyempurnaan APBS juga menguntungkan importer. Selama ini mereka mengambil barang di Singapura.



Kini mereka cukup menunggu di Pelabuhan Tanjung Perak. ’’Ada penghematan,’’ ujar Ketua Gabungan Importer Nasional Indonesia (Ginsi) Jatim Bambang Sukadi.



Eksporter pun memiliki kesempatan lebih luas. Sebab, ada rute baru yang langsung dari negara pengirim ke Surabaya. Peluang pasar internasional semakin terbuka.



Meski begitu, ada sisi negatif sebagai dampak dari banyaknya kapal yang masuk pelabuhan. Pengawasan di lapangan kurang maksimal. Potensi barang ilegal masuk ke Surabaya juga meningkat. (riq/c15/oni/sep/JPG)

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore