Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 Januari 2017 | 07.08 WIB

Lori PG Candi Baru Kangen Bertemu Kebun Tebu

BERTENAGA BESAR: Suparman mengendarai traktor penarik lori yang mengantarkan tim ekspedisi berkeliling pabrik gula Candi Baru. - Image

BERTENAGA BESAR: Suparman mengendarai traktor penarik lori yang mengantarkan tim ekspedisi berkeliling pabrik gula Candi Baru.


Sisa-sisa masa keemasan lori di PG Candi Baru masih bisa diraba. Beberapa jalur lori masih dapat dilihat jelas. Ada yang melintas ke gudang atau bagian belakang bangunan. Puluhan lori diparkir di bagian belakang pabrik. Tidak ada aktivitas. Sebab, memang pabrik masih rehat. Belum masuk musim giling.


Kami sempat menelusuri jejak angkutan tebu tersebut. Jalur rel kami telusuri. Dimulai dari pintu masuk. Jalur lori memecah. Satu jalur mengarah ke mesin crane yang berfungsi mengangkut tebu ke mesin penggilingan. Satu jalur lagi menuju tempat penimbangan tebu.


Menurut Suparman, ketika musim giling, antrean truk tebu sangat banyak. Karena itu, pabrik akhirnya membuat dua jalur penimbangan tebu. Jalur yang pertama, setelah tebu dari truk ditimbang, crane langsung mengangkatnya. Untuk jalur kedua, setelah ditimbang, tebu diturunkan ke lori. Di sini, tebu-tebu itu masuk daftar antrean sebelum diperas mesin penggilingan. Bila sudah tiba gilirannya, lori-lori itu akan bergerak ke area crane.



***



Perkembangan zaman memang menuntut pabrik gula untuk terus melakukan inovasi dan modernisasi. Perubahan itu tentu bertujuan agar pengoperasian pabrik berjalan efisien. Menghapus penggunaan lokomotif dan menggantinya dengan traktor merupakan salah satu contoh. Dengan kinerja yang sama, biaya perawatannya lebih murah. Apalagi, PG Candi Baru sudah tidak lagi mengambil tebu langsung dari perkebunan.


”Sekarang tebu diantar truk ke pabrik,” ucap Kepala Bagian SDM dan Umum PG Candi Baru Fifin Suharnafi. Pengiriman ampas tebu juga berubah. Dulu sisa pemrosesan tebu itu diangkut menuju gudang dengan truk. Namun, cara tersebut ternyata menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga sekitar dan pengguna jalan. Saat pengiriman, ampas kerap berhamburan karena diterbangkan angin.


Sebagai solusi, PG Candi Baru membangun jalur pengiriman ampas tebu. Jalur itu menghubungkan pabrik dengan gudang. Bukan melalui jalur darat, melainkan melintasi sungai Candi. Kami sempat melihat jalur pengiriman ampas yang mulai beroperasi dua tahun lalu itu. Sisi-sisi dindingnya rapat tertutup seng.


Untuk mendongkrak produksi gula, pabrik juga mengganti mesin. Tahun lalu mesin dari Italia didatangkan. Bahan baku tebu juga diseleksi ketat. Kondisinya harus benar-benar bersih dan masak. ” Innovation or die. Itu yang kami pegang,” tegas dia.


Kami juga sempat bertemu dengan mantan pegawai PG Candi Baru. Namanya Harun Al Rasyid. Kurang lebih 17 tahun dia bekerja sebagai sinder tanaman. Mulai 1965 hingga 1982 Harun bertanggung jawab mengawasi penanaman tebu sampai tebang atau panen.


Menurut Harun, kualitas gula yang dihasilkan pabrik dulu jauh lebih baik. Sebab, setiap pabrik menerapkan sekali tanam sekali pangkas. Untuk tanam selanjutnya, tebu harus diganti. ”Jadi, rendemennya (kadar kandungan gula dalam batang tebu, Red) bisa 9–10 persen,” jelasnya. Dulu pabrik gula mengerjakan seluruh proses. Mulai pemilihan bibit, penanaman, penggilingan, sampai pemasaran. Tak heran, kualitas tanaman tebu bisa terkontrol. ”Kalau sekarang, pabrik hanya jadi 'kuli' untuk giling tebu,” paparnya. (*/c11/pri/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore