Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Januari 2017 | 20.34 WIB

Menelusuri Jejak Jalan Pecinan Kota Delta

KONSERVATIF: Go Siu Tin ( Sri Hartini ), 65 , kiri berada di dalam toko kelontong Wancu miliknya di Jalan Gajahmada 172 Sidoarjo (19/1). Dia merupakan generasi ke-3 penerus toko kelontong yang dulu berjaya di pecinan kota Sidoarjo itu. Boy Slamet/Jawa Pos - Image

KONSERVATIF: Go Siu Tin ( Sri Hartini ), 65 , kiri berada di dalam toko kelontong Wancu miliknya di Jalan Gajahmada 172 Sidoarjo (19/1). Dia merupakan generasi ke-3 penerus toko kelontong yang dulu berjaya di pecinan kota Sidoarjo itu. Boy Slamet/Jawa Pos


Ciri khas toko tersebut sebagai toko peninggalan era pecinan adalah masih adanya berbagai barang dan jajanan lawas. Mulai wangko, permen jahe, linting jahe, dan kebutuhan sembahyang warga Tionghoa. ’’Tempat jajanannya juga masih pakai etalase lawas. Tidak kami ganti karena ini peninggalan kakek,’’ ujarnya.


Saat ini toko tersebut justru menjadi salah satu sejarah sisa-sisa bangunan pecinan di Sidoarjo. Hartini mengungkapkan, kadang banyak orang yang datang untuk bernostalgia. Karena itu, keluarga Wancu tetap berupaya tidak mengubah bangunan tersebut.


’’Pernah kami ingin renovasi agar toko lebih bagus seperti yang lain. Tetapi, dicegah karena sejarahnya akan hilang. Ini sebuah penghormatan juga buat kakek,’’ katanya.


Pada 1970-an, ketika Hartini menikah dengan The Hwie Kwan, belum banyak toko di Jalan Pecinan. Jarak antartoko pun tidak jauh. Mayoritas penghuninya adalah etnis Tionghoa. Pada 1985-an, jalan di depan toko mulai dilebarkan hingga dua kali. Lalu, pada 1990-an, bangunan-bangunan modern pun mulai bermunculan.


’’Dulu masih sepi. Sekarang ramai. Yang lama sendiri hanya di sini yang bertahan,’’ jelasnya.



Permukiman Lama Etnis Tionghoa


DI Jalan Gajah Mada terdapat rumah dengan bangunan khas pecinan yang masih asli. Yakni, di Jalan Gajah Mada 11. Letaknya di ujung utara. Rumah itu merupakan milik The Sian Lins atau Henskie Tedjaprawira.


Henskie menceritakan, rumah yang kini ditempati itu berdiri sebelum 1900. Lebih dari seabad. Namun, rumah tersebut tetap bertahan dengan keasliannya. Kondisinya tampak kurang terawat. Dia memang sengaja tidak ingin merenovasi rumah itu. ’’Sudah wasiat dari ayah agar rumah ini tidak dibongkar atau diubah-ubah,’’ katanya.


Pria 78 tahun tersebut mengatakan tidak ingin meninggalkan rumah itu. Sebab, rumah tersebut menyimpan kenangan yang begitu indah sejak kecil bersama ayahnya, The Sioe Khoen. Bermain di halaman rumah yang begitu luas dengan pepohonan nan rindang. ’’Waktu saya masih kecil, rumah ini megah. Halamannya luas. Ada gapura di depan. Sekarang sudah terpotong 5,5 meter untuk jalan raya,’’ ungkapnya.


Kakek Henskie, The Yan Hie, mendirikan rumah itu bersama warga etnis Tionghoa lain di sepanjang Jalan Gajah Mada. Saat itu kawasan tersebut menjadi permukiman dan perdagangan etnis Tionghoa. ’’Dulu, banyak warga etnis Tionghoa yang tinggal di sepanjang jalan ini. Sekarang tinggal saya. Mungkin masih ada, tetapi saya tidak tahu,’’ ucapnya.


Ketika itu kawasan tersebut masih dinamakan Jalan Pecinan. Sekitar 1965-an Pemkab Sidoarjo mengubah beberapa nama jalan di Sidoarjo. Termasuk Jalan Pecinan yang kemudian berganti nama menjadi Jalan Gajah Mada. ’’Dulu, namanya Jalan Pecinan. Bukan Gajah Mada,’’ tegasnya.


Henskie menyatakan, bangunan tua berusia ratusan tahun itu akan tetap dipertahankan. Tidak boleh dijual ataupun dibongkar. Itu merupakan pesan ayah dan kakeknya. Sebab, rumah tersebut memiliki sejarah yang penting bagi keluarga besarnya. ’’Ayah selalu mengingatkan, rumah jangan sampai dijual, kecuali sampai tidak bisa makan. Lebih baik dikontrakkan saja,’’ paparnya.


Menurut Henskie, kawasan Pecinan Sidoarjo dulu merupakan pusat perdagangan. Ada banyak perusahaan besar di kawasan tersebut. Di antaranya, perusahaan kayu dan kerupuk. ’’Sekarang sudah banyak yang tutup,’’ tuturnya.



Perubahan itu disebabkan banyaknya warga Tionghoa yang memilih hengkang dari Sidoarjo. Tidak ada yang meneruskannya. Kini Henskie masih bertahan di rumah tua tersebut. Dia tetap tidak ingin meninggalkan Sidoarjo. Dia ingin menjaga rumah yang menjadi warisan dari kakek dan ayahnya. ’’Anak-anak saya sudah tinggal di luar kota. Saya tinggal di rumah ini dengan kakak saya. Menjaga rumah agar bisa menjadi sejarah keluarga,’’ paparnya. (*/c5/c15/hud/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore