
INGIN SEMBUH: Berat badan Miskulah mencapai 105 kilogram dengan tinggi 155 sentimeter saat diukur di Puskesmas Jabon.
Jawa Pos.com – Setelah menjalani pemeriksaan di Puskesmas Jabon, Miskaulah mengaku kondisinya relatif menjadi lebih baik. Keluhan pusing yang dialami hampir seminggu pun perlahan mulai reda.
Perempuan pemakan ayam hidup-hidup selama bertahun-tahun itu dijadwalkan mendatangi RSUD Sidoarjo. Miskaulah ingin sembuh dari kebiasaan ganjil tersebut.
’’Sekarang masih agak lemas saja. Enggak tahu kenapa. Tetapi, lebih mendingan,” kata janda dua anak itu. Miskaulah mengatakan sudah tidak sabar untuk bisa menjalani pengobatan di RSUD Sidoarjo.
Karena itu, kemarin dia memilih lebih banyak istirahat. ’’Saya enggak ke mana-mana. Istirahat saja biar bisa ke RSUD Sidoarjo,” ujarnya. ’’Saya sedikit takut sebenarnya mau terapi lagi ke RSUD,” lanjutnya.
Namun, dorongan kuat agar bisa sembuh total dari kebiasaan memakan ayam hidup membuat dia bersemangat. Selama ini Miskaulah belum bisa terbebas dari kebiasaan memakan ayam hidup itu.
Bahkan, saat diterapi dokter spesialis kejiwaan RSUD pada 2011, dia terkadang sembunyi-sembunyi memakan ayam hidup. ’’Banyak orang yang tahu bahwa saya sudah sembuh. Padahal, saya masih makan sebulan sekali buat obat pengin saja,” ujarnya.
Selama makan ayam hidup, kata dia, tubuhnya tidak pernah sakit. Biasanya rasa sakit seperti pusing dan lemas itu muncul ketika keinginan memakan ayam hidup belum dituruti.
’’Setiap malam saya masih susah tidur. Yang saya pikirkan hanya ayam hidup,” ungkapnya. Miskaulah pun membulatkan tekad untuk bisa sembuh total.
Karena itu, dia datang ke Puskesmas Jabon dan mendapat rujukan ke RSUD Sidoarjo. Dia diagendakan datang ke poli psikiatri untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kejiwaan.
’’Saya sudah tidak sabar,” ungkap perempuan asal Dusun Jangan Asem, Desa Trompoasri, Kecamatan Jabon, tersebut. Memang, Miskaulah pernah menjalani terapi di RSUD Sidoarjo dengan dokter spesialis kejiwaan.
Terapi yang dijalaninya pun sangat bagus dan menunjukkan perubahan yang baik. Keinginan makan ayam hidup yang semula sangat kuat berangsur berkurang. Bahkan, dia sempat benar-benar berhenti makan ayam hidup.
’’Pokoknya, selama masih minum obat, saya tidak makan ayam hidup. Namun, setelah obat habis, ada bisikan mulai pengin lagi,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Miskaulah memiliki kebiasaan memakan ayam hidup sejak duduk di bangku kelas V SD. Kebiasaan itu muncul lantaran kondisi ekonomi keluarganya serba kekurangan.
Memenuhi kebutuhan makan saja sangat susah. Akhirnya, saat kecil, dia terpaksa memakan hewan-hewan yang ditemukan di sungai secara mentah-mentah. Mulai yuyu, jangkrik, hingga ikan.
Ketika memakan darah yang keluar dari ikan, dia langsung menyukainya. Hingga akhirnya, Miskaulah memiliki ambisi untuk bisa memakan ayam hidup.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
