Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 November 2016 | 23.10 WIB

Napak Tilas Sekolah Bersejarah di Kota Delta

CAGAR BUDAYA: Siswa SDN Pucang 2 menyusun bangku di ruang kelas. Beberapa sentuhan gaya lawas bangunan masih dipertahankan, seperti kawat ram di sisi atas dinding. - Image

CAGAR BUDAYA: Siswa SDN Pucang 2 menyusun bangku di ruang kelas. Beberapa sentuhan gaya lawas bangunan masih dipertahankan, seperti kawat ram di sisi atas dinding.

Beberapa sekolah di Sidoarjo berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Meski sudah berkali-kali direnovasi, tetap ada ciri khas yang dipertahankan.





MASIH teringat jelas di benak M. Toha, mantan kepala SDN Pucang 3 Sidoarjo, pada peristiwa 20 tahun silam. Ketika itu dua pria berkebangsaan Belanda datang menemuinya.



Dua pria asing itu datang atas mandat kakek mereka, Mr PH Claassen, untuk mencari sekolah yang pernah dipimpinnya saat penjajahan Belanda di Jawa Timur. Tepatnya di Sidoarjo.



Dua pria asal Utrecht, Belanda, itu adalah Mr MJM Claassen dan Mr Pim Claassen. Mereka datang dengan membawa selembar foto hitam putih.



Di dalam gambar tersebut terdapat foto Mr PH Claassen berdasi kupu-kupu saat masih menjabat kepala sekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Sidoarjo periode 1920–1927.



Mr PH Claassen duduk bersama dengan murid-muridnya tepat di depan gedung sekolah. Kedatangan kakak beradik itu bertujuan mencari HIS yang pernah menjadi sejarah bagi sang kakek sebagai kepala sekolah.



Sebab, menurut Mr PH Claassen, Ir Soekarno, presiden pertama Indonesia, juga pernah mengenyam pendidikan selama dua tahun di sekolah tersebut.



Mr MJM Claassen dan Mr Pim Claassen diberi petunjuk bahwa HIS tersebut berlokasi di dekat Alun-alun Sidoarjo. Makanya, mereka datang ke SDN Pucang 3 yang menghadap Alun-alun.



Toha yang menduga sekolah yang dicari itu sebenarnya adalah SDN Pucang 2 pun langsung mengantarkan kedua tamunya itu ke sekolah yang dimaksud. Yakni, SDN Pucang 2.



’’Pak Toha langsung yang menerima kedua cucu dari Mr PH Claassen. Sebab, hanya Pak Toha yang bisa berbahasa Inggris waktu itu,’’ ungkap Yunis Rasmiyanti, kepala SDN Pucang 2, Jumat (4/11).



Pernyataan dari dua pria kebangsaan Belanda itu tentu mengejutkan seluruh guru di kompleks SDN Pucang pada 1996. Sebab, tidak ada jejak sejarah yang ditinggalkan di gedung sekolah tersebut.



Nomor induk siswa pada zaman penjajahan Belanda juga sudah tidak ada. Meski begitu, informasi tersebut menjadi kebanggaan bagi sekolah dan keluarga besar Mr PH Claassen.



’’Cucu dari kepala HIS sendiri bercerita kalau kakeknya pernah menjadi kepala sekolah di Sidoarjo. Mereka (Mr MJM dan Mr Pim Claassen, Red) diminta untuk mengecek kondisinya sekarang,’’ ujar Yunis.



Berbekal informasi sang kakek, akhirnya Mr MJM dan Mr Pim Claassen menemukan sekolah tersebut. Namun, namanya sudah berganti menjadi SDN Pucang 2.



Mereka sangat gembira melihat sekolah itu lebih bagus daripada sebelumnya. ’’Mereka terlihat senang sekali. Bahkan bangga dengan sekolah ini. Karena sekolah ini pernah dipimpin kakeknya,’’ katanya.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore