
BUNGA LAUTAN: Teguh Prasodjo menyelam untuk mengobservasi terumbu karang yang tumbuh di gading kapal SS Bengal.
Gugusan karang di dekat pulau pasir atau Gosong Gili sudah memakan banyak korban. Saat air surut, bangkai kapal uap SS Bengal yang muncul ke permukaan bak tugu penanda bahaya. Bila tidak mau tenggelam, kapal yang Anda tumpangi jangan coba-coba mendekat! Tempat itu juga dikenal sebagai rumah ’’hantu laut’’.
JANGAN melintasi Gosong Gili saat malam. Begitu pesan Ketua Komunitas Nelayan Tasek Tanean Bawean Iwan Safari. Berdasar cerita yang berkembang antarwarga, gugusan karang itu bisa menjelma menjadi sebuah dermaga yang hendak dituju pelaut, lengkap dengan kerlap lampunya. ”Kalau mau ke Pelabuhan Perak ya mirip Pelabuhan Perak, kalau mau ke Pelabuhan Gresik ya mirip Pelabuhan Gresik,” ujar salah seorang tokoh yang dikenal gemar melestarikan lingkungan tersebut.
Namun, begitu bersandar, nakhoda dikagetkan dengan lenyapnya dermaga itu. Gemerlap lampunya juga hilang. Tidak lama kemudian, nakhoda mendapati kapalnya kandas. Batu-batu karang mengunci lambung kapal sehingga tidak bisa bergerak ke mana-mana.
Sebagian masyarakat Bawean percaya bahwa di Gosong Gili ada penunggunya. Mereka menuding banyaknya kecelakaan di sana adalah ulah ’’hantu laut’’. Karena itu, kini jarang ada kapal atau perahu yang berani mendekat ke sana. Kecuali nakhoda kapal tersebut benar-benar tidak tahu bahaya di sana.
Iling Khairil Anwar, arkeolog asal Bawean, mengamini perkataan Iwan. Duo sahabat itu mendapatkan banyak cerita dari orang-orang yang sempat terjebak, namun berhasil selamat. Sebagian besar menceritakan bahwa perairan dangkal tersebut memang menyerupai pelabuhan. ”Dibilang mitos ya mitos. Tapi, ceritanya orang-orang yang selamat kok ya, begitu,” jelas alumnus Universitas Udayana Bali itu.
Korban terakhir yang nyangkut di Gosong Gili adalah suami-istri asal Jerman, Klaus Melenk dan Rosemarie Melenk. Keduanya berhasil diselamatkan setelah yacht yang mereka kemudikan kandas di perairan Gosong Gili pada 11 September 2016.
Ketika itu keduanya hendak berlayar dari Bali menuju Singapura. Namun, kapal tersebut berbelok arah dari jalur pelayaran komersial. Saat itu terjadi badai. Klaus Melenk hendak menepikan kapalnya di daratan. Namun, dia justru terjebak di Gosong Gili. Selama tiga hari, dia terapung-apung di tengah laut Jawa.
Yacht milik pria berusia 64 tahun itu sempat kami lihat saat perjalanan menuju Gosong Gili. Kapal tersebut tidak dipulangkan ke Jerman, melainkan terparkir di dekat dermaga Pulau Gili Noko. Kabarnya, kapal itu telah diberikan kepada penduduk setempat. Orang yang mendapatkannya seperti mendapat durian runtuh.
Namun, cerita-cerita tersebut justru menyelamatkan terumbu karang yang tumbuh di perairan itu. Lantaran tidak banyak perahu nelayan atau kapal yang berani mendekat, karang-karang pun tumbuh dengan sehat. Karena itu, apabila ingin menyaksikan terumbu karang terbaik di Bawean, di sanalah tempatnya.
Fotografer Jawa Pos Guslan Gumilang ditemani penyelam terbaik sentra selam Jogjakarta Ahmad Surya Ramadhan dan Teguh Prasodjo juga berupaya melihat perkembangan terumbu karang di sana. Mereka menyelam secara terpisah dengan tim balai arkeologi Jogjakarta.
Terumbu karang terlihat begitu hidup tidak seperti kapal karam di dekat Pulau Nusa. Pada penyelaman dua hari sebelumnya, peneliti nyaris tidak menemukan karang yang hidup. Tidak seperti SS Bengal, kapal tersebut dijarah sejak lama. Boleh jadi sebelum Indonesia merdeka. Beberapa sesepuh Bawean yang berusia 80 tahun bahkan menyatakan bahwa mereka tidak pernah melihat wujud asli kapal itu. Yang mereka tahu, kapal tersebut sudah terpotong-potong oleh penambang besi tua. Kapal itu menjadi penghuni Gosong Gili sejak 1885. Kapal yang membawa 2.000 ton beras dari Saigon, Vietnam, tersebut kandas menabrak karang.
Pakar Tenik Kelautan Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) Heny Budi mengidentifikasi karang-karang yang menyelimuti SS Bengal berjenis karang bercabang atau acroporidae. Ada juga table coral yang tumbuh pipih menyerupai meja.
Karang-karang itu terlihat menempel di ujung-ujung kerangka kapal yang telah dimutilasi. Di bagian blok mesin, karang tidak bisa tumbuh sempurna. Sebab, jika air laut surut, blok mesin bakal terpapar sinar matahari secara langsung.
Heny menjelaskan bahwa koral tersebut sebenarnya makhluk hidup. Itu adalah sejenis hewan yang bersimbiosis dengan alga. Hewan yang disebut polip tersebut lalu membentuk koloni dengan jumlah ribuan hingga jutaan polip. Semakin lama usia karang, makin banyak jumlah koloninya. ”Mereka bukan tumbuhan karena tidak berfotosintesis dan tidak punya klorofil,” ucap perempuan asal Semarang itu.
Semakin sehat terumbu karang, akan makin banyak pula jenis ikan dan populasinya. Ikan-ikan menjadikan terumbu karang sebagai rumah mereka. Predator besar tidak bisa mejangkau celah-celah karang yang cukup tajam tersebut.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
