
RUANG SERBAGUNA: Aula besar di lantai dua yang difungsikan sebagai gereja. Selain itu, ruang tersebut menjadi tempat berkumpul warga dalam beberapa acara. Kalau tak ada acara, ruangan itu menjadi tempat menjemur.
Gedung Setan, nama bekennya, memang gampang menarik perhatian. Gedungnya kukuh dan lebih tinggi jika dibandingkan dengan bangunan lain di sekitarnya. Meskipun, kini ia tertatih-tatih melawan tingginya flyover Pasar Kembang dan ’’gangguan’’ tenda-tenda pasar yang menempel di sekitarnya.
—————
GEDUNG Setan masuk dalam daftar cagar budaya di Surabaya sejak 2013. Bangunannya memang khas kolonial yang sudah beradaptasi dengan iklim tropis. Artistik. Tapi tetap kukuh dan sederhana.
Sebagaimana kebanyakan bangunan kolonial, warnanya putih. ’’Warnanya ya dari dulu putih seperti saat ini. Hanya, ya sekarang sudah banyak cat yang terkelupas,’’ ujar Freddy Handoko Istanto, direktur Surabaya Heritage Society (Sjarikat Poesaka Soerabaia).
Jendela-jendela lebar tampak menyeruak pada bagian kolom utama bangunan yang berbahan bata dengan gaya Yunani klasik. Khas tropis. Banyak jendela, banyak pula angin yang masuk ke dalam ruangan. Dengan plafon yang tinggi, hawa di dalam gedung tetap sejuk.
Ciri khas bangunan kolonial itu juga tampak pada bentuk gambrel roof. Yakni, atap yang melengkung dan curam. Bentuk itu juga penyesuaian iklim tropis. Saat hujan datang, air cepat mengalir ke bawah. Atap jadi tak gampang rusak.
Bangunan Belanda juga punya halaman luas. Areanya mengelilingi seluruh bagian bangunan. Jadi, bangunan tampak seperti titik pusat di antara area lapang. ’’Pada zaman dulu, area luas itu digunakan sebagai pertahanan. Ada pagar besar menjulang sebagai pembatas,’’ terang dekan Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) tersebut.
Tentu, areal luas itu sudah tak ada. Gedung Setan dikelilingi rumah penduduk. Saat pagi, bagian depannya berubah menjadi pasar. Suasana ramai dan sesak. Gedung seolah tenggelam dan menyisakan potongan lantai bagian depan yang berbahan batu alam.
Dulu, luas lahannya sekitar 7 ribu meter persegi. Bangunannya sendiri pun 500 meter persegi.
Tampilan eksterior bangunan mencerminkan desain dalamnya. Tidak banyak sekat pada gedung. Ada sisi lapang sebagai center di lantai 1. Ruangan itu sering digunakan sebagai tempat pertemuan keluarga besar penghuni. Lokasi itu terlihat dari berbagai sisi ruangan mana pun.
Lantai maupun dinding didesain kuat. Begitu juga tangga penghubung antara lantai 1 dan lantai 2. Bentuknya melingkar dengan tiga anak tangga.
’Tapi, kalau sekarang, keadaan berbeda. Sudah banyak sekat untuk rumah penghuni di dalam,’ jelas dosen Departemen Arsitektur-Interior UC tersebut.
Lantai 1 terdiri atas 36 rumah, kamar mandi umum, dapur, dan tempat parkir. Lantai 2 merupakan gabungan 17 rumah dan gereja. Material yang khas masih dapat terlihat hingga saat ini. Yakni, batu bata, kayu jati, dan batuan. Komposisi itulah yang membuat bangunan kolonial Belanda tersebut awet.
Gedung Setan dari waktu ke waktu
1809

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
