Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Mei 2017 | 23.25 WIB

Waliyah Zaenab Juga Wariskan Keramik Tiongkok

KUNO: Temuan piring yang masih utuh dari dinasty Ming tahun 1617 SM di Dusun Balong, Desa Diponggo, kepulauan Bawean, Gresik. - Image

KUNO: Temuan piring yang masih utuh dari dinasty Ming tahun 1617 SM di Dusun Balong, Desa Diponggo, kepulauan Bawean, Gresik.



***



Tujuan selanjutnya ialah makam Waliyah Zaenab. Lokasinya di atas bukit. Jaraknya sekitar 350 meter dari bibir pantai.



Waliyah Zaenab adalah salah seorang tokoh penyebar agama Islam di Bawean. Setelah 10 menit berjalan kaki, kami bertemu dengan Kepala Desa Diponggo Muhammad Salim. Rumahnya berdekatan dengan makam putri Sunan Bungkul dari Surabaya itu. ”Mau langsung ke makam?” tanya Salim dengan ramah.



Saat itu sudah pukul 16.00. Tim harus bergegas untuk mengumpulkan data arkeologi yang ada di makam. Bila sinar mentari hilang, foto-foto yang diambil tidak maksimal.



Saat memasuki areal makam, seluruh anggota tim harus melepas alas kaki. Itu sudah menjadi keharusan. Sebab, lokasinya berdampingan dengan masjid Desa Diponggo.



Terdapat ruangan pusaka di balik makam tersebut. Ada dua tombak yang dibungkus kain kuning, keramik berukuran besar, dan bejana yang terbuat dari logam.



Dua keramik itu lebih besar ketimbang keramik yang dimiliki Azizah. ”Yang ini istimewa. Sepertinya merupakan hadiah atau pemberian dari raja,” ujar Tri sembari mengangkat keramik bergambar burung dan dedaunan.



Keramik itu diduga berasal dari abad ke-15. Sebab, Waliyah Zaenab dikisahkan menjadi istri kedua Sunan Giri yang hidup di masa itu. Pada abad ke-15, Tiongkok dikuasai Dinasti Ming. Karena itu, Waliyah Zaenab diperkirakan punya hubungan dengan dinasti yang berkuasa pada abad ke-14-17 tersebut.



Setelah mengamati keramik, perhatian arkeolog berpindah ke bejana berdiameter 75 sentimeter dengan tinggi 25 sentimeter. Masyarakat sekitar menyebutnya gelebung. Bahannya berasal dari tembaga. Lantaran ruangan pusaka gelap, tim harus membawa benda itu keluar ruangan.



Terdapat ukiran-ukiran hewan di sekeliling bejana. Di antaranya, tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. ”Ini kok seperti hewan-hewan yang ada di shio Tionghoa ya?” ujar salah seorang arkeolog, Alifah.



Setelah dicek, ternyata memang benar. Sebanyak 12 hewan itu memang menjadi simbol zodiak Tiongkok. Hal tersebut semakin menguatkan bahwa Waliyah Zaenab punya hubungan dengan Tiongkok pada masa lalu.



Tak terasa sinar mentari semakin meredup. Sumber penelitian dirasa sudah cukup memuaskan. Tim sudah mencatat ukuran sekaligus memotret pusaka-pusaka itu.



Perjalanan esoknya adalah penelitian bawah air di perairan Pulau Nusa. Itu hari yang paling ditunggu.



Menurut catatan Dictionary of Disasters at Sea During the Age of Steam oleh Charles Hocking (1969), ada empat kapal karam di perairan Bawean, SS (steam ship) Bengal, Janbi Maru, Langkoeas, dan Leeds City. Di antara ketiganya, masih SS Bengal yang berhasil diidentifikasi.



Tiga kapal itulah yang akan diburu para peneliti... (*/c7/dos)

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore