Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Mei 2017 | 23.25 WIB

Waliyah Zaenab Juga Wariskan Keramik Tiongkok

KUNO: Temuan piring yang masih utuh dari dinasty Ming tahun 1617 SM di Dusun Balong, Desa Diponggo, kepulauan Bawean, Gresik. - Image

KUNO: Temuan piring yang masih utuh dari dinasty Ming tahun 1617 SM di Dusun Balong, Desa Diponggo, kepulauan Bawean, Gresik.


Tim Balai Arkeologi Jogjakarta masih penasaran dengan ribuan pecahan keramik yang ditemukan di Pantai Diponggo, Jumat (5/5). Informasi pun digali dengan mencari warga yang tinggal di sekitar pantai. Kabarnya, warga Diponggo punya koleksi keramik paling banyak di seluruh Pulau Bawean.



------



LOKASI kali pertama yang dituju adalah rumah Nur Azizah. Rumahnya menghadap ke utara. Paling dekat dengan bibir pantai. Saat itu azan Asar berkumandang dari masjid di atas bukit. Penanda bahwa waktu penelitian menipis. Sisa waktu penelitian darat hanya tiga jam lagi. Sebab, tim harus kembali ke penginapan sebelum matahari terbenam.



Azizah, perempuan 35 tahun itu, sudah menyiapkan dua keramik asal Tiongkok. Wujudnya berupa mangkuk berdiameter 30 sentimeter. Katanya, keramik itu didapat turun-temurun dari buyutnya. ”Enggak tahu dari tahun berapa,” ujar perempuan keturunan Bugis-Bawean tersebut.



Selama ini banyak kolektor yang memburu keramik-keramik Pulau Putri, sebutan lain Bawean. Namun, Azizah sudah dipesani orang tuanya. ’’Jangan menjual keramik itu. Peninggalan keluarga, tak ternilai harganya,” ujar Azizah yang menirukan perkataan ibunya.



Tentunya, para peneliti lega setelah melihat keramik utuh itu masih sangat terawat. Peneliti menganggap keramik kuno tersebut sebagai sumber daya arkeologi. Tak pelak, seluruh anggota tim berebut melihat keramik yang diletakkan di kursi panjang yang sudah disiapkan Azizah.



Mereka kegirangan. Seperti melihat rangkaian puzzle yang sudah disatukan. Bagaimana tidak. Satu jam sebelumnya, mereka hanya berkutat dengan serpihan keramik yang tersebar di bibir pantai.



’’Wah, keramik bagus ini,” ujar Tri Marhaeni, salah seorang arkeolog.



Sebelumnya, Tri menerangkan perbedaan keramik Dinasti Ming dan Qing dari pecahan keramik di pantai. Nah, dengan keberadaan dua keramik utuh tersebut, dia bisa menjelaskan lebih detail (lihat grafis).



Dia lalu menunjuk keramik di sebelah kiri. Keramik Dinasti Ming. Keramik itu bergambar rumah berarsitektur Tiongkok. Komplet dengan pepohonan, pagar, jembatan perahu, dan dua burung yang saling berhadapan.



Goresan tinta biru pada keramik begitu detail. Bahkan, wujud dedaunan dilukis hingga berukuran 1 milimeter.



Sementara itu, keramik di sebelahnya berupa lukisan abstrak. Sekilas coretan-coretan itu mirip aksara Arab. Namun, setelah diperhatikan, goresan tersebut tidak bisa dibaca. ”Bukan. Itu bukan dari Arab. Itu dari Dinasti Qing,” ucap pria yang menjabat Kasubbag TU Balar Jogjakarta tersebut.



Tiongkok memang pernah menjadi raja keramik. Sekitar 5000 SM, mereka sudah menemukan cara membuat tembikar. Keramik putih biru yang ada di hadapan kami mulai dikembangkan pada zaman Dinasti Tang (618-907). Penyempurnaannya terjadi saat Dinasti Ming (1368-1644).



Keramik-keramik itu dibuat para perajin kerajaan. Sejak awal pemerintahan Dinasti Ming, pabrik-pabrik mulai berdiri. ’’Dahulu keramik semacam ini diproduksi di Kota Jingdezhen,” ujar Tri yang banyak mempelajari tentang keramik kuno.



Pada masa Dinasti Ming, ditemukan berbagai teknik dekorasi dan pewarnaan oleh para seniman keramik. Keramik putih dengan lukisan biru yang ada di hadapan kami memang sangat populer pada zamannya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore