Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Juni 2017 | 00.09 WIB

Panen Raya, Harga Kunyit Malah Anjlok

TUMPANG SARI: Petani menjemur kunyit di Desa Kesamben Wetan, Driyorejo, kemarin. Pasar terbesar kunyit kering itu adalah Tiongkok. - Image

TUMPANG SARI: Petani menjemur kunyit di Desa Kesamben Wetan, Driyorejo, kemarin. Pasar terbesar kunyit kering itu adalah Tiongkok.


JawaPos.com – Lebaran 2017 ini petani kunyit Desa Kesamben Wetan, Driyorejo, tidak bisa menikmati ”khasiat” tambahan. Sebab, harga rempah-rempah yang juga disebut kunir itu anjlok di pasar internasional. Boiman, 51, petani setempat, menyatakan bahwa biasanya harga kunyit berada di atas Rp 2.000 per kilogram. ”Sekarang hanya mencapai Rp 1.500–1.800 per kilogram,” ujarnya Selasa (13/5).



Selama ini hasil kunyit Desa Kesamben Wetan lebih banyak memenuhi pasar luar negeri. Tujuan ekspor terbesar adalah Tiongkok. Fatima, petani lainnya, menambahkan, selama ini mereka tidak langsung bertransaksi dengan pihak end buyer. Para perantara membeli hasil panen mereka. Diduga, perantara memainkan harga pasaran. Namun, petani desa setempat tetap nrimo. ”Biasanya kalau panen raya, harga anjlok seperti sekarang,” katanya.



Petani Kesamben Wetan memanfaatkan lahan tadah hujan untuk menanam kunyit. Itu pun bersistem tumpang sari. Kunyit ditanam di antara pohon jagung. Dipanen setahun sekali. ”Lahan 1 hektare bisa menghasilkan 2 ton kunyit,” ucap Usman, 55, petani kunyit. (yad/c16/dio)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore