Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Februari 2017 | 19.57 WIB

Pertahankan Generasi Pembatik Desa Kepatihan

PENGARUH LINGKUNGAN : Solkhayati (kanan) dan Kasiyani saat membatik motif urang bandeng pada Selasa (14/2) di rumahnya. - Image

PENGARUH LINGKUNGAN : Solkhayati (kanan) dan Kasiyani saat membatik motif urang bandeng pada Selasa (14/2) di rumahnya.

JawaPos.com – Selain kuliner, Desa Kepatihan, Tulangan, juga tenar dengan batik tulisnya. Lebih dari 40 pengusaha batik masih eksis. Hasil karya warga kerap dijadikan pakaian seragam aparatur desa, guru, dan pegawai kantoran.


Kasi Pemerintahan Desa Kepatihan Satuman menuturkan, dulu sebagian besar penduduk desanya berprofesi sebagai pembatik. Itu hampir rata di tiga dusun yang ada. Yakni, Dusun Kepatihan, Kedurus, dan Ngemplak. ”Saat ini tinggal puluhan. Baju yang saya pakai ini juga hasil batik dari usaha milik Solkhayati di RT 1, RW 2,” ujar Satuman sambil menunjukkan batik biru bermotif bunga kemarin (14/2).


Satuman pun mengajak Jawa Pos untuk mengunjungi usaha Solkhayati. Di halaman rumah ibu dua anak itu, empat lembar kain batik berukuran 2x2 meter sedang dijereng. Tidak jauh dari tempat menjereng, dua orang sedang asyik menggoreskan canting. Mereka adalah Solkhayati dan kakaknya, Kasiyani.


Sambil mencanting, Solkhayati menceritakan pengalaman belajar membatik. Perempuan kelahiran Sidoarjo, 25 Desember 1970, tersebut masih duduk di bangku sekolah dasar ketika mulai belajar membatik. Dia tanpa malu-malu mendatangi para tetangga yang memiliki usaha batik. Semula, dia hanya melihat proses membatik. Sampai Solkhayati memahami seluruh proses membuat batik. ”Sejak saya kecil, di sini sudah banyak pembatik. Tak ada yang tahu kapan tahun pastinya,” ujar istri Zulkifli itu.


Semakin beranjak dewasa, Solkhayati semakin mahir sehingga bekerja di salah satu tempat usaha batik tulis Jetis. ”Sampai saya nikah dengan orang Jetis,” ujarnya. Setelah menikah, dia membuka usaha sendiri di rumah hingga sekarang. Banyak sekali motif batik yang sudah dibuat. Misalnya motif urang bandeng khas Sidoarjo, kembang pring, sekar jagad, beras kutah, klidungan, serta kembang asem. ”Pernah juga membuat motif batik karya saya sendiri, namun tidak jauh beda dengan motif daun-daun dan bunga-bunga,” ujarnya.


Dia pun telah memiliki banyak pelanggan. Selain perangkat desa yang memakai batiknya untuk seragam, banyak juga pelanggan dari sekolah-sekolah di Sidoarjo dan Pasuruan. Dia juga kerap mengikuti pameran. ”Terakhir kami kirim untuk seragam guru di daerah Trawas,” ucapnya.


Soal harga, dia menyebut bervariasi. Harga disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kesulitan. Batik untuk sarung ukuran 2x2 meter dihargai sekitar Rp 150 ribu. Sedangkan kain untuk pakaian dibanderol dengan harga mulai Rp 180 ribu sampai Rp 200 ribu.


Jenis kain untuk sarung dan pakaian, lanjut dia, sama. Bedanya, untuk pakaian, tekstur kain cenderung lebih halus. Menurut dia, yang paling sulit dan mahal adalah batik motif alusan. Dia hanya membuat itu saat ada pesanan. Sebab, dibutuhkan ketelatenan tinggi. Selain itu, peminat batik tersebut lebih sedikit daripada batik motif lain. Rata-rata penghasilan dari penjualan batik per minggu bisa mencapai Rp 4,5 juta. (uzi/c11/dio/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore