
PASANGAN SANGAT BERBAHAGIA: Rianto Nurhadi dan istrinya, Indrawati. Mereka sudah 60 tahun berumah tangga.
Tiap hari Minggu, di rumah inilah lima anaknya, lima menantunya, 12 cucunya, dan dua cicitnya berkumpul. Makan-makan bersama. Bercengkerama. Bercanda.
Bicara kerukunan dalam keluarga, Rianto Nurhadi harus jadi percontohan nasional. Padahal Rianto adalah keluarga besar. Dia anak kedua dari 11 bersaudara. Tapi semuanya rukun. Sampai hari ini. Hebatnya, dari 11 bersaudara itu baru satu yang meninggal. Itu pun belum lama ini.
Keluarga ini kelihatannya memang keluarga dengan gen umur panjang. Ibu yang melahirkan Rianto baru meninggal di usia 104 tahun. Ibu yang melahirkan istrinya juga baru meninggal di usia lebih 100 tahun.
Dari 11 bersaudara Rianto itu tidak ada yang bukan pengusaha. Bahkan yang tiga orang tergolong pengusaha konglomerat tingkat nasional. Termasuk Rianto sendiri dengan grup PT Indospring-nya. Rianto tidak mau menilai mana yang terbesar di antara tiga itu. Dia hanya bilang dengan nada yang amat merendah: yaaah seimbang lah.
Bagi saya, Rianto bukan hanya pengusaha besar. Yang juga saya kagumi adalah: dia pengusaha perintis! Dia bukan tergolong pengusaha ikut-ikutan. Bukan pengusaha ubyak-ubyuk. Bukan pengusaha yang merebut lahan orang lain. Bukan pengusaha yang menyaingi usaha yang lagi sukses.
Rianto adalah pengusaha yang merintis sejak babat alas. Sejak belum ada orang memasuki bisnis pegas/per mobil. Sejak bangsa ini masih dianggap bangsa yang belum akan mampu membuat pegas mobil. Sejak bangsa ini baru dianggap mampunya bercocok tanam.
Rianto mampu membaca angin. Membaca datangnya angin. Membaca ke arah mana angin bertiup. Bahkan Rianto mampu menunggangi angin itu!
Angin yang akan datang saat itu adalah: pembangunan ekonomi. Angin yang akan ditinggalkan adalah politik. Perpindahan angin dari arah politik ke arah ekonomi inilah yang dibaca Rianto. Pembangunan ekonomi memerlukan alat angkut yang cepat. Itu berarti mobil. Mobil akan membanjir. Mobil perlu onderdil. Onderdil yang diincar Rianto adalah pegas alias per. Baik per jenis daun maupun per jenis ulir.
Mobil kian banyak. Kian membanjir. Kian memadati jalan. Keperluan pernya naik terus. Rianto dengan Indospring-nya terus mampu memenuhi kebutuhan itu. Jumlahnya maupun kualitasnya.
Kini dan sejak dulu, sejak awalnya, Indospring menjadi produsen per terbesar di Indonesia. Sepanjang sejarahnya.
Tentu tidak ada yang kebetulan. Pilihan bisnis pegas itu bukan datang begitu saja. Bukan pilihan yang dikasih oleh orang. Rianto tidak akan bisa menunggang angin pegas itu kalau tidak kenal dunia pegas sama sekali. Rianto tidak sekadar kenal pegas. Dia mengenalnya dengan baik. Lahirnya. Dan batinnya. Rianto pernah dibuat senang oleh pegas. Rianto pernah dibuat jengkel oleh pegas. Pernah dibuat putus asa oleh pegas. Pernah dibuat rugi oleh pegas. Komplet.
Kapan itu terjadi?
Itu terjadi saat Rianto masih remaja. Saat dia memutuskan berhenti sekolah. Saat dia baru kelas 2 SMP Tionghoa di kota kelahirannya di Malang.
Logika berpikirnya istimewa sejak SMP. Sama-sama tidak akan bisa melanjutkan sekolah ke SMA, untuk apa menamatkan SMP? Maka dia putuskan berhenti di kelas 2 SMP. Bekal untuk tulis-menulis cukup. Bekal untuk membaca cukup. Lebih baik bisa segera bekerja. Membantu kakak sulungnya. Ikut mengatasi ekonomi orang tuanya yang terpaksa menutup tokonya di pinggiran Kota Malang.
Waktu itu, pertengahan tahun 1940-an, belum ada SMA Tionghoa di Malang. Kalau mau melanjutkan ke SMA harus pergi ke Tiongkok. Dia tidak mau. Dia benar-benar jatuh cinta di Jawa.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
