Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 November 2016 | 23.15 WIB

Habiskan Waktu di Pohon Baca

MENARIK MINAT: Sejumlah pelajar SDN Pucang 2.membaca buku yang digantung di pohon-pohon. - Image

MENARIK MINAT: Sejumlah pelajar SDN Pucang 2.membaca buku yang digantung di pohon-pohon.

JawaPos.com – Buku-buku bacaan terlihat bergelantungan di pohon ruang kantor SDN Pucang 2 Sidoarjo Jumat (4/11). Ada buku tentang cerita binatang mamalia, sejarah, hingga dinosaurus.



Para siswa pun langsung mengambil satu per satu buku tersebut. Lalu, mereka membacanya sambil duduk di kursi. Di antara siswa itu, ada Sabrina Nazwa, Devinta Aprilianto, dan Rifaty Karimah.



Anak-anak kelas V tersebut begitu asyik membaca buku yang bergelantungan. Mereka menyebutnya dengan pohon baca. Hampir setiap istirahat dan pulang sekolah, mereka memanfaatkan waktu luang untuk menikmati buku-buku di pohon baca.



Kepala SDN Pucang 2 Yunis Rasmiyanti mengatakan, ide membuat pohon buku tersebut muncul sejak enam bulan lalu. Dia bersama guru-guru kelas mengumpulkan buku cerita anak-anak dan menggantungnya di setiap batang pohon.



Buku-buku tersebut menjulur ke bawah seperti akar pohon sehingga anak-anak mudah meraihnya.



’’Kami ingin menggerakkan budaya literasi di sekolah. Selama ini anak-anak cenderung malas datang ke perpustakaan,” ungkapnya.



Kali pertama ide itu direalisasikan, respons siswa sangat bagus. Anak-anak lebih tertarik membaca dalam suasana terbuka. Selain itu, ada sensasi lain ketika memilih jenis buku bacaan yang digantung.



’’Setiap istirahat dan pulang sekolah, pohon baca pasti ramai anak-anak,” ujarnya. Koleksi buku di pohon baca selalu di-update. Biasanya update dilakukan tiga hari sekali.



Namun, banyak siswa yang protes karena pergantian buku baru terlalu cepat. Padahal, masih banyak siswa yang belum selesai membaca buku lama. ’’Jadi, sekarang kami mengganti koleksi bukunya seminggu sekali,” ucap Yunis.



Pohon baca tersebut sejatinya dibuat untuk mengikis kebiasaan siswa menggunakan gadget. Sebab, selama ini banyak anak yang gemar bermain gadget. Padahal, dampak radiasi gadget terhadap anak-anak sangat buruk.



Salah satunya, mengakibatkan gangguan pada saraf mata dan perkembangan otak anak. ’’Kami alihkan perhatian anak dengan kegiatan yang positif,” jelasnya.



Selain pohon baca, lanjut dia, sekolah menyediakan alat-alat tradisional untuk bermain. Di antaranya, permainan dakon dan catur. Bahkan, pihaknya juga membatasi penggunaan gadget di sekolah.



’’Saya melarang anak menggunakan gadget di dalam sekolah. Kecuali ketika memang untuk berkomunikasi dengan orang tua. Kami benar-benar mengawasinya,” tandasnya. (ayu/c7/hud/sep/JPG)

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore