Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Mei 2017 | 18.38 WIB

Sedekah Bumi Bertema Sandang, Pangan, dan Papan

DUA KALI SETAHUN: Arak-arakan menuju geladak pelelangan ikan dalam sedekah bumi Minggu (7/5) di Gisik Cemandi, Sidoarjo. - Image

DUA KALI SETAHUN: Arak-arakan menuju geladak pelelangan ikan dalam sedekah bumi Minggu (7/5) di Gisik Cemandi, Sidoarjo.


JawaPos.com – Daya tarik program Desa Melangkah sangat besar. Itu terlihat dari animo desa-desa untuk bergabung dengan Desa Melangkah 2017. Program pemberdayaan masyarakat desa yang digagas Jawa Pos dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) yang memasuki tahun kedua.



Tahun ini 154 desa dari 12 kecamatan di seluruh wilayah Kabupaten Sidoarjo ikut berpartisipasi. Pada Desa Melangkah 2016, yang bergabung hanya 66 desa dari 10 kecamatan. Pagi ini Desa Melangkah 2017 resmi di-launching di Pendapa Delta Wibawa. Bupati Saiful Ilah dijadwalkan meresmikan program tersebut secara langsung.



Tahun ini banyak perbedaan dari pelaksanaan Desa Melangkah sebelumnya. Salah satunya, penekanan pelatihan pembentukan badan usaha milik desa (BUMDes) yang semakin masif. BUMDes di desa-desa yang bergabung ke dalam program Desa Melangkah ditargetkan semakin banyak. Selain itu, pengembangan kapasitas penyuluhan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Harapannya, muncul kemandirian ekonomi desa melalui UMKM.



Karena itu, Desa Melangkah akan menjembatani pameran UMKM ke luar kota dua kali setahun. Pelatihan UMKM dalam hal packaging langsung mendatangkan dari praktisi International Trade Promotion Center (ITPC) di Los Angeles.



Marketing Manager Jawa Pos sekaligus Penanggung Jawab Program Desa Melangkah Rahmat Kartolo berharap desa-desa bisa bersinergi dengan baik. Tidak hanya menunggu pelatihan atau program yang ditawarkan, tetapi berperan aktif dalam penggarapan program itu sendiri. ’’Pelatihan dan penyuluhan kan buat kemajuan desa sendiri. Jadi, kami berharap bisa dapat masukan yang membangun untuk programnya seperti apa. Kalau sudah satu frekuensi kan enak,’’ katanya.



Sementara itu, Desa Gisik Cemandi, Sedati, kemarin (7/5) melangsungkan sedekah bumi. ’’Ayune rek perangkatku.’’ Guyonan itu keluar dari Suwandi saat menjadi pembawa acara. Pria yang kemarin bertugas sebagai panitia tersebut juga merupakan salah seorang perangkat Desa Gisik Cemandi. Dia melihat sejawatnya yang datang mengenakan pakaian tradisional. Berkebaya lengkap dengan jarit. Suwandi pun memulai candanya.



Sejak pukul 07.00 warga berkumpul di Balai Dusun Gebang. Mereka mengenakan kostum yang beraneka ragam. Mulai kostum daur ulang yang dipakai ibu-ibu sampai pakaian kebesaran penari reog oleh bapak-bapak. Sementara itu, para pemain musik patrol memakai batik beserta udeng.



Dalam acara tersebut, terdapat tumpeng raksasa yang berisi hasil pertanian berupa sayuran. Antara lain, terong, wortel, jagung, dan sawi. Selain itu, buah-buahan turut memperkaya hasil alam Desa Gisik Cemandi. Di antaranya, semangka dan blewah. Gunungan tumpeng dibentuk layaknya rumah. Pelaksanaan sedekah bumi kemarin bertema Sandang, Pangan, dan Papan.



Kepala Desa Gisik Cemandi Supriyadi mengatakan, sandang yang semakin baik terlihat dari keragaman kostum masyarakat. Papan diibaratkan gunungan yang berbentuk rumah. Padi, sayuran, dan buah-buahan yang menghiasi tumpeng menjadi perlambang pangan.



’’Di sini setiap tahun ruwah desa dua kali. Satu kali petik laut. Satu kali lagi sedekah bumi dari hasil pertanian,’’ ungkapnya. Kekayaan alam Desa Gisik Cemandi ada dua. Yakni, hasil ikan dari Dusun Gisik Cemandi dan areal persawahan di Dusun Gebang. (via/c15/dio/sep/JPG)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore