Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Juni 2017 | 18.08 WIB

Kenang Masa Lalu Wali Kota Soekotjo

BUKA MEMORI: Siti Suprapti bercerita tentang mendiang suami dengan ditemani anak sulungnya, Wahyono. Terlihat foto keluarga Soekotjo di rumah dinas wali kota Surabaya. - Image

BUKA MEMORI: Siti Suprapti bercerita tentang mendiang suami dengan ditemani anak sulungnya, Wahyono. Terlihat foto keluarga Soekotjo di rumah dinas wali kota Surabaya.


JawaPos.com – Foto hitam putih itu dipegang oleh tangan rapuh Siti Suprapti Soekotjo, istri Raden Soekotjo, dengan penuh cinta. Foto tersebut menjadi saksi sejarah saat Komandan Kodim Surabaya itu menjabat wali kota Surabaya.



Foto tersebut menggambarkan keluarga Soekotjo menempati rumah dinas wali kota pada 1964. Ya, Soekotjo adalah wali kota pertama Surabaya di era Orde Baru. Dia menjabat pada 1964 sampai 1974. Soekotjo pula yang menginisiatori perubahan tanggal hari jadi Surabaya. Dulu, hari jadi Surabaya adalah 1 April 1906, bukan 31 Mei 1293.



Dalam foto tersebut terlihat betul wajah Siti yang masih muda. Ada juga empat anaknya, kurang satu anak. Sebab, si sulung, Wahyono Soekotjo, saat itu kabur untuk berenang di kolam air mancur balai kota. ’’Saya ingat benar hari pindahannya itu, kami berjalan kaki dari rumah dinas kodim di ujung Jalan Yos Sudarso Balai Kota,’’ kenang Siti saat ditemui di rumah peninggalan Soekotjo, Jalan Kartini Nomor 1, Surabaya. Jawa Pos berkunjung ke sana bersama anggota Komisi C DPRD Surabaya Vinsensius Awey.



Perempuan yang kini berusia 82 tahun tersebut dengan semangat menceritakan kiprah sang suami saat ditunjuk Menteri Dalam Negeri Basuki Rahmat untuk memimpin Kota Madya Surabaya. Saat itu wali kota bukan pekerjaan idaman. Sebab, situasi kota masih labil dan ekonomi lesu. Namun, Soekotjo hanya bisa menjawab siap atas perintah tersebut.



Dengan bekal sifat disiplin, tegas, dan ngoyo, Soekotjo membangun fondasi-fondasi kota yang kini hasilnya dinikmati masyarakat Surabaya. Misalnya, Jalan Gubeng Raya dan Kalianak yang saat ini melintas lebar. Dua jalan tersebut merupakan warisan sang komandan. Bahkan, Soekotjo sampai turun ke lapangan untuk melakukan penertiban. ’’Saya juga masih ingat kalau PT SIER itu dulu didirikan di zaman bapak. Dia ingin menyaingi kawasan Pulogadung, Jakarta. Sampai sekarang, ibu masih menyimpan kliping koran Jawa Pos soal berita itu,’’ ungkap Wahyono yang mendampingi Siti.



Namun, di tengah semua upaya pembangunan tersebut, Soekotjo masih menyimpan darah pejuang yang bergelora. Benar, Indonesia sudah merdeka 20 tahun lebih saat dia menjabat wali kota. Namun, hati pria kelahiran Kediri itu terganjal saat tahu bahwa tanggal jadi Surabaya merupakan warisan pemerintah Belanda.



Menurut Siti, Pak Kotjo paham betul, dirinya tak mungkin bisa menentukaan tanggal hari jadi dengan dasar sejarah yang ajek. Hal tersebut membuat dia membentuk tim pakar sejarah untuk menentukan tanggal HUT Surabaya dengan kearifan lokal. ’’Bapak memang sukanya begitu. Dia sendiri mengaku tak mengerti soal pemerintahan. Karena itu, dia selalu menerima masukan untuk memutuskan sesuatu,’’ ungkapnya.



Sayangnya, warisan terakhirnya tidak bisa diselesaikan hingga tuntas. Karena alasan kesehatan, Soekotjo tidak bisa melanjutkan kepemimpinan untuk periode berikutnya. Ayah lima anak itu akhirnya memutuskan untuk menjadi peternak ayam di Trawas, Mojokerto.



Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Surabaya Vinsensius mengatakan beruntung bisa bertemu dengan keluarga pahlawan modern Surabaya. Dia berharap pertemuannya dengan Siti dan Wahyono bisa memberikan perspektif baru. (bil/c7/oni)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore