Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Agustus 2017 | 03.10 WIB

Terinspirasi Era Majapahit, Pedagang Bersatu demi Tanah Air

KEBERANIAN MASA SILAM: Adegan yang menggambarkan peperangan antara pasukan Majapahit dan tentara tartar yang dipentaskan Sabtu (26/8) malam. - Image

KEBERANIAN MASA SILAM: Adegan yang menggambarkan peperangan antara pasukan Majapahit dan tentara tartar yang dipentaskan Sabtu (26/8) malam.

JawaPos.com – Hayam Wuruk beserta enam prajuritnya berjalan menyibak keramaian Convention Hall Tunjungan Plaza, Minggu (27/8) malam. Berpakaian serbaemas dengan membawa tongkat, penampilan para pasukan menjadi sorotan pengunjung The ”M” Grand Movement tersebut.


Acara itu dihelat Ksatryan Majapahit yang dipelopori Paulus Sugialam. Paulus merupakan konseptor, sutradara, sekaligus penulis skenario cerita. Drama ditampilkan pada pukul 19.30. Selama 10 menit, drama kolosal tersebut menyuguhkan cerita singkat tentang kedatangan tentara tartar dari Mongolia. Rombongan tentara datang memorak-porandakan tanah air.


Hampir seluruh wilayah diserang. Termasuk Jawa yang kala itu dipimpin Majapahit. Mereka menyerang Majapahit melalui jalur laut. Cerita tersebut mengambil latar belakang pesisir. Di sana, para pedagang dari berbagai daerah bertemu. Satu per satu perwakilan setiap daerah memperkenalkan diri sambil menari.


Mereka adalah para pedagang dari Jawa, Tiongkok, Madura, India, dan Medan. Tak hanya oleh kemampuan akting para pemain, penonton juga dihibur tarian energik masing-masing perwakilan.
Tengok saja pedagang dari India. Dia mengucapkan salam, lalu beraksi dengan menari perut.


Setelah itu, disusul aksi ala B-boy dancer oleh perwakilan dari Madura dan Medan. Melihat rakyatnya hidup damai, Hayam Wuruk tampak gembira. Dia menghampiri mereka ke atas panggung sambil menebar senyum.


Namun, kegembiraan tersebut lenyap seketika saat para tentara tartar menyerang. Pasar yang tadinya ramai menjadi lautan api karena serangan tersebut. Para pedagang berlarian menyelamatkan diri. Barang-barang dagangan seperti sayur dan buah sebisanya dibawa lari ke tempat persembunyian.


Tak tinggal diam, Hayam Wuruk mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan wilayah. Perang pun terjadi. Pasukan Majapahit maju dengan tombak sebagai senjata. Apa daya, pasukan Majapahit kalah. Satu per satu mereka mati. Sementara itu, sisanya yang terluka kembali ke kerajaan.


Melihat hal tersebut, para pedagang berinisiatif membantu. Mereka keluar dari persembunyian dan ikut dalam peperangan. Para pedagang menggunakan buah-buahan, sayur, keranjang, dan barang-barang seadanya untuk berperang. Kekuatan pasukan Majapahit bertambah sehingga mampu mendesak mundur tentara tartar.


Pasukan tartar lari dengan menggunakan kapal yang didesain bisa bergerak di atas panggung. Ending-nya, pasukan Majapahit dan pedagang menenggelamkan kapal milik tentara tartar.
Memang, Paulus ingin menyampaikan pesan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri.


Melalui Raja Hayam Wuruk, generasi muda diharapkan dapat belajar mengenai toleransi. ”Drama ini mengangkat kisah saat pluralisme dipersatukan oleh satu tujuan Bhinneka Tunggal Ika. Maka, serangan apa pun dari luar tidak akan bisa memecah belah kita,” ujar Paulus.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore