
BERMASALAH: Proyek saluran drainase di Jalan Dr Soetomo belum selesai dikerjakan meski sudah menjelang masa kontrak habis pada Desember mendatang.
JawaPos.com – Temuan proyek-proyek macet bermunculan. Jelang akhir 2016, tercatat 13 proyek belum selesai sampai akhir masa kontrak. Beberapa proyek bakal diputus kontrak karena pelaksananya sudah menyerah.
Penawaran terlalu murah. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Gresik Bambang Isdianto menyatakan sudah menjatuhkan denda terhadap 13 pelaksana proyek.
Sebagian besar proyek yang terlambat adalah pekerjaan infrastruktur jaringan drainase. Ada juga pemeliharaan jalan atau jembatan.
Mengapa proyek terlambat? Dinas PU Gresik, kata Bambang, sudah mengklarifikasi. Hasilnya, faktor utama penyebab 13 proyek itu telat adalah problem teknis. Misalnya, penyediaan box culvert yang telat hingga problem cuaca.
Bagaimana dampak harga yang murah? Bambang menepis kabar tersebut. Menurut dia, banyak proyek infrastruktur yang bisa selesai meski harganya jauh lebih rendah daripada penawaran awal.
”Jadi, lebih pada faktor teknis,” ujarnya. Realisasi proyek infrastruktur pada 2016 diwarnai fenomena jor-joran harga saat lelang. Antar-rekanan bersaing menawar jauh di bawah pagu.
Penurunannya tercatat 15–35 persen dari pagu awal. Di satu sisi, fenomena tersebut dinilai positif karena bisa menghemat anggaran daerah.
Namun, di sisi lain, kualitas proyek dikhawatirkan jelek dan kelangsungan proyek tidak jelas. Temuan Jawa Pos di lapangan menyebutkan, jor-joran harga merupakan pemicu negatif fenomena proyek bermasalah.
Sebab, di antara 13 proyek yang telat, sebagian besar nilainya turun signifikan dari pagu awal. Misalnya, proyek saluran di Raya Morowudi Cerme. Proyek tersebut seharusnya selesai akhir Oktober.
Namun, realisasinya baru mencapai 20 persen. Pagu awal proyek Rp 1,9 miliar, tetapi kontraktor pemenang berani menawar Rp 1,35 miliar.
Komisi C (pembangunan) DPRD Gresik menyatakan, kontraktor proyek itu sudah angkat tangan. Proyek tersebut bakal dihentikan.
”Sejak awal, kami yakin proyek ini bakal terhenti karena terlalu murah,” kata Ketua Komisi C M. Syafi’AM. Kondisi sama terjadi pada proyek saluran di Jalan Wahidin. Sampai saat ini, proyek itu belum tuntas.
Padahal, sesuai kontrak, proyek tersebut harus selesai pada 15 September. Harganya pun turun signifikan. Pagu awal Rp 1,8 miliar, tetapi kontraktor berani menawar Rp 1,5 miliar. (ris/c21/roz/sep/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
