Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 November 2016 | 22.54 WIB

Proyek Bermasalah, Kontraktor Menyerah

BERMASALAH: Proyek saluran drainase di Jalan Dr Soetomo belum selesai dikerjakan meski sudah menjelang masa kontrak habis pada Desember mendatang. - Image

BERMASALAH: Proyek saluran drainase di Jalan Dr Soetomo belum selesai dikerjakan meski sudah menjelang masa kontrak habis pada Desember mendatang.

JawaPos.com – Temuan proyek-proyek macet bermunculan. Jelang akhir 2016, tercatat 13 proyek belum selesai sampai akhir masa kontrak. Beberapa proyek bakal diputus kontrak karena pelaksananya sudah menyerah.



Penawaran terlalu murah. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Gresik Bambang Isdianto menyatakan sudah menjatuhkan denda terhadap 13 pelaksana proyek.



Sebagian besar proyek yang terlambat adalah pekerjaan infrastruktur jaringan drainase. Ada juga pemeliharaan jalan atau jembatan.



Mengapa proyek terlambat? Dinas PU Gresik, kata Bambang, sudah mengklarifikasi. Hasilnya, faktor utama penyebab 13 proyek itu telat adalah problem teknis. Misalnya, penyediaan box culvert yang telat hingga problem cuaca.



Bagaimana dampak harga yang murah? Bambang menepis kabar tersebut. Menurut dia, banyak proyek infrastruktur yang bisa selesai meski harganya jauh lebih rendah daripada penawaran awal.



”Jadi, lebih pada faktor teknis,” ujarnya. Realisasi proyek infrastruktur pada 2016 diwarnai fenomena jor-joran harga saat lelang. Antar-rekanan bersaing menawar jauh di bawah pagu.



Penurunannya tercatat 15–35 persen dari pagu awal. Di satu sisi, fenomena tersebut dinilai positif karena bisa menghemat anggaran daerah.



Namun, di sisi lain, kualitas proyek dikhawatirkan jelek dan kelangsungan proyek tidak jelas. Temuan Jawa Pos di lapangan menyebutkan, jor-joran harga merupakan pemicu negatif fenomena proyek bermasalah.



Sebab, di antara 13 proyek yang telat, sebagian besar nilainya turun signifikan dari pagu awal. Misalnya, proyek saluran di Raya Morowudi Cerme. Proyek tersebut seharusnya selesai akhir Oktober.



Namun, realisasinya baru mencapai 20 persen. Pagu awal proyek Rp 1,9 miliar, tetapi kontraktor pemenang berani menawar Rp 1,35 miliar.



Komisi C (pembangunan) DPRD Gresik menyatakan, kontraktor proyek itu sudah angkat tangan. Proyek tersebut bakal dihentikan.



”Sejak awal, kami yakin proyek ini bakal terhenti karena terlalu murah,” kata Ketua Komisi C M. Syafi’AM. Kondisi sama terjadi pada proyek saluran di Jalan Wahidin. Sampai saat ini, proyek itu belum tuntas.



Padahal, sesuai kontrak, proyek tersebut harus selesai pada 15 September. Harganya pun turun signifikan. Pagu awal Rp 1,8 miliar, tetapi kontraktor berani menawar Rp 1,5 miliar. (ris/c21/roz/sep/JPG)

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore