Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 November 2017 | 01.27 WIB

Leptospirosis Muncul Lagi di Surabaya, Seorang Warga Meninggal

GOTONG ROYONG: Rumah korban diuruk agar tidak ada lagi tikus. - Image

GOTONG ROYONG: Rumah korban diuruk agar tidak ada lagi tikus.

JawaPos.com- Setelah lima tahun, kasus leptospirosis kembali muncul di Surabaya. Kasus tersebut terjadi di Dukuh Karangan, Kelurahan Babatan, Kecamatan Wiyung. Bahkan, penyakit yang disebabkan air kencing tikus yang terinfeksi bakteri leptospira itu telah mengakibatkan salah seorang warga meninggal dunia.


Kini kasus itu mendapat pengawasan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya dan Jawa Timur. Salah seorang warga yang diduga terkena leptospirosis hingga meninggal tersebut bernama Sukatono. Pria 49 tahun itu meninggal setelah seminggu sakit.


Awalnya Sukatono mengalami demam tinggi. Badan terasa pegal hingga membuatnya sulit berdiri. Matanya sedikit menguning. Pihak keluarga membawa Sukatono ke Puskesmas Wiyung. Kemudian, dia menjalani rawat jalan. ’’Pak Sukatono selama ini jarang sakit. Jadi, keluarganya mengira hanya demam dan asam urat tinggi,” kata Sigit Nur Cahyono, ketua RT 10, RW 03, Kelurahan Babatan, Wiyung.


Pada Sabtu (18/11), Sigit melihat bukan hanya Sukatono yang sakit. Suparmi, istri Sukatono, juga sakit. Gejalanya pun sama dengan Sukatono. Panas, mata menguning, dan sulit berjalan. Kemudian, Sukatono dan Suparmi dirawat di RS Wiyung Sejahtera.


Namun, kondisi Sukatono semakin parah. Dia meninggal di rumah sakit. Sementara itu, Suparmi masih dirawat di rumah sakit. Kemudian, dua di antara empat anak Sukatono dan Suparmi juga mengalami demam. ’’Saya curiga. Kenapa kok sakit semua,’’ ujarnya.


Sigit mengatakan, saat memandikan jenazah, dirinya bertanya langsung kepada petugas kesehatan di Puskesmas Wiyung. Dari situlah, dia mendapatkan informasi bahwa Sukatono dan Suparmi diduga terkena leptospirosis. Penyakit yang disebabkan bakteri leptospira melalui air kencing tikus.


Mengetahui hal tersebut, Sigit langsung menelepon 112 Surabaya. Dia menjelaskan kondisi yang dialami keluarga Sukatono. Pada Minggu (19/11), tim linmas turun ke lapangan.


Rumah Sukatono dibersihkan. Seluruh perabotan rumah dibuang untuk menghindari persebaran bakteri leptospira. ’’Kami tidak ingin ada korban lagi. Jadi, lebih baik seluruh rumah dibersihkan agar bebas dari bakteri leptospira,” ujarnya. Sebab, sebagian besar warga juga resah lantaran penyakit tersebut.


Penyakit yang bisa menyerang ginjal dan liver dengan cepat itu membuat warga khawatir. Seluruh warga akhirnya secara swadaya membangun rumah Sukatono dan Suparmi. ’’Ini semua swadaya. Kami bantu bersihkan isi rumah,” katanya.


Sigit menuturkan, sejatinya lingkungan sekitar Dukuh Karangan itu sudah cukup bersih. Kegiatan kebersihan lingkungan juga rutin dilakukan. Namun, kondisi di dalam rumah pasien jauh berbeda. Selain kotor, banyak tikus yang ditemukan di dalam rumah sederhana itu. ’’Banyak tikus yang kami temukan. Langsung kami bunuh,” ungkapnya.


Petugas linmas pun membersihkan rumah Sukatono. Seluruh isi rumah sudah dibuang. Tidak ada perabotan sama sekali. Petugas linmas juga menguruk lantai rumah dengan tanah.


Selain linmas yang terus membersihkan dan mencari tikus-tikus di dalam rumah korban, petugas Dinkes Jatim dan Surabaya ikut turun ke lapangan. Mereka memberikan penyuluhan kepada warga sekitar RT 10, RW 03, Kelurahan Babatan. Petugas dari Dinkes Surabaya dan Puskesmas Wiyung juga membuka posko untuk pemeriksaan kesehatan warga. Mulai tensi hingga pemeriksaan sampel darah (rapid test).


Kepala Dinkes Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, pasien yang kini dirawat di RS Universitas Airlangga (RSUA) masih suspect leptospirosis. Termasuk dua anaknya. ’’Ibu Suparmi masih dirawat inap. Dua anaknya sudah rawat jalan,” katanya.


Sampel darah Suparmi sudah diperiksa dan hasilnya negatif. Namun, hasil rapid test satu di antara dua anaknya yang diperiksa ternyata positif. Tiga sampel darah tersebut dikirim ke RSU Pusat dr Kariadi, Semarang. ’’Kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Ini masih suspect leptospirosis,” ujarnya.


Perempuan yang biasa disapa Feni itu menuturkan, saat musim hujan masyarakat tidak hanya waspada terhadap nyamuk Aedes aegypti yang mengakibatkan demam berdarah. Namun, juga harus waspada terhadap tikus. ’’Tikus yang terkena bakteri leptospira itu bisa menularkan ke manusia. Dan, itu sangat berbahaya,” katanya.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore