
BERDARAH INDONESIA: Tawatha Camilla Steendam kaget dengan jam kerja dokter di Indonesia.
JawaPos.com - Tawatha Camilla Steendam baru saja menyelesaikan S-1 pada Juli. Meski baru lulus, keinginan Tawatha untuk belajar tidak pupus. Dia langsung melanjutkan studi dengan melakukan penelitian. Perempuan itu tidak ingin menyia-nyiakan masa mudanya. Riwayat hidupnya harus berisi banyak prestasi.
”Aku tertarik dengan cedera plexus brachialis. Tetapi, di negara asalku, Belanda, kasusnya tidak banyak,” ujarnya saat ditemui di perpustakaan SMF ortopedi RSUD dr Soetomo, Surabaya, Selasa (28/11). Di rumah sakit milik Pemprov Jatim itu, cedera akibat kecelakaan memang sangat tinggi. Ribuan kasus per tahun.
Di Belanda, hanya ada 30 kasus saban tahun. Tentu saja, kesempatannya untuk mempelajari cedera itu kian sulit. Plexus brachialis adalah anyaman jaringan saraf yang berada di daerah leher, ketiak, hingga lengan. Ia berperan penting sebagai sensor dan motor sebagian anggota gerak atas.
Kesempatan yang diberikan oleh Leiden University, tempatnya menimba ilmu, tidak disia-siakan. Perempuan yang memang punya darah Indonesia itu menjadi dokter magang di Indonesia. Dia tiba pada 6 November.
Keesokannya, dia diajak oleh Dr dr Heri Suroto SpOT (K) untuk ikut seminar di Aceh selama satu minggu. Pada minggu berikutnya, dia kembali diajak oleh Heri untuk mengikuti seminar di Taipei, Taiwan. Jika dihitung, Tawatha baru benar-benar tinggal di Surabaya sejak 20 November.
”Sempat mengalami culture shock saat pertama datang ke sini. Keruwetan jalan di sini luar biasa,” tuturnya sambil bergidik.
Berasal dari negara yang lalu lintasnya tertata rapi, tentu Tawatha merasa kaget dengan kondisi jalanan Surabaya yang begitu padat. Apalagi, tidak sedikit pengendara yang ngawur melajukan kendaraannya.
Hal itu membuatnya tidak berani berkendara sendiri. Padahal, jika di Belanda, Tawatha akan dengan senang hati naik sepeda dari rumah hingga ke tempat kuliah.
Di sini, dia lebih memilih naik ojek maupun taksi online. Meski begitu, masih ada sedikit rasa waswas setiap dia menumpang ojek online. ”Kaget di jalan melihat sepeda motor ditumpangi empat orang. Astaga, Tuhan. Itu sangat berbahaya,” lanjutnya ngeri.
Tidak hanya soal para pengendara, dia juga kaget dengan sistem kerja para dokter di Indonesia. Satu dokter sampai bekerja di tiga tempat. Bahkan, jam kerjanya bisa berakhir hingga pukul 23.00.
Sebuah kondisi yang tidak pernah ditemui Tawatha di lingkungan tempat tinggalnya. Jumlah pasien di Indonesia memang terlalu banyak jika dibandingkan dengan dokter spesialis yang ada.
Bukan hanya soal jam kerja. Di Belanda, para dokter spesialis bedah yang berpraktik biasanya punya jurnal yang banyak. Tetapi, di Indonesia tidak seperti itu. Para dokter bisa benar-benar ahli lantaran kesempatan praktik sangat banyak. Kasus melimpah.
”Ini sebenarnya antara sedih dan senang. Sedih karena kasusnya banyak korban, tetapi ya senang bisa belajar lebih dalam,” ujarnya dengan senyum canggung.
Rasa sedihnya itu bukan sekadar empati. Tetapi, karena di dalam tubuhnya juga mengalir darah Indonesia. Sang kakek berasal dari Mojokerto, sementara neneknya dari Jakarta. ”Wajah mereka Indonesia banget. Tetapi, keluargaku pindah ke Belanda sejak Jepang datang ke Indonesia,” ucap Tawatha.
Karena itu, tidak banyak budaya Indonesia yang dikenal olehnya. Bahkan Tawatha tidak terlalu mengerti bahasa Indonesia. Jika ingin berkomunikasi dengan warga pribumi, dia mengandalkan penerjemah Google.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
